Ayat 107:4
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ
Maka celakalah orang-orang yang bersalat,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَfa-waylun li-l-mushalliinamaka celakalah orang-orang yang bersalat
Terjemahan per kata (2 kata)
- فَوَيْلٌfa-waylunmaka celaka
- لِلْمُصَلِّينَli-l-mushalliinabagi orang-orang yang bersalat
Inti bacaan
Vonis keras diarahkan pada para pelaku ibadah itu, dan pembatasannya menyusul belakangan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (فَوَيْلٌ, fa-waylun), "maka celakalah". Huruf fa di depannya menandai akibat. Dua perbuatan sudah disebut lebih dulu, yaitu menghardik anak yatim di 107:2 dan tidak mendorong memberi makan orang miskin di 107:3, dan ancaman ini datang sesudah keduanya.
Kata celaka yang disusul huruf lam dipakai di 12 ayat, yaitu 2:79, 14:2, 19:37, 38:27, 39:22, 41:6, 43:65, 45:7, 51:60, 83:1, 104:1, dan 107:4. Sasarannya beragam. Di 2:79 ancaman itu jatuh pada orang yang menulis Kitab dengan tangannya lalu berkata "Ini dari sisi Allah", di 83:1 pada orang yang curang menakar, di 104:1 pada pengumpat dan pencela, dan di 39:22 pada orang yang hatinya keras dari mengingat Allah. Ayat-ayat sisanya menyebut orang yang kufur, musyrik, zalim, atau pembohong yang banyak berdosa. Sebelas ayat selain ayat ini tidak memuat kata salat atau orang yang bersalat.
Kata (لِلْمُصَلِّينَ, li-l-mushalliina) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Bentuk yang sama tanpa huruf lam, (الْمُصَلِّينَ, l-mushalliina), muncul 3 kali, yaitu di 70:22, 74:43, dan 107:4. Di 70:22 kata itu menjadi pengecualian bagi manusia yang sejak 70:19 digambarkan berkeluh kesah, dengan terjemahan "Kecuali orang-orang yang bersalat". Di 74:43 orang yang ditanya apa yang memasukkan mereka ke dalam Saqar menjawab, "Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang bersalat". Di ayat ini kata itu jatuh sesudah kata celaka. Kata yang sama memikul tiga kedudukan: dikecualikan di 70:22, disebut sebagai sesuatu yang tidak mereka miliki di 74:43, dan diancam di 107:4.
Akar kata salat dipakai di 90 ayat. Di 2:3 salat disebut dalam sifat orang yang beriman pada yang gaib, di 23:2 dalam sifat orang beriman yang khusyuk, dan di 108:2 dalam perintah "Maka bersalatlah bagi Tuhanmu". Di ketiga ayat itu salat berdampingan dengan pujian atau perintah. Ayat ini menaruh salat di samping ancaman.
Terjemahan menulis "celakalah orang-orang yang bersalat" tanpa keterangan penyela. Kata seperti sebagian atau tertentu tidak ditambahkan karena Arabnya tidak memuatnya, dan pembatasannya memang datang di 107:5. Membaca ayat ini sendirian menghasilkan arti yang kemudian dibatasi oleh ayat sesudahnya, sehingga kedua ayat sebaiknya dibaca berurutan.
Bentuk kata kerja dan kata pelaku di surah ini berubah jumlah. Tiga ayat pertama berbicara tentang satu orang: yang mendustakan di 107:1, yang menghardik (يَدُعُّ, yadu'u) di 107:2, dan yang tidak mendorong (يَحُضُّ, yahudhdhu) di 107:3. Mulai ayat ini pelakunya jamak, dan tetap jamak sampai ayat terakhir. Ayat ini juga sangat pendek, hanya dua kata, sama dengan 107:7, sedangkan ayat lain di surah ini terdiri atas tiga sampai lima kata.
Tafsiran
Ayat ini menyambung dua perbuatan terhadap orang lemah dengan ancaman bagi orang yang bersalat. Huruf fa di awal ayat membuat urutannya terbaca sebagai akibat. Orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin disusul oleh kelompok yang diancam, yaitu orang yang bersalat. Teks tidak menyatakan bahwa kedua kelompok itu orang yang sama, dan tidak pula menyatakan bahwa keduanya berbeda. Penghubungnya ada di ayat sesudah ini.
Ancaman ini jatuh pada pelaku salat. Di sebelas ayat lain yang memakai kata celaka dengan lam, sasarannya pembohong, pencurang, pengumpat, atau orang yang kufur dan zalim, dan tidak satu pun menyebut salat. Pembaca yang terbiasa menganggap salat sebagai tanda aman akan berhenti di ayat ini, sebab sasaran semacam itu hanya muncul sekali.
Ayat ini tidak berdiri sendiri. Kata yang sama dipakai di 70:22 untuk pengecualian dan di 74:43 untuk pengakuan, sehingga kedudukan orang yang bersalat ditentukan oleh keterangan yang menyertainya. Keterangan itu datang di 107:5, yang membatasi ancamannya pada orang yang lengah terhadap salatnya. Membaca kedua ayat sebagai satu kalimat panjang menjaga arti yang diberikan surah, dan tidak membuat ayat ini terbaca sebagai celaan atas salat itu sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Orang yang bersalat dikecualikan di 70:22, disebut sebagai hal yang tidak dimiliki di 74:43, dan diancam di 107:4. Pembaca yang menaruh kata itu di samping ketiga ayat ini melihat bahwa menyandangnya belum menentukan apa pun. Salat yang dikerjakan seseorang bisa menjadi alasan pengecualian, bisa menjadi sesuatu yang tidak dimiliki orang yang ditanya di Saqar, dan bisa pula berada di bawah kata celaka. Apa yang sebenarnya menentukan ke mana kata itu jatuh bagi seseorang yang rutin berdiri menghadap Tuhannya?
- Ancaman ini dibuka dengan fa, sehingga terbaca sebagai akibat dari dua perbuatan di ayat-ayat sebelumnya, yaitu menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Di 2:79 celaka menimpa penulis Kitab yang berkata "Ini dari sisi Allah", dan di 39:22 menimpa orang yang hatinya keras dari mengingat Allah. Di kedua tempat itu kata celaka mengikuti perbuatan yang diceritakan lebih dulu. Pembaca bisa memeriksa mana dari perbuatan di sekitar salatnya yang sedang diikuti oleh kata itu.
- Kata celaka dengan lam dipakai di 12 ayat, dan sebelas di antaranya menyebut pembohong, pencurang, pengumpat, orang kafir, musyrik, atau zalim. Kategori yang mudah ditunjuk dengan jari, dan mudah dipikirkan sebagai orang lain. Ayat ke-12 menyebut orang yang bersalat. Orang yang membaca daftar itu dari awal, merasa selamat sampai ayat ke-11, kehilangan jarak aman di ayat terakhir. Pembaca yang menempatkan dirinya di luar sebelas sasaran pertama punya alasan untuk itu, dan ayat ke-12 menguji alasan tersebut dari arah yang tidak disangka.
- Tujuh ayat surah ini tidak memuat nama Allah satu kali pun. Salat dibicarakan tanpa menyebut kepada siapa salat itu dihadapkan. Sebagai pembanding, 108:2 langsung menyebut salat "bagi Tuhanmu". Dengan menyebut orang yang bersalat tanpa menyebut siapa yang dituju, surah ini membiarkan pembaca sendiri mengisi bagian itu. Apa yang terisi di sana ketika seseorang berdiri untuk bersalat, dan siapa yang ia bayangkan sedang menerimanya?
- Tiga ayat pertama berbicara tentang satu orang, dan pembaca yang diajak melihat dari jauh merasa sedang mengamati orang lain. Ayat ini mengubah pelakunya menjadi jamak: para pelaku salat. Kata jamak lebih sulit dipastikan tidak memuat diri sendiri daripada kata tunggal. Pembaca yang tadi merasa sebagai penonton mendapati dirinya mungkin berdiri di dalam gambar itu. Bentuk jamak itu bertahan sampai ayat terakhir surah, sehingga pembaca tidak pernah kembali ke jarak aman yang disediakan tiga ayat pertama.
- Ayat ini berdiri tanpa keterangan, dan keterangannya baru datang di 107:5. Pembaca yang berhenti di sini membawa pulang celaan atas salat, sedangkan pembaca yang meneruskan menemukan bahwa celaan itu dibatasi. Jeda antara dua ayat itu membuat pembaca merasakan ancaman lebih dulu, sebelum sempat memeriksa apakah ancaman itu mengenai dirinya. Ayat-ayat pendek di akhir surah ini memang disusun berurutan, dan urutan itu ikut menentukan apa yang dirasakan pembaca di tiap perhentian.
Ayat 107:5
الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
yang lengah terhadap salatnya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَalladziina hum 'an shalaatihim saahuunayang lengah terhadap salatnya
Terjemahan per kata (5 kata)
- الَّذِينَalladziinaorang-orang yang
- هُمْhummereka
- عَنْ'andari
- صَلَاتِهِمْshalaatihimsalatnya
- سَاهُونَsaahuunalengah
Inti bacaan
Vonis sebelumnya dipersempit menjadi mereka yang pikirannya menjauh ketika beribadah.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (الَّذِينَ هُمْ, alladziina hum), pembuka keterangan tentang siapa yang diancam di 107:4. Pembuka ini muncul 26 kali di 11 surah, dan paling padat di 23:2-9 serta 70:23-34, dua daftar sifat orang beriman. Di 23:2 sifat itu (خَاشِعُونَ, khaasyi'uuna), khusyuk dalam salat. Di 70:23 sifatnya (دَائِمُونَ, daa'imuuna), setia terus-menerus. Di 70:34 sifatnya (يُحَافِظُونَ, yuhaafizhuuna), memelihara salat. Di 107:5 pembuka yang sama dipakai untuk sifat yang dicela.
Kata (صَلَاتِهِمْ, shalaatihim), "salat mereka", muncul 5 kali, yaitu di 6:92, 23:2, 70:23, 70:34, dan 107:5. Kata depan yang mendampinginya berbeda-beda. Di 23:2 salat itu dimasuki ("dalam salatnya"), di 70:23 dan 70:34 dan 6:92 orangnya tetap pada salat itu, dan di 107:5 ada (عَنْ صَلَاتِهِمْ, 'an shalaatihim). Kata depan 'an pada dasarnya menunjuk arah menjauh dari sesuatu. Rangkaian 'an shalaatihim muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Terjemahan memakai "terhadap salatnya" supaya mengalir dalam bahasa Indonesia, dan arah menjauh yang dimaksud kata depan itu tetap bisa dirasakan.
Kata (سَاهُونَ, saahuuna) muncul 2 kali, yaitu di 51:11 dan 107:5, dan kedua ayat memakai pola yang sama: alladziina hum, lalu keterangan, lalu saahuuna. Di 51:11 keterangannya (فِي غَمْرَةٍ, fii ghamratin), "dalam kelalaian". Terjemahan memilih "lengah" untuk kata ini, yaitu kurang sadar terhadap sesuatu yang sedang terjadi. Kata "lupa" sudah dipakai untuk kata kerja yang menyatakan hilangnya ingatan, dan "lalai" dipakai luas untuk kata lain yang bermakna tidak mengindahkan, sehingga "lengah" memberi kata ini tempat sendiri.
Ayat ini menjawab pertanyaan yang ditinggalkan 107:4. Ancamannya tidak mengenai salat, tetapi orang yang sedang lengah terhadap salatnya. Ayat ini tidak memberi ukuran seberapa sering, seberapa lama, atau pada waktu mana kelengahan itu terjadi. Hal yang tidak ditulis itu tidak ditambahkan oleh terjemahan.
Kata pertanggungjawaban berada di sekitar kata saahuuna di kedua tempat yang memakainya. Di 51:12 orang-orang itu bertanya (أَيَّانَ يَوْمُ الدِّينِ, ayyaana yawmu d-diini), "kapankah Hari Pertanggungjawaban", dan surah ini sendiri dibuka di 107:1 dengan (يُكَذِّبُ بِالدِّينِ, yukadzdzibu bi-d-diini). Kata itu tidak ada di 107:5, tetapi ayat ini berdiri di antara dua tempat yang menyebutnya.
Ayat ini juga dekat dengan 107:6. Keduanya dibuka dengan dua kata yang sama, dan 107:7 kemudian memakai huruf wa, "dan", untuk menambahkan kalimat ketiga tanpa pembuka baru. Dengan demikian tiga kalimat pendek di akhir surah menerangkan satu kelompok yang sama.
Tafsiran
Ayat ini membatasi ancaman di 107:4. Ancaman itu mengenai orang yang lengah terhadap salatnya sendiri. Kata "mereka" dan "salat mereka" menegaskan bahwa salat itu milik mereka, dan kelengahannya ada pada hubungan mereka dengan salat itu.
Kata depan yang dipakai berbeda dari ketiga ayat pembanding. Dalam salat orang bisa khusyuk, terhadap salat orang bisa setia dan memelihara, tetapi di 107:5 arahnya menjauh dari salat. Orang itu masih berada di tempat salat tetapi perhatiannya sudah pergi. Teks tidak menguraikan bentuk kepergian itu.
Surah ini memuat dua gambaran yang berbeda tentang hubungan dengan hari pertanggungjawaban. Di 107:1 ada orang yang mendustakannya, dan di 107:5 ada orang yang lengah terhadap salatnya. Keduanya mungkin orang yang sama dan mungkin berbeda, dan hubungan sebab di antaranya dibiarkan terbuka. Pembaca diberi dua gambaran dan menimbang sendiri hubungannya. Di 51:11-12 kata saahuuna berdampingan dengan pertanyaan tentang kapan hari itu terjadi, sehingga kelengahan dan hari pertanggungjawaban pernah bertemu dalam satu rangkaian di surah lain.
Kata yang sama muncul di 51:11 bersama "dalam kelalaian". Dua ayat itu memiliki susunan yang sama, dan keduanya menggambarkan orang yang sedang berada dalam satu keadaan tetapi tidak sadar akan keadaan itu. Di 51:11 orang itu tidak sadar akan kelalaiannya sendiri, dan di 107:5 akan salat yang dikerjakannya.
Renungan dan Hikmah
- Ancaman di 107:4 jatuh pada orang yang lengah terhadap salatnya, dan syarat itu baru terbaca di ayat ini. Seseorang bisa memenuhi semua bentuk salat dan tetap termasuk di dalamnya, bila perhatiannya sudah pergi. Perintah di 2:238 berbunyi "berdirilah karena Allah dengan taat", dan ayat ini menyebut keadaan orang yang perhatiannya menjauh dari salatnya. Orang yang bersalat tetapi memikirkan hal lain sepanjang waktu mungkin mengenali dirinya di sini. Apa yang sebenarnya dibawa seseorang ke dalam salat selain tubuhnya?
- Kata depan yang mendampingi salat berbeda di tiap ayat. Di 23:2 orangnya khusyuk dalam salatnya, di 70:23 orangnya terus-menerus pada salatnya, dan di 107:5 orangnya lengah terhadap salatnya. Ayat ini memakai arah yang menjauh. Pembaca yang membandingkan ketiganya melihat bahwa jarak ke salat bisa berbeda meski tempat dan waktunya sama. Jarak itu tidak diberi ukuran, dan pembaca sendiri yang menilai di mana posisinya.
- Kata yang sama dipakai di 51:11, tempat orang-orang itu berada dalam kelalaian. Kelengahan terhadap salat di 107:5 dan kelengahan dalam kelalaian di 51:11 memakai susunan yang sama, seolah dua gambaran itu satu penyakit yang tampak di dua tempat. Orang yang lengah di satu bagian hidupnya jarang merasa lengah, sebab kelengahan menyembunyikan dirinya sendiri. Dari mana seseorang bisa tahu bahwa dirinya sedang lengah, bila perhatiannya sedang berada di tempat lain?
- Pembuka alladziina hum paling banyak muncul dalam daftar sifat orang beriman di 23:2-9 dan 70:23-34. Ayat ini memakai pembuka yang sama dan mengisinya dengan sifat yang dicela. Pembaca yang hafal daftar-daftar itu mengenali iramanya, lalu menemukan isinya terbalik. Susunan yang sama memuat dua kemungkinan, dan tidak ada penanda di awalnya yang memberi tahu mana daftar pujian dan mana daftar celaan.
- Di 4:142 orang yang berdiri untuk salat dengan malas disebut tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali. Di 20:14 salat dikaitkan dengan mengingat: perintahnya berbunyi "tegakkanlah salat untuk mengingat-Ku", dan yang berbicara menyebut diri-Nya Allah. Kelengahan terhadap salat di ayat ini mudah dipikirkan sebagai kelengahan terhadap yang diingat di dalamnya, meski 107:5 sendiri tidak mengatakannya. Ayat ini hanya memuat satu kata lengah, dan bagaimana pembaca mengisi kekosongan itu menjadi urusannya sendiri.
- Pembaca yang berhenti di 107:4 membawa pertanyaan: celaka bagi orang yang bersalat, mengapa? Ayat ini menjawab dengan satu keterangan pendek dan tidak menambahkan rincian apa pun. Ukuran lain datang dari ayat yang berbeda: 29:45 menyebut bahwa salat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, dan bahwa mengingat Allah itu lebih besar. Orang yang ingin tahu apakah dirinya termasuk dapat menaruh kedua ayat itu berdampingan dan bertanya apakah salatnya sedang mengerjakan apa yang disebut di sana.
Ayat 107:6
الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
yang ingin dilihat orang,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَalladziina hum yuraa'uunayang ingin dilihat orang
Terjemahan per kata (3 kata)
- الَّذِينَalladziinaorang-orang yang
- هُمْhummereka
- يُرَاءُونَyuraa'uunaingin dilihat
Inti bacaan
Kelompok itu juga digambarkan gemar tampil demi tatapan sesama.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (يُرَاءُونَ, yuraa'uuna) menandai perbuatan yang sedang berlangsung dan berjumlah jamak. Bentuk ini muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 4:142 dan 107:6. Di 4:142 kata itu disusul langsung oleh objeknya, (يُرَاءُونَ النَّاسَ, yuraa'uuna n-naasa), dan terjemahannya "ingin dilihat manusia". Di 107:6 objek itu tidak ditulis.
Bentuk kata bendanya, (رِئَاءَ النَّاسِ, ri'aa'a n-naasi), muncul 3 kali, yaitu di 2:264, 4:38, dan 8:47. Dari kelima tempat yang memakai akar ini dengan arti memperlihatkan diri, yaitu 2:264, 4:38, 4:142, 8:47, dan 107:6, hanya 107:6 yang tidak menyebut manusia. Pembaca yang mengenal ayat-ayat lain itu akan mengisi bagian yang kosong dengan kata manusia, tetapi teks ayat ini sendiri berhenti pada kata kerjanya.
Akar kata ini sama dengan akar kata pembuka surah. Di 107:1 tertulis (أَرَأَيْتَ, a-ra'ayta), "apakah engkau memperhatikan", yang muncul 9 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 6:40, 6:47, 17:62, 18:63, 25:43, 96:9, 96:11, 96:13, dan 107:1, dan berarti melihat. Akar yang berarti melihat itu dipakai di 297 ayat. Surah ini dibuka dengan permintaan untuk memperhatikan seseorang, dan menjelang penutupnya menyebut orang yang ingin diperhatikan. Tidak ada kalimat di dalam surahnya yang menunjuk kesejajaran itu.
Dalam bentuk ini akar yang berarti melihat memberi arti lain daripada melihat biasa. Kata (يُرَاءُونَ, yuraa'uuna) menunjuk perbuatan yang diarahkan kepada pihak lain, yaitu memperlihatkan diri kepada pandangan orang.
Hal yang dikerjakan sambil ingin dilihat berbeda di tiap ayat: menginfakkan harta di 2:264, menafkahkan harta di 4:38, keluar dari kampung halaman dengan angkuh di 8:47, dan berdiri untuk salat di 4:142. Ayat 107:6 tidak menyebut apa pun yang dikerjakan, dan letaknya tepat di antara salat di 107:5 dan bantuan di 107:7.
Terjemahan menulis "yang ingin dilihat orang". Kata ria tidak dipakai karena dalam bahasa Indonesia kata itu berarti riang, dan terjemahan ini sendiri memakainya dengan arti itu di 36:55, 40:75, 44:27, 52:18, dan 83:31, antara lain dalam rangkaian "bersuka ria". Kata riya tidak dipakai karena banyak pembaca tidak langsung menangkap artinya, sedangkan "ingin dilihat" menjelaskan dirinya sendiri dan sejalan dengan padanan di 4:38, 4:142, dan 8:47.
Ayat ini memakai dua kata pembuka yang sama dengan 107:5, yaitu (الَّذِينَ هُمْ, alladziina hum), sehingga keduanya terbaca sebagai dua sifat bagi kelompok yang sama. Pembuka itu muncul 26 kali di 11 surah. Ayat ini terdiri atas tiga kata, lebih panjang daripada 107:4 dan 107:7 yang dua kata, dan lebih pendek daripada ayat-ayat lain di surah ini.
Tafsiran
Ayat ini memberi sifat kedua kepada kelompok yang diancam. Di 107:5 sifat pertama menyangkut hubungan mereka dengan salat, dan di sini sifat kedua menyangkut ke mana perhatian mereka diarahkan, yaitu keluar, kepada pandangan orang lain. Perbuatan itu menunggu penonton.
Di 4:142 tiga hal disebut bersama dalam satu ayat: mereka berdiri untuk salat dengan malas, mereka ingin dilihat manusia, dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali. Ayat itu menunjukkan bahwa salat dan keinginan untuk dilihat bisa berada dalam satu kejadian. Ayat 107:6 tidak mengulang rinciannya, dan membiarkan pembaca mengenali sendiri bentuk perbuatan itu.
Karena objeknya tidak ditulis, ayat ini terbuka. Siapa yang diharapkan melihat tidak disebut, dan pembaca yang mengisinya dengan kata manusia mengikuti keempat ayat lain. Tiga ayat penutup surah ini memakai bentuk yang menyatakan perbuatan sedang berlangsung: lengah di 107:5, ingin dilihat di 107:6, dan menahan di 107:7. Tidak ada yang menyebut peristiwa sekali jadi, sehingga ketiganya terbaca sebagai kebiasaan.
Kesejajaran dengan 107:1 menambah satu lapis: orang yang diajak melihat di awal surah, dan orang yang sibuk dilihat menjelang akhir, memakai akar kata yang sama.
Renungan dan Hikmah
- Di tiga ayat yang memakai bentuk kata benda, perbuatan ingin dilihat berdampingan dengan kurangnya iman atau dengan menghalangi jalan Allah. Di 2:264 orangnya tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, di 4:38 sama, dan di 8:47 orangnya juga menghalangi dari jalan Allah. Ayat 107:6 tidak memuat penyerta itu, tetapi pembaca yang mengenal ketiga ayat tadi mendengar nada yang sama. Perbuatan yang tampak sebagai urusan antarmanusia ternyata berkaitan dengan hubungan yang tidak dilihat siapa pun.
- Ayat ini tidak menyebut siapa yang diharapkan melihat. Kekosongan itu membuat pembaca yang hendak membaca diri sendiri tidak punya kata yang bisa dihindari. Orang yang bekerja, bersedekah, atau beribadah dengan sedikit mata tertuju pada tanggapan orang di sekitarnya mengenali kekosongan ini. Siapa sebenarnya yang dibayangkan seseorang ketika sedang melakukan sesuatu yang baik, dan apa yang terjadi pada perbuatannya ketika bayangan itu tidak ada?
- Surah ini dibuka dengan permintaan untuk memperhatikan orang lain, dan menjelang akhir menyebut orang yang ingin diperhatikan. Akar katanya sama. Pembaca yang tadi diajak menilai ternyata berhadapan dengan gambaran yang bisa juga mengenai dirinya, dan dapat mengajukan satu pertanyaan sederhana kepada diri sendiri: pandangan siapa yang paling sering dicarinya? Akar yang sama di dua ujung surah memberi pembaca cermin yang tidak diumumkan, dan cermin semacam itu baru bekerja bila ada yang mau menoleh.
- Ayat 4:142 menggabungkan tiga hal dalam satu kalimat: berdiri untuk salat dengan malas, ingin dilihat manusia, dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali. Di sana salat tetap dikerjakan lengkap dengan gerakan dan waktunya. Isinya yang hilang. Ayat 107:5-6 menyebut dua dari tiga hal itu dalam dua ayat pendek yang berurutan, sehingga pembaca yang membaca keduanya bersama mendapat gambar yang mirip dengan 4:142. Pembaca yang pernah berdiri untuk salat sambil memikirkan hal lain dapat membandingkan pengalamannya sendiri dengan gambaran itu.
- Dua ayat berturut-turut dibuka dengan dua kata yang sama, lalu masing-masing menyebut satu sifat. Sifat pertama menyangkut hubungan dengan salat, dan sifat kedua menyangkut penonton. Tidak ada kata penghubung di antara keduanya, sehingga pembaca tidak dituntun untuk memilih salah satu. Orang yang merasa dirinya tidak lengah bisa saja mengenali sifat kedua, dan sebaliknya, karena susunannya membuat keduanya terbaca sebagai kemungkinan yang bergandengan.
- Ayat 8:47 menutup larangan menjadi seperti orang yang keluar dengan angkuh dan ingin dilihat orang dengan kalimat "Allah meliputi apa yang mereka kerjakan". Keinginan untuk dilihat menghadap satu arah, yaitu kepada manusia, sedangkan penutup ayat itu menaruh perbuatan yang sama dalam jangkauan yang meliputinya. Orang yang menghitung siapa saja yang melihat perbuatannya bisa menambahkan satu hitungan yang disebut ayat itu, yaitu Dia yang meliputi apa yang dikerjakan.
Ayat 107:7
وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
Dan menahan bantuan kecil.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَwa-yamna'uuna l-maa'uunadan menahan bantuan kecil
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَيَمْنَعُونَwa-yamna'uunadan mereka menahan
- الْمَاعُونَl-maa'uunabantuan kecil
Inti bacaan
Kalimat penutup berisi dua kata saja tentang barang remeh yang tidak dilepas.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (وَيَمْنَعُونَ, wa-yamna'uuna) berarti "dan mereka menahan". Huruf wa di depannya menyambung ayat ini ke 107:5 dan 107:6. Kedua ayat itu dibuka dengan alladziina hum, dan ayat ini tidak mengulang pembuka itu, sehingga kalimat ketiga menempel pada kelompok yang sama tanpa pembuka baru.
Akar kata menahan dipakai di 17 ayat, yaitu 2:114, 4:141, 7:12, 9:54, 12:63, 17:59, 17:94, 18:55, 20:92, 21:43, 38:75, 50:25, 56:33, 59:2, 68:12, 70:21, dan 107:7. Di 2:114 kata kerjanya dipakai untuk melarang masjid-masjid Allah agar nama-Nya disebut di dalamnya, dan di 18:55 untuk menghalangi manusia dari beriman. Di 50:25 dan 68:12 muncul (مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ, mannaa'in li-l-khayri), "sangat menghalangi kebaikan", dan di 70:21 muncul (مَنُوعًا, manuu'an), yang diterjemahkan "kikir" untuk manusia yang disentuh kebaikan. Tiga ayat terakhir itu mengaitkan akar menahan dengan kebaikan. Terjemahan memakai "menghalangi" untuk orang atau tindakan yang ditahan, dan "menahan" di sini karena yang ditahan sesuatu yang bisa diberikan.
Kata (الْمَاعُونَ, l-maa'uuna) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya hanya dipakai di ayat ini. Karena tidak ada pemakaian kedua, maknanya tidak dapat dibandingkan dengan ayat lain. Terjemahan "bantuan kecil" bertumpu pada konteks: kata ini berdiri sesudah anak yatim di 107:2 dan orang miskin di 107:3, serta sesudah kata kerja yang berarti menahan, sehingga yang dimaksud sesuatu yang bisa diberikan atau dipinjamkan. Teks tidak menyebut jenisnya. Sebagian pembaca menerjemahkannya "barang berguna", dan "bantuan kecil" mencakup barang maupun pertolongan tanpa memilih salah satu.
Anak yatim dan orang miskin disebut bersama dalam satu ayat di 8 ayat, yaitu 2:83, 2:177, 2:215, 4:8, 4:36, 8:41, 59:7, dan 76:8. Di surah ini keduanya tidak berada dalam satu ayat, tetapi di dua ayat berurutan, yaitu 107:2 dan 107:3, dan bantuan kecil di ayat terakhir menyusul keduanya.
Ketiga perbuatan terhadap sesama di surah ini terletak di awal dan di akhir. Di 107:2 ada (يَدُعُّ, yadu'u) yang menghardik anak yatim, di 107:3 ada (يَحُضُّ, yahudhdhu) yang tidak mendorong memberi makan orang miskin, dan di 107:7 ada mereka yang menahan bantuan kecil. Salat dan keinginan dilihat berada di tengah, di 107:4 sampai 107:6. Dengan demikian surah ini mengapit pembicaraan tentang salat dengan perbuatan terhadap orang lain.
Ayat ini terdiri atas dua kata, sama dengan 107:4, dan kata terakhirnya, yaitu kata terakhir seluruh surah, adalah kata yang tidak punya kerabat di ayat mana pun.
Tafsiran
Ayat ini menutup surah dengan perbuatan menahan sesuatu yang kecil. Sesudah salat dan keinginan dilihat di tengah surah, penutupnya kembali kepada orang lain, seperti pembukanya. Benda yang ditahan tidak diberi ukuran, selain lewat kata kecil yang terbaca dari konteksnya.
