فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ

Maka celakalah orang-orang yang bersalat,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَfa-waylun li-l-mushalliinamaka celakalah orang-orang yang bersalat

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. فَوَيْلٌfa-waylunmaka celaka
  2. لِلْمُصَلِّينَli-l-mushalliinabagi orang-orang yang bersalat

Inti bacaan

Vonis keras diarahkan pada para pelaku ibadah itu, dan pembatasannya menyusul belakangan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (فَوَيْلٌ, fa-waylun), "maka celakalah". Huruf fa di depannya menandai akibat. Dua perbuatan sudah disebut lebih dulu, yaitu menghardik anak yatim di 107:2 dan tidak mendorong memberi makan orang miskin di 107:3, dan ancaman ini datang sesudah keduanya.

Kata celaka yang disusul huruf lam dipakai di 12 ayat, yaitu 2:79, 14:2, 19:37, 38:27, 39:22, 41:6, 43:65, 45:7, 51:60, 83:1, 104:1, dan 107:4. Sasarannya beragam. Di 2:79 ancaman itu jatuh pada orang yang menulis Kitab dengan tangannya lalu berkata "Ini dari sisi Allah", di 83:1 pada orang yang curang menakar, di 104:1 pada pengumpat dan pencela, dan di 39:22 pada orang yang hatinya keras dari mengingat Allah. Ayat-ayat sisanya menyebut orang yang kufur, musyrik, zalim, atau pembohong yang banyak berdosa. Sebelas ayat selain ayat ini tidak memuat kata salat atau orang yang bersalat.

Kata (لِلْمُصَلِّينَ, li-l-mushalliina) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Bentuk yang sama tanpa huruf lam, (الْمُصَلِّينَ, l-mushalliina), muncul 3 kali, yaitu di 70:22, 74:43, dan 107:4. Di 70:22 kata itu menjadi pengecualian bagi manusia yang sejak 70:19 digambarkan berkeluh kesah, dengan terjemahan "Kecuali orang-orang yang bersalat". Di 74:43 orang yang ditanya apa yang memasukkan mereka ke dalam Saqar menjawab, "Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang bersalat". Di ayat ini kata itu jatuh sesudah kata celaka. Kata yang sama memikul tiga kedudukan: dikecualikan di 70:22, disebut sebagai sesuatu yang tidak mereka miliki di 74:43, dan diancam di 107:4.

Akar kata salat dipakai di 90 ayat. Di 2:3 salat disebut dalam sifat orang yang beriman pada yang gaib, di 23:2 dalam sifat orang beriman yang khusyuk, dan di 108:2 dalam perintah "Maka bersalatlah bagi Tuhanmu". Di ketiga ayat itu salat berdampingan dengan pujian atau perintah. Ayat ini menaruh salat di samping ancaman.

Terjemahan menulis "celakalah orang-orang yang bersalat" tanpa keterangan penyela. Kata seperti sebagian atau tertentu tidak ditambahkan karena Arabnya tidak memuatnya, dan pembatasannya memang datang di 107:5. Membaca ayat ini sendirian menghasilkan arti yang kemudian dibatasi oleh ayat sesudahnya, sehingga kedua ayat sebaiknya dibaca berurutan.

Bentuk kata kerja dan kata pelaku di surah ini berubah jumlah. Tiga ayat pertama berbicara tentang satu orang: yang mendustakan di 107:1, yang menghardik (يَدُعُّ, yadu'u) di 107:2, dan yang tidak mendorong (يَحُضُّ, yahudhdhu) di 107:3. Mulai ayat ini pelakunya jamak, dan tetap jamak sampai ayat terakhir. Ayat ini juga sangat pendek, hanya dua kata, sama dengan 107:7, sedangkan ayat lain di surah ini terdiri atas tiga sampai lima kata.

Tafsiran

Ayat ini menyambung dua perbuatan terhadap orang lemah dengan ancaman bagi orang yang bersalat. Huruf fa di awal ayat membuat urutannya terbaca sebagai akibat. Orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin disusul oleh kelompok yang diancam, yaitu orang yang bersalat. Teks tidak menyatakan bahwa kedua kelompok itu orang yