Ayat 107:4
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ
Celakalah orang-orang yang bersalat,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَfa-waylun li-l-mushalliinacelakalah orang-orang yang bersalat
Terjemahan per kata (2 kata)
- فَوَيْلٌfa-waylunmaka celaka
- لِلْمُصَلِّينَli-l-mushalliinabagi orang-orang yang bersalat
Inti bacaan
Peringatan mengejutkan yang menyasar praktik ibadah: 'celakalah orang-orang yang bersalat', pernyataan yang tampak paradoks, kutukan justru diarahkan pada mereka yang menjalankan ritual salat, mempersiapkan kejutan bahwa masalahnya bukan pada tindakan itu sendiri.
Penjelasan pilihan kata
Kata (فَوَيْلٌ, fa-waylun) dibuka dengan huruf penghubung yang menyimpulkan, sehingga ancaman di ayat ini terikat kepada dua bukti sebelumnya dan bukan berdiri sendiri. Rangkaian celaka yang diikuti huruf lam dipakai di 12 ayat, antara lain di 2:79, 83:1, 104:1, dan ayat ini. Yang berbeda di sini adalah siapa yang disebut sesudahnya.
Kata (لِلْمُصَلِّينَ, li-l-mushalliina) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti menghadap dalam doa. Ia dipakai di 90 ayat, dan di hampir seluruh pemakaiannya ia muncul dalam kalimat perintah, pujian, atau penyifatan orang beriman. Di 2:3 orang bertakwa disifati mendirikan salat, di 23:2 orang beriman disifati khusyuk dalam salatnya, dan di 108:2 datang perintah bersalat. Jadi bentuk pelaku dari akar ini muncul persis sekali, dan sekali itu ia berada sesudah kata celaka.
Susunan itulah yang paling perlu diperhatikan. Yang dicela bukan orang yang meninggalkan salat, melainkan orang yang mengerjakannya. Sebuah surah yang dibuka dengan pendustaan pertanggungjawaban dan dilanjutkan dengan anak yatim serta orang miskin, di ayat keempatnya berbelok kepada orang yang bersalat. Belokan itu tidak diberi satu pun kalimat pengantar.
Bahasa Indonesia menahannya dengan "celakalah orang-orang yang bersalat", tanpa menambahkan keterangan apa pun yang melunakkan. Menyisipkan kata seperti sebagian atau tertentu akan mendahului ayat berikutnya, sebab pembatasannya memang datang di 107:5 dan bukan di sini. Membaca ayat ini utuh sebagaimana tertulis berarti menerima kejutannya lebih dulu sebelum menerima keterangannya.
Bentuk jamak pada (لِلْمُصَلِّينَ, li-l-mushalliina) juga patut dicatat. Tiga ayat pertama surah ini seluruhnya berbentuk tunggal, yaitu satu orang yang mendustakan, menghardik, dan tidak mengajak. Mulai ayat ini bentuknya berubah menjadi jamak, dan bertahan jamak sampai ayat terakhir. Gambaran yang tadinya satu sosok melebar menjadi sekumpulan orang, dan pelebaran itu terjadi tepat ketika yang dibicarakan berpindah kepada orang yang beribadah.
Bandingkan ayat ini dengan 107:1. Surah dibuka dengan pertanyaan yang mengajak pendengarnya melihat seseorang dari luar, dan di sini yang dilihatnya ternyata berdiri di tempat yang sama dengan dirinya. Perpindahan itu terjadi tanpa satu pun kalimat yang menyatakannya. Pembaca yang tadi diajak memandang sosok jauh mendapati bahwa gambarannya bergeser mendekat, dan yang paling tidak nyaman dari surah ini adalah bahwa pergeseran itu tidak pernah diumumkan.
Yang perlu dijaga dalam membaca ayat ini adalah tidak mendahului ayat berikutnya. Ancaman di sini memang dialamatkan kepada sekumpulan orang yang bersalat, dan keterangan tentang siapa mereka datang sesudahnya. Membacanya sebagai celaan atas salat itu sendiri berarti berhenti di tengah kalimat panjang yang belum selesai, dan surah ini memang menyusun kalimatnya supaya berhenti di tengah terasa mustahil.
Tafsiran
Ayat ini beralih menegur orang-orang yang bersalat namun dengan kelalaian tertentu, dirinci di ayat berikutnya, dan belokan itu tidak diberi satu pun kalimat pengantar. Surah yang dibuka dengan pendustaan pertanggungjawaban, lalu anak yatim, lalu orang miskin, tiba-tiba menyebut orang yang mengerjakan salat.
Bentuk pelaku dari akar salat muncul persis 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan sekali itu ia berada sesudah kata celaka. Akar yang sama dipakai di 90 ayat, dan di hampir seluruh pemakaiannya ia muncul dalam kalimat perintah, pujian, atau penyifatan orang beriman. Di 2:3 orang bertakwa disifati mendirikan salat, dan di 108:2 datang perintah bersalat. Jadi satu-satunya tempat kata pelakunya muncul justru tempat ini.
Huruf penghubung di awal ayat menyimpulkan, bukan memulai. Ancaman ini terikat kepada dua bukti sebelumnya dan tidak berdiri sendiri. Yang menghardik anak yatim dan yang tidak mengajak memberi makan ternyata bukan orang yang jauh dari tempat ibadah. Surah ini menaruh keduanya dalam satu rangkaian tanpa menyatakan bahwa ia sedang menaruhnya bersama.
Bentuk jamaknya juga berubah di sini. Tiga ayat pertama seluruhnya tunggal, yaitu satu orang yang mendustakan, menghardik, dan tidak mengajak. Mulai ayat ini bentuknya jamak dan bertahan jamak sampai penutup. Gambaran yang tadinya satu sosok melebar menjadi sekumpulan orang, dan pelebaran itu terjadi tepat ketika yang dibicarakan berpindah kepada orang yang beribadah.
Renungan dan Hikmah
- Yang dicela Allah di ayat ini bukan orang yang meninggalkan salat, melainkan orang yang mengerjakannya. Bentuk pelaku dari akar salat muncul persis 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan sekali itu ia berada sesudah kata celaka. Akar yang sama dipakai di 90 ayat, dan di hampir seluruh pemakaiannya ia muncul dalam kalimat perintah atau pujian. Satu-satunya tempat kata pelakunya muncul justru tempat ini. Sebuah kata yang di seluruh Al-Qur'an cuma sekali dipakai, dan sekali itu sesudah kata celaka.
- Surah ini dibuka dengan pendustaan pertanggungjawaban, lalu anak yatim, lalu orang miskin, dan di ayat keempatnya tiba-tiba menyebut orang yang bersalat. Allah tidak memberi satu pun kalimat pengantar untuk belokan itu. Yang tadinya terbaca sebagai gambaran orang yang jauh dari ibadah berubah menjadi gambaran orang yang berada di dalamnya. Berapa jauh sebenarnya jarak antara dua sosok yang tadi terasa berbeda? Allah tidak menjawabnya, dan tidak dijawabnya membuat pertanyaan itu tinggal pada pembacanya.
- Huruf penghubung di awal ayat menyimpulkan, bukan memulai, sehingga ancaman ini terikat kepada dua bukti sebelumnya dan tidak berdiri sendiri. Yang menghardik anak yatim dan yang tidak mengajak memberi makan ternyata bukan orang yang jauh dari tempat ibadah. Allah menaruh keduanya dalam satu rangkaian tanpa menyatakan bahwa Dia sedang menaruhnya bersama, dan pembacanya sendiri yang harus menyambungkannya. Sambungan yang ditemukan sendiri lebih sulit dilepaskan daripada yang diterangkan.
- Ayat ini tidak memuat satu pun keterangan yang melunakkan. Tidak tertulis sebagian, tidak tertulis tertentu, dan tidak tertulis yang begini atau begitu. Pembatasannya memang datang, tetapi di ayat berikutnya, bukan di sini. Membaca ayat ini utuh sebagaimana tertulis berarti menerima kejutannya lebih dulu sebelum menerima keterangannya, dan urutan itu bagian dari caranya bekerja. Kejutan yang lebih dulu dilunakkan berhenti menjadi kejutan sama sekali.
- Tiga ayat pertama surah ini seluruhnya berbentuk tunggal, yaitu satu orang yang mendustakan, menghardik, dan tidak mengajak. Mulai ayat ini bentuknya berubah menjadi jamak, dan bertahan jamak sampai ayat terakhir. Gambaran yang tadinya satu sosok melebar menjadi sekumpulan orang, dan pelebaran itu terjadi tepat ketika yang dibicarakan Allah berpindah kepada orang yang beribadah. Yang tunggal masih bisa dianggap orang lain; yang jamak mulai sulit dipastikan tidak memuat dirinya.
- Rangkaian celaka yang diikuti huruf lam dipakai di 12 ayat, antara lain di 2:79, 83:1, 104:1, dan ayat ini. Di tempat-tempat lain yang disebut sesudahnya adalah orang yang menulis kitab dengan tangannya lalu mengatakan itu dari Allah, atau orang yang curang dalam takaran. Di sini yang disebut sesudahnya orang yang bersalat, dan perbedaan itulah yang membuat ayat ini berhenti di ingatan pembacanya. Rangkaian yang sudah dikenal berubah artinya oleh satu kata yang menyusul.
Ayat 107:5
الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
Yang lalai terhadap salatnya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَalladziina hum 'an shalaatihim saahuunayang lalai terhadap salatnya
Terjemahan per kata (5 kata)
- الَّذِينَalladziinaorang-orang yang
- هُمْhummereka
- عَنْ'andari
- صَلَاتِهِمْshalaatihimsalatnya
- سَاهُونَsaahuunalalai
Inti bacaan
Penjelasan yang mengungkap masalah sesungguhnya: '(yaitu) yang lalai terhadap salatnya', klarifikasi bahwa yang dikecam bukan pelaksanaan salat, melainkan kelalaian dalam menghayati maknanya, kritik terhadap ritual kosong tanpa kesadaran.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(yaitu)" tidak dipakai, sebab (الَّذِينَ, alladziina) di awal ayat sudah menyambung langsung kepada kata di ayat sebelumnya dan tidak memerlukan kata pembuka tambahan. Menyisipkannya akan mengubah hubungan kedua ayat menjadi lebih longgar daripada yang tertulis, padahal di Arabnya keduanya menempel tanpa jeda.
Kata (سَاهُونَ, saahuuna) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 51:11 dan 107:5. Akarnya berarti lalai. Ia juga cuma dipakai di 2 ayat itu saja, sehingga ia hapax akar sekaligus. Di 51:11 tertulis (فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ, fii ghamratin saahuuna), mereka yang terbenam dalam kelalaian lagi lupa. Jadi kata yang sama dipakai untuk keadaan yang terbenam dan untuk kelalaian terhadap salat, dan tidak dipakai di tempat lain mana pun.
Yang paling menentukan di ayat ini adalah kata depannya. Yang tertulis (عَنْ صَلَاتِهِمْ, 'an shalaatihim), lalai dari salatnya, bukan lalai di dalam salatnya. Kata depan yang dipakai menyatakan menjauh atau berpaling, bukan berada di dalam. Perbedaan itu memindahkan celaannya: yang disebut bukan pikiran yang mengembara ketika sedang bersalat, melainkan sikap terhadap salat itu sendiri. Padanan "yang lalai terhadap salatnya" menahan sisi berpaling itu tanpa menutup kemungkinan pembacaan yang lain.
Kata (صَلَاتِهِمْ, shalaatihim) memuat kata ganti kepemilikan jamak: salat mereka, milik mereka sendiri. Kepemilikan itu perlu dicatat sebab yang dilalaikan bukan sesuatu yang asing bagi mereka. Mereka mengerjakannya, mereka menyebutnya salat mereka, dan justru terhadap yang mereka miliki itulah mereka berpaling. Sesuatu yang dikerjakan tanpa diperhatikan tetap terhitung dikerjakan, dan justru itu yang membuatnya sulit dilihat oleh pelakunya.
Bentuk (سَاهُونَ, saahuuna) adalah bentuk pelaku, bukan kata kerja. Bentuk pelaku menyatakan keadaan yang melekat, bukan perbuatan yang sedang berlangsung pada satu saat. Jadi yang disebut bukan sekali lalai melainkan keadaan lalai yang menetap. Bentuk yang sama dipakai di 51:11 untuk keadaan terbenam, dan keduanya menggambarkan sesuatu yang tidak disadari orangnya sendiri, sebab orang yang tahu dirinya lalai sudah berhenti sepenuhnya lalai.
Yang tidak dituntut di ayat ini juga menerangkan. Tidak dituntut menambah jumlah salatnya, tidak dituntut memperpanjangnya, dan tidak dituntut menggantinya dengan bentuk lain. Yang ditunjuk sesuatu yang tidak terlihat dari luar sama sekali, yaitu ke mana orangnya menghadap ketika ia mengerjakannya. Sesuatu yang tidak terlihat dari luar juga tidak bisa diperbaiki dengan menambah yang terlihat, dan itulah yang membuat ayat ini sulit dikerjakan sebagai daftar perbaikan.
Tafsiran
Ayat ini merinci celaan tersebut: kelalaian terhadap makna salat mereka sendiri, dan yang paling menentukan adalah kata depan yang dipakai. Yang tertulis lalai dari salatnya, bukan lalai di dalam salatnya. Kata depan itu menyatakan menjauh atau berpaling, bukan berada di dalam.
Perbedaan itu memindahkan seluruh celaannya. Yang disebut bukan pikiran yang mengembara ketika sedang bersalat, sebab itu perkara yang dialami hampir setiap orang. Yang disebut sikap terhadap salat itu sendiri, yaitu memperlakukannya sebagai sesuatu yang dilewati, bukan sesuatu yang dituju. Salat tetap dikerjakan, dan justru karena tetap dikerjakan ia sulit dilihat sebagai masalah oleh pelakunya.
Kata yang dipakai untuk lalai muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 51:11 dan 107:5, dan akarnya juga cuma dipakai di 2 ayat itu. Yang satunya di 51:11, tentang mereka yang terbenam dalam kelalaian lagi lupa. Jadi kata yang sama menggambarkan keadaan terbenam dan kelalaian terhadap salat, dan keduanya menggambarkan sesuatu yang tidak disadari orangnya sendiri.
Bentuk katanya bentuk pelaku, bukan kata kerja, sehingga yang disebut keadaan yang melekat dan bukan perbuatan yang sedang berlangsung pada satu saat. Sesuatu yang melekat tidak punya awal dan akhir yang bisa ditunjuk, dan karena itu tidak pernah terasa sebagai kejadian. Orang yang tahu dirinya lalai sudah berhenti sepenuhnya lalai, dan itulah sebabnya ayat ini datang sebagai pemberitahuan dari luar.
Renungan dan Hikmah
- Yang tertulis lalai dari salatnya, bukan lalai di dalam salatnya. Kata depan yang dipakai Allah menyatakan menjauh atau berpaling, bukan berada di dalam. Perbedaan itu memindahkan seluruh celaannya. Yang disebut bukan pikiran yang mengembara ketika sedang bersalat, sebab itu perkara yang dialami hampir setiap orang. Yang disebut sikap terhadap salat itu sendiri, yaitu memperlakukannya sebagai sesuatu yang dilewati, bukan sesuatu yang dituju. Yang dilewati selalu selesai tepat waktu, dan justru itu yang membuatnya terasa beres.
- Kata yang dipakai untuk lalai di ayat ini muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 51:11 dan ayat ini, dan akarnya juga cuma dipakai di 2 ayat itu saja. Di 51:11 Allah menyebut mereka yang terbenam dalam kelalaian lagi lupa. Jadi satu kata menggambarkan keadaan terbenam dan kelalaian terhadap salat, dan tidak dipakai di tempat lain mana pun di seluruh Al-Qur'an. Kelangkaan sebesar itu menahan perhatian pada kedua tempat pemakaiannya sekaligus.
- Kata salat di ayat ini memuat kata ganti kepemilikan: salat mereka, milik mereka sendiri. Yang dilalaikan bukan sesuatu yang asing bagi mereka. Mereka mengerjakannya, mereka menyebutnya milik mereka, dan justru terhadap yang mereka miliki itulah mereka berpaling. Sesuatu yang tetap dikerjakan tetap terhitung dikerjakan, dan justru itu yang membuatnya paling sulit dilihat sebagai masalah oleh pelakunya sendiri. Daftar yang tercentang penuh tidak pernah mengundang pemeriksaan ulang.
- Bentuk kata yang dipakai adalah bentuk pelaku, bukan kata kerja, sehingga yang disebut keadaan yang melekat dan bukan perbuatan yang berlangsung pada satu saat. Sesuatu yang melekat tidak punya awal dan akhir yang bisa ditunjuk, dan karena itu tidak pernah terasa sebagai kejadian. Kapan seseorang terakhir kali menyadari bahwa ia sedang melewati sesuatu, bukan menujunya? Allah memakai bentuk yang menyatakan keadaan justru karena keadaan tidak punya tanggal.
- Orang yang tahu dirinya lalai sudah berhenti sepenuhnya lalai. Itulah sebabnya ayat ini datang sebagai pemberitahuan dari luar, bukan sebagai sesuatu yang bisa ditemukan sendiri. Allah memberitahukan keadaan yang menurut sifatnya tidak bisa dilihat oleh yang mengalaminya. Sebuah peringatan tentang kelalaian tidak bekerja seperti peringatan tentang perbuatan, sebab yang diperingatkan tidak sedang merasa mengerjakan apa pun yang keliru.
- Ayat ini tidak menyebut bahwa salatnya ditinggalkan. Salat itu tetap berdiri, tetap dikerjakan, dan tetap disebut milik mereka. Yang berubah cuma kedudukannya di dalam hidup orangnya. Allah tidak menuntut penambahan jumlah dan tidak menuntut penggantian bentuk. Yang ditunjuk sesuatu yang tidak terlihat dari luar sama sekali, dan karena tidak terlihat dari luar ia juga tidak bisa diperbaiki dengan menambah yang terlihat. Yang dicela di sini orang yang salatnya ada, bukan orang yang meninggalkannya, dan itu membuat ayat ini menyasar pembaca yang paling merasa aman.
Ayat 107:6
الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
Yang mereka itu berbuat ria,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَalladziina hum yuraa'uunayang mereka itu berbuat ria
Terjemahan per kata (3 kata)
- الَّذِينَalladziinaorang-orang yang
- هُمْhummereka
- يُرَاءُونَyuraa'uunaberbuat ria
Inti bacaan
Motif tersembunyi yang terungkap: 'yang mereka itu berbuat ria', pengungkapan bahwa ibadah yang dilakukan sesungguhnya untuk pamer, bukan ketulusan, kritik terhadap performa spiritual yang mengutamakan pengakuan manusia.
Penjelasan pilihan kata
Kata (يُرَاءُونَ, yuraa-uuna) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 4:142 dan 107:6. Di 4:142 tertulis (قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ, qaamuu kusaalaa yuraa-uuna n-naasa), apabila berdiri untuk salat mereka melakukannya dengan malas dan bermaksud riya di hadapan manusia. Jadi kedua kemunculan kata ini berada dalam pembicaraan tentang salat, dan tidak satu pun di luar itu.
Akar (يُرَاءُونَ, yuraa-uuna) berarti melihat dan menimbang, akar yang dipakai di 297 ayat dan artinya melihat. Bentuk yang dipakai di sini bentuk saling, sehingga artinya membuat diri dilihat orang lain. Jadi yang dicela bukan melihat dan bukan dilihat, melainkan mengerjakan sesuatu supaya dilihat. Perbuatan yang sama bisa dikerjakan dua orang dengan tampilan yang sama persis, dan yang membedakannya cuma ke arah mana wajah batinnya menghadap.
Akar itu jugalah akar kata pembuka surah ini. Di 107:1 tertulis (أَرَأَيْتَ, a-ra-ayta), tahukah engkau, dan di sini tertulis (يُرَاءُونَ, yuraa-uuna), mereka membuat diri dilihat. Surah ini dibuka dengan mengajak pendengarnya melihat dan hampir ditutup dengan mencela orang yang sibuk membuat dirinya dilihat. Kesejajaran itu tidak diterangkan oleh satu pun kalimat di dalam surahnya.
Susunan tiga ayat terakhir juga patut diperhatikan. Ayat 107:5 menyebut hubungan mereka dengan salatnya, ayat ini menyebut ke arah siapa perbuatan mereka menghadap, dan 107:7 menyebut apa yang mereka tahan dari orang lain. Ketiganya dirangkai dengan kata sambung yang sama dan tanpa satu pun keterangan yang menghubungkan sebabnya. Yang berpaling dari salatnya, yang menghadap kepada pandangan orang, dan yang menahan barang pinjaman ternyata satu orang yang sama.
Bentuk kata kerjanya berbentuk sekarang, yaitu sesuatu yang sedang dan terus dikerjakan, bukan sesuatu yang sekali terjadi. Bentuk itu sejalan dengan (سَاهُونَ, saahuuna) di ayat sebelumnya, yang juga menyatakan keadaan yang melekat. Jadi dua ayat berturut-turut menggambarkan sesuatu yang berjalan terus, bukan dua kejadian yang bisa ditunjuk waktunya.
Letak ayat ini di dalam surahnya juga patut diperhatikan. Ia berdiri persis di antara kelalaian terhadap salat di 107:5 dan penahanan bantuan kecil di 107:7. Yang di sebelah kirinya perkara antara seseorang dan Allah, yang di sebelah kanannya perkara antara seseorang dan tetangganya. Ayat ini berdiri di tengah keduanya dan menyebut hal yang menghubungkan keduanya, yaitu kepada siapa perbuatannya ditujukan. Orang yang menghadap kepada pandangan manusia akan lalai terhadap yang tidak dilihat manusia dan akan menahan yang tidak akan dipuji manusia. Surah ini tidak menyatakan hubungan itu, dan cuma meletakkan ketiganya berurutan.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan celaan dengan motif salat mereka: pamer, bukan ketulusan. Kata yang dipakai muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, dan yang satunya di 4:142, tentang mereka yang berdiri untuk salat dengan malas dan bermaksud riya di hadapan manusia. Jadi kedua kemunculan kata ini berada dalam pembicaraan tentang salat, dan tidak satu pun di luar itu.