Pasangan kata kerja dan benda di ayat ini sederhana: mereka menahan, bantuan kecil. Tidak ada keterangan pelaku, alasan, atau akibat. Kesederhanaan itu membuat ayat ini terbaca sebagai pernyataan faktual yang tidak menunggu pembelaan. Pembaca yang ingin tahu apa saja yang termasuk bantuan kecil tidak dibantu oleh teks, dan terjemahan tidak menambahkannya.
Menahan di ayat ini menyatakan perbuatan yang sedang berlangsung, dan sama dengan lengah di 107:5 serta ingin dilihat di 107:6, tidak ada yang menyebut peristiwa sekali jadi. Menahan bantuan kecil dengan begitu terbaca sebagai pola yang berulang.
Dari 107:2 sampai 107:7 surah ini menyusun tiga perbuatan terhadap orang lain dan dua sifat yang menyangkut salat. Perbuatan terhadap orang lain datang di awal dan di akhir, dan semuanya kecil: menghardik, tidak mendorong memberi makan, dan menahan bantuan. Tidak ada satu pun yang disebut sebagai kejahatan besar. Ayat ini dan 107:4 sama-sama hanya dua kata, dan keduanya mengapit dua ayat tentang sifat kelompok yang diancam, yaitu 107:5 dan 107:6.
Renungan dan Hikmah
- Ayat terakhir surah ini menyebut yang ditahan dengan kata yang artinya kecil. Bukan harta besar, bukan warisan, dan tidak ada angka. Pembaca yang menimbang apakah dirinya tergolong sulit membayangkan menahan sesuatu yang besar, tetapi lebih mudah menemukan benda kecil yang dipegangnya erat: waktu sebentar, pinjaman yang tidak jadi, jawaban atas pertanyaan sederhana. Apa saja yang setiap hari ditahan seseorang dari orang di dekatnya tanpa pernah terasa sebagai menahan?
- Surah ini membuka dan menutup dengan perbuatan terhadap orang lain, dan menaruh salat di tengah. Di 2:177 hal serupa tersusun dalam satu ayat: beriman kepada Allah, memberikan harta kepada kerabat, anak yatim, dan orang miskin, serta menegakkan salat dan memberikan zakat. Urutan di sana mengikat iman, harta, dan salat dalam satu kalimat. Di surah ini perbuatan terhadap sesama berada di kedua sisi dan salat berada di tengahnya.
- Akar kata menahan dipakai di 2:114 untuk orang yang melarang masjid-masjid Allah agar nama-Nya disebut di dalamnya, dan di 18:55 untuk menghalangi manusia dari beriman. Di 107:7 akar yang sama dipakai untuk bantuan kecil. Satu akar kata menjangkau tempat ibadah dan benda sepele sekalipun. Pembaca yang hanya memperhatikan larangan besar mungkin tidak menyadari bahwa kata yang sama dipakai di ujung yang paling remeh.
- Di 70:21 manusia yang disentuh kebaikan menjadi kikir, lalu 70:22 mengecualikan orang yang bersalat. Ayat-ayat sesudahnya menggambarkan mereka: dalam harta mereka ada bagian tertentu (70:24), bagi peminta dan yang tidak meminta (70:25). Di sana orang yang bersalat digambarkan memiliki bagian tertentu dalam hartanya bagi orang lain. Di 107:4-7 orang yang lengah terhadap salatnya dikenai celaka bersama perbuatan menahan. Kedua surah itu menaruh salat dan harta berdampingan, dan di surah 70 orang yang bersalat dikecualikan, sedangkan di surah ini mereka diancam.
- Di 4:36 perintah menyembah Allah disusul perintah berbuat baik kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Yatim dan miskin juga ada di 107:2-3, dan perbuatan kecil terhadap mereka terdapat di akhir surah. Ayat 4:36 menutup dengan kalimat bahwa Allah tidak mencintai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri. Pembaca dapat menaruh dua ayat itu berdampingan dan bertanya apakah menahan bantuan kecil bagian dari kesombongan yang sedang dibicarakan.
- Kata terakhir surah ini tidak muncul di ayat lain, dan akarnya hanya dipakai satu kali. Pembaca tidak bisa membandingkannya dan tidak bisa memastikan wujudnya dari pemakaian lain. Pembaca hanya memegang konteks, yaitu yatim, miskin, dan sesuatu yang kecil. Tidak adanya pembanding membuat kata ini tidak bisa dikunci pada satu benda tertentu. Pembaca mengisinya dengan benda yang berbeda-beda sesuai rumah dan lingkungannya, dan teks membiarkan hal itu.