فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ

Celakalah orang-orang yang bersalat,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَfa-waylun li-l-mushalliinacelakalah orang-orang yang bersalat

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. فَوَيْلٌfa-waylunmaka celaka
  2. لِلْمُصَلِّينَli-l-mushalliinabagi orang-orang yang bersalat

Inti bacaan

Peringatan mengejutkan yang menyasar praktik ibadah: 'celakalah orang-orang yang bersalat', pernyataan yang tampak paradoks, kutukan justru diarahkan pada mereka yang menjalankan ritual salat, mempersiapkan kejutan bahwa masalahnya bukan pada tindakan itu sendiri.

Penjelasan pilihan kata

Kata (فَوَيْلٌ, fa-waylun) dibuka dengan huruf penghubung yang menyimpulkan, sehingga ancaman di ayat ini terikat kepada dua bukti sebelumnya dan bukan berdiri sendiri. Rangkaian celaka yang diikuti huruf lam dipakai di 12 ayat, antara lain di 2:79, 83:1, 104:1, dan ayat ini. Yang berbeda di sini adalah siapa yang disebut sesudahnya.

Kata (لِلْمُصَلِّينَ, li-l-mushalliina) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti menghadap dalam doa. Ia dipakai di 90 ayat, dan di hampir seluruh pemakaiannya ia muncul dalam kalimat perintah, pujian, atau penyifatan orang beriman. Di 2:3 orang bertakwa disifati mendirikan salat, di 23:2 orang beriman disifati khusyuk dalam salatnya, dan di 108:2 datang perintah bersalat. Jadi bentuk pelaku dari akar ini muncul persis sekali, dan sekali itu ia berada sesudah kata celaka.

Susunan itulah yang paling perlu diperhatikan. Yang dicela bukan orang yang meninggalkan salat, melainkan orang yang mengerjakannya. Sebuah surah yang dibuka dengan pendustaan pertanggungjawaban dan dilanjutkan dengan anak yatim serta orang miskin, di ayat keempatnya berbelok kepada orang yang bersalat. Belokan itu tidak diberi satu pun kalimat pengantar.

Bahasa Indonesia menahannya dengan "celakalah orang-orang yang bersalat", tanpa menambahkan keterangan apa pun yang melunakkan. Menyisipkan kata seperti sebagian atau tertentu akan mendahului ayat berikutnya, sebab pembatasannya memang datang di 107:5 dan bukan di sini. Membaca ayat ini utuh sebagaimana tertulis berarti menerima kejutannya lebih dulu sebelum menerima keterangannya.

Bentuk jamak pada (لِلْمُصَلِّينَ, li-l-mushalliina) juga patut dicatat. Tiga ayat pertama surah ini seluruhnya berbentuk tunggal, yaitu satu orang yang mendustakan, menghardik, dan tidak mengajak. Mulai ayat ini bentuknya berubah menjadi jamak, dan bertahan jamak sampai ayat terakhir. Gambaran yang tadinya satu sosok melebar menjadi sekumpulan orang, dan pelebaran itu terjadi tepat ketika yang dibicarakan berpindah kepada orang yang beribadah.

Bandingkan ayat ini dengan 107:1. Surah dibuka dengan pertanyaan yang mengajak pendengarnya melihat seseorang dari luar, dan di sini yang dilihatnya ternyata berdiri di tempat yang sama dengan dirinya. Perpindahan itu terjadi tanpa satu pun kalimat yang menyatakannya. Pembaca yang tadi diajak memandang sosok jauh mendapati bahwa gambarannya bergeser mendekat, dan yang paling tidak nyaman dari surah ini adalah bahwa pergeseran itu tidak pernah diumumkan.

Yang perlu dijaga dalam membaca ayat ini adalah tidak mendahului ayat berikutnya. Ancaman di sini memang dialamatkan kepada sekumpulan orang yang bersalat, dan keterangan tentang siapa mereka datang sesudahnya. Membacanya sebagai celaan atas salat itu sendiri berarti berhenti di tengah kalimat panjang yang belum selesai, dan surah ini memang menyusun kalimatnya supaya berhenti di tengah terasa mustahil.

Tafsiran

Ayat ini beralih menegur orang-orang yang bersalat namun dengan kelalaian tertentu, dirinci di ayat berikutnya, dan belokan itu tidak diberi satu pun kalimat pengantar. Surah yang dibuka dengan pendustaan pertanggungjawaban, lalu anak yatim, lalu orang miskin, tiba-tiba menyebut orang yang mengerjakan salat.