Bentuk katanya bentuk saling, sehingga artinya membuat diri dilihat orang lain. Yang dicela bukan melihat dan bukan dilihat, melainkan mengerjakan sesuatu supaya dilihat. Perbuatan yang sama bisa dikerjakan dua orang dengan tampilan yang sama persis, dan yang membedakannya tidak terlihat dari luar sama sekali. Karena itu celaan ini tidak bisa diperiksa oleh siapa pun kecuali oleh pelakunya sendiri dan oleh Allah.
Akar kata ini adalah akar kata pembuka surahnya. Di 107:1 Allah mengajak pendengarnya melihat, dan di sini Dia mencela orang yang sibuk membuat dirinya dilihat. Satu akar, dua arah yang berlawanan: yang satu memandang keluar untuk memahami, yang lain memandang keluar untuk dinilai. Kesejajaran itu tidak diterangkan oleh satu pun kalimat di dalam surahnya.
Susunan tiga ayat terakhir menerangkan lebih jauh. Ayat 107:5 menyebut hubungan mereka dengan salatnya, ayat ini menyebut ke arah siapa perbuatan mereka menghadap, dan 107:7 menyebut apa yang mereka tahan dari orang lain. Ketiganya dirangkai tanpa satu pun keterangan yang menghubungkan sebabnya, dan pembacanya sendiri yang harus menemukan bahwa ketiganya satu orang yang sama.
Renungan dan Hikmah
- Kata yang dipakai di ayat ini muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 4:142 dan ayat ini, dan kedua kemunculannya berada dalam pembicaraan tentang salat. Di 4:142 Allah menyebut mereka yang berdiri untuk salat dengan malas dan bermaksud riya di hadapan manusia. Jadi kata ini seakan tidak pernah muncul di luar tempat ibadah, dan pemakaian yang sesempit itu sendiri sudah menyatakan sesuatu. Yang paling mudah dijadikan tontonan ternyata justru yang paling dekat kepada Allah.
- Bentuk katanya bentuk saling, sehingga artinya membuat diri dilihat orang lain. Yang dicela Allah bukan melihat dan bukan dilihat, melainkan mengerjakan sesuatu supaya dilihat. Perbuatan yang sama bisa dikerjakan dua orang dengan tampilan yang sama persis, dan yang membedakannya tidak terlihat dari luar sama sekali. Bagaimana seseorang memeriksa sesuatu yang tidak meninggalkan bekas yang bisa dilihatnya sendiri? Allah menyebutnya justru karena tidak ada alat lain yang bisa menyebutkannya.
- Akar kata ini adalah akar kata pembuka surahnya, dan akar itu dipakai di 297 ayat dengan arti melihat. Di 107:1 Allah mengajak pendengarnya melihat, dan di sini Dia mencela orang yang sibuk membuat dirinya dilihat. Satu akar, dua arah yang berlawanan: yang satu memandang keluar untuk memahami, yang lain memandang keluar untuk dinilai. Kesejajaran itu tidak diterangkan oleh satu pun kalimat di dalam surahnya. Dua arah itu memakai mata yang sama dan berakhir di tempat yang berlawanan.
- Ayat 107:5 menyebut hubungan mereka dengan salatnya, ayat ini menyebut ke arah siapa perbuatan mereka menghadap, dan 107:7 menyebut apa yang mereka tahan dari orang lain. Allah merangkai ketiganya tanpa satu pun keterangan yang menghubungkan sebabnya. Yang berpaling dari salatnya, yang menghadap kepada pandangan orang, dan yang menahan barang pinjaman ternyata satu orang yang sama, dan pembacanya sendiri yang harus menemukannya.
- Bentuk kata kerjanya berbentuk sekarang, yaitu sesuatu yang sedang dan terus dikerjakan, bukan sesuatu yang sekali terjadi. Bentuk itu sejalan dengan kata di ayat sebelumnya, yang juga menyatakan keadaan yang melekat. Jadi dua ayat berturut-turut menggambarkan sesuatu yang berjalan terus, bukan dua kejadian yang bisa ditunjuk waktunya. Yang berjalan terus tidak pernah terasa sebagai keputusan, dan karena itu tidak pernah ditinjau ulang.
- Celaan di ayat ini tidak bisa diperiksa oleh siapa pun kecuali oleh pelakunya sendiri dan oleh Allah. Dari luar, orang yang bersalat karena Allah dan orang yang bersalat supaya dilihat tampak sama persis. Justru karena itu ayat ini tidak bisa dipakai untuk menuduh orang lain, dan cuma bisa dipakai untuk memeriksa diri sendiri. Sebuah celaan yang tidak menyediakan alat untuk menuduh orang lain memaksa pembacanya berhenti pada dirinya. Sesuatu yang cuma bisa diperiksa oleh pelakunya sendiri tidak pernah bisa diselesaikan lewat penilaian orang, dan itu sebabnya pujian dari luar tidak pernah menjadi bukti apa pun tentang perkara ini.