Bentuk pelaku dari akar salat muncul persis 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan sekali itu ia berada sesudah kata celaka. Akar yang sama dipakai di 90 ayat, dan di hampir seluruh pemakaiannya ia muncul dalam kalimat perintah, pujian, atau penyifatan orang beriman. Di 2:3 orang bertakwa disifati mendirikan salat, dan di 108:2 datang perintah bersalat. Jadi satu-satunya tempat kata pelakunya muncul justru tempat ini.

Huruf penghubung di awal ayat menyimpulkan, bukan memulai. Ancaman ini terikat kepada dua bukti sebelumnya dan tidak berdiri sendiri. Yang menghardik anak yatim dan yang tidak mengajak memberi makan ternyata bukan orang yang jauh dari tempat ibadah. Surah ini menaruh keduanya dalam satu rangkaian tanpa menyatakan bahwa ia sedang menaruhnya bersama.

Bentuk jamaknya juga berubah di sini. Tiga ayat pertama seluruhnya tunggal, yaitu satu orang yang mendustakan, menghardik, dan tidak mengajak. Mulai ayat ini bentuknya jamak dan bertahan jamak sampai penutup. Gambaran yang tadinya satu sosok melebar menjadi sekumpulan orang, dan pelebaran itu terjadi tepat ketika yang dibicarakan berpindah kepada orang yang beribadah.

Renungan dan Hikmah

  • Yang dicela Allah di ayat ini bukan orang yang meninggalkan salat, melainkan orang yang mengerjakannya. Bentuk pelaku dari akar salat muncul persis 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan sekali itu ia berada sesudah kata celaka. Akar yang sama dipakai di 90 ayat, dan di hampir seluruh pemakaiannya ia muncul dalam kalimat perintah atau pujian. Satu-satunya tempat kata pelakunya muncul justru tempat ini. Sebuah kata yang di seluruh Al-Qur'an cuma sekali dipakai, dan sekali itu sesudah kata celaka.
  • Surah ini dibuka dengan pendustaan pertanggungjawaban, lalu anak yatim, lalu orang miskin, dan di ayat keempatnya tiba-tiba menyebut orang yang bersalat. Allah tidak memberi satu pun kalimat pengantar untuk belokan itu. Yang tadinya terbaca sebagai gambaran orang yang jauh dari ibadah berubah menjadi gambaran orang yang berada di dalamnya. Berapa jauh sebenarnya jarak antara dua sosok yang tadi terasa berbeda? Allah tidak menjawabnya, dan tidak dijawabnya membuat pertanyaan itu tinggal pada pembacanya.
  • Huruf penghubung di awal ayat menyimpulkan, bukan memulai, sehingga ancaman ini terikat kepada dua bukti sebelumnya dan tidak berdiri sendiri. Yang menghardik anak yatim dan yang tidak mengajak memberi makan ternyata bukan orang yang jauh dari tempat ibadah. Allah menaruh keduanya dalam satu rangkaian tanpa menyatakan bahwa Dia sedang menaruhnya bersama, dan pembacanya sendiri yang harus menyambungkannya. Sambungan yang ditemukan sendiri lebih sulit dilepaskan daripada yang diterangkan.
  • Ayat ini tidak memuat satu pun keterangan yang melunakkan. Tidak tertulis sebagian, tidak tertulis tertentu, dan tidak tertulis yang begini atau begitu. Pembatasannya memang datang, tetapi di ayat berikutnya, bukan di sini. Membaca ayat ini utuh sebagaimana tertulis berarti menerima kejutannya lebih dulu sebelum menerima keterangannya, dan urutan itu bagian dari caranya bekerja. Kejutan yang lebih dulu dilunakkan berhenti menjadi kejutan sama sekali.
  • Tiga ayat pertama surah ini seluruhnya berbentuk tunggal, yaitu satu orang yang mendustakan, menghardik, dan tidak mengajak. Mulai ayat ini bentuknya berubah menjadi jamak, dan bertahan jamak sampai ayat terakhir. Gambaran yang tadinya satu sosok melebar menjadi sekumpulan orang, dan pelebaran itu terjadi tepat ketika yang dibicarakan Allah berpindah kepada orang yang beribadah. Yang tunggal masih bisa dianggap orang lain; yang jamak mulai sulit dipastikan tidak memuat dirinya.
  • Rangkaian celaka yang diikuti huruf lam dipakai di 12 ayat, antara lain di 2:79, 83:1, 104:1, dan ayat ini. Di tempat-tempat lain yang disebut sesudahnya adalah orang yang menulis kitab dengan tangannya lalu mengatakan itu dari Allah, atau orang yang curang dalam takaran. Di sini yang disebut sesudahnya orang yang bersalat, dan perbedaan itulah yang membuat ayat ini berhenti di ingatan pembacanya. Rangkaian yang sudah dikenal berubah artinya oleh satu kata yang menyusul.