Ayat 107:7
وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
Dan enggan bantuan kecil.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَwa-yamna'uuna l-maa'uunadan enggan bantuan kecil
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَيَمْنَعُونَwa-yamna'uunadan mereka menolak
- الْمَاعُونَl-maa'uunabarang berguna
Inti bacaan
Puncak ironi yang menutup surah: 'dan enggan (memberi) bantuan kecil', kontras tajam antara menjaga tampilan ritual formal namun menolak bantuan sederhana sehari-hari, penegasan bahwa spiritualitas sejati harus termanifestasi dalam kepedulian praktis, bukan sekadar ritual yang dipamerkan.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(memberi)" tidak dipakai. Kata kerja (وَيَمْنَعُونَ, wa-yamna'uuna) berarti menahan atau menghalangi, dan objeknya langsung menempel tanpa kata kerja perantara. Menyisipkan kata memberi akan mengubah susunannya menjadi menahan diri dari memberi, padahal yang tertulis lebih langsung: mereka menahan barangnya. Akar yang berarti menahan itu dipakai di 17 ayat.
Kata (الْمَاعُونَ, al-maa'uuna) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti barang kecil yang berguna. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar. Sebuah kata yang tidak punya kerabat di ayat mana pun tidak bisa dipahami dengan membandingkannya ke tempat lain, dan surah ini justru ditutup dengan kata semacam itu.
Padanan "bantuan kecil" menahan sisi kesederhanaannya. Yang ditahan bukan harta besar, bukan warisan, dan bukan sesuatu yang memerlukan pengorbanan. Yang ditahan sesuatu yang biasa dipinjam-meminjamkan orang antartetangga tanpa perlu dicatat. Menahan yang sekecil itu memerlukan kesengajaan tersendiri, sebab tidak ada yang perlu dipertahankan dari sesuatu yang akan kembali.
Susunan penutup ini menutup lingkaran yang dibuka di 107:2. Bukti pertama menghardik anak yatim, bukti terakhir menahan barang pinjaman. Keduanya perbuatan yang paling murah yang bisa dikerjakan seseorang, dan keduanya terhadap orang yang tidak akan menuntut. Di antara keduanya berdiri salat, riya, dan kelalaian. Jadi surah ini dibuka dan ditutup dengan perkara yang paling kecil, dan yang paling besar diletakkan di tengah.
Bentuk kata kerjanya berbentuk sekarang dan jamak, sejalan dengan (يُرَاءُونَ, yuraa-uuna) di ayat sebelumnya. Kedua perbuatan itu dirangkai dengan huruf sambung, sehingga yang membuat diri dilihat dan yang menahan bantuan kecil adalah orang yang sama. Rangkaian itu tidak diberi satu pun keterangan tentang hubungan sebabnya, dan tidak diberikannya adalah bagian dari caranya bekerja.
Susunan ayat penutup ini juga tidak biasa. Ia terdiri atas (وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ, wa-yamna'uuna l-maa'uuna) saja, satu kata kerja dan satu objeknya, tanpa keterangan tambahan apa pun. Tidak disebut kepada siapa mereka menahannya, tidak disebut kapan, dan tidak disebut apa alasannya. Kependekan itu sejalan dengan yang dibicarakannya, yaitu perkara yang begitu kecil sampai tidak memerlukan penjelasan, dan justru karena kecil ia dipakai sebagai penutup.
Bandingkan pembuka surah ini dengan penutupnya. Ia dibuka oleh (أَرَأَيْتَ, a-ra-ayta), sebuah ajakan melihat, dan ditutup oleh (الْمَاعُونَ, al-maa'uuna), sebuah benda yang tidak punya nama di ayat lain mana pun. Yang dibuka sebagai pertanyaan besar tentang pertanggungjawaban berakhir pada benda pinjaman sehari-hari. Pergeseran itu terjadi dalam tujuh ayat saja, dan pembacanya dibawa dari perkara yang paling luas kepada perkara yang paling remeh, lalu ditinggalkan di sana.
Tafsiran
Ayat penutup surah ini menutup rangkaian celaan dengan keengganan mereka memberikan bantuan sekecil apa pun, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an sementara akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Jadi surah ini ditutup dengan kata yang tidak punya kerabat di ayat mana pun, sehingga maknanya tidak bisa dikunci dengan membandingkannya ke tempat lain.
Yang ditahan bukan harta besar dan bukan sesuatu yang memerlukan pengorbanan. Yang ditahan sesuatu yang biasa dipinjam-meminjamkan orang tanpa perlu dicatat. Menahan yang sekecil itu memerlukan kesengajaan tersendiri, sebab tidak ada yang perlu dipertahankan dari sesuatu yang akan kembali. Justru karena tidak ada alasan yang masuk akal untuk menahannya, penahanan itu menerangkan sesuatu tentang orangnya.
Penutup ini menutup lingkaran yang dibuka di 107:2. Bukti pertama menghardik anak yatim, bukti terakhir menahan barang pinjaman. Keduanya perbuatan yang paling murah yang bisa dikerjakan seseorang, dan keduanya terhadap orang yang tidak akan menuntut. Di antara keduanya berdiri salat, riya, dan kelalaian. Jadi surah ini dibuka dan ditutup dengan perkara yang paling kecil, dan yang paling besar diletakkan di tengah.
Susunan itu membalik ukuran yang biasa dipakai orang. Ibadah dianggap perkara besar dan pinjaman tetangga dianggap perkara kecil, dan surah ini menaruh yang dianggap kecil di kedua ujungnya sebagai bingkai bagi yang dianggap besar. Yang di tengah dinilai oleh yang di tepi, bukan sebaliknya.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhir surah ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia sendirian dua kali: sebagai bentuk dan sebagai akar. Sebuah kata yang tidak punya kerabat di ayat mana pun tidak bisa dipahami dengan membandingkannya ke tempat lain, dan Allah justru menutup surah ini dengan kata semacam itu. Pembacanya cuma punya ayat ini sendiri untuk menimbangnya. Kata yang tidak bisa dikunci maknanya oleh perbandingan menahan pembacanya tetap di depan ayatnya.
- Yang ditahan bukan harta besar, bukan warisan, dan bukan sesuatu yang memerlukan pengorbanan. Yang ditahan sesuatu yang biasa dipinjam-meminjamkan orang tanpa perlu dicatat. Menahan yang sekecil itu memerlukan kesengajaan tersendiri, sebab tidak ada yang perlu dipertahankan dari sesuatu yang akan kembali. Justru karena tidak ada alasan yang masuk akal untuk menahannya, penahanan itu menerangkan sesuatu tentang orangnya. Yang ditahan tanpa sebab menyingkap lebih banyak daripada yang ditahan karena kekurangan.
- Bukti pertama di surah ini menghardik anak yatim, dan bukti terakhir menahan barang pinjaman. Keduanya perbuatan yang paling murah yang bisa dikerjakan seseorang, dan keduanya terhadap orang yang tidak akan menuntut. Di antara keduanya Allah menaruh salat, riya, dan kelalaian. Jadi surah ini dibuka dan ditutup dengan perkara yang paling kecil, dan yang paling besar diletakkan di tengah. Bingkai menentukan bagaimana yang di dalamnya dilihat, dan bingkai di sini terbuat dari perkara sehari-hari.
- Orang biasa menganggap ibadah perkara besar dan pinjaman tetangga perkara kecil. Allah menaruh yang dianggap kecil di kedua ujung surah ini sebagai bingkai bagi yang dianggap besar. Yang di tengah dinilai oleh yang di tepi, bukan sebaliknya. Kalau yang paling kecil saja ditahan, apa yang sebenarnya sedang dikerjakan seseorang ketika ia berdiri untuk sesuatu yang paling besar? Allah menaruh pertanyaan itu tanpa menjawabnya, dan surahnya berhenti di situ.
- Kata kerja yang dipakai berarti menahan atau menghalangi, dan objeknya langsung menempel tanpa kata kerja perantara. Yang tertulis bukan mereka menahan diri dari memberi, melainkan lebih langsung: mereka menahan barangnya. Akar itu dipakai di 17 ayat. Menahan menyatakan ada sesuatu yang bergerak lalu dihentikan, sehingga yang digambarkan bukan ketiadaan perbuatan melainkan sebuah perbuatan tersendiri.
- Bentuk kata kerjanya sejalan dengan kata di ayat sebelumnya, dan keduanya dirangkai dengan huruf sambung, sehingga yang membuat diri dilihat dan yang menahan bantuan kecil adalah orang yang sama. Allah tidak memberi satu pun keterangan tentang hubungan sebabnya. Tujuh ayat berlalu dan tidak sekali pun disebutkan mengapa orang yang bersalat bisa juga menahan yang sekecil itu, dan pembacanya dibiarkan menimbang sendiri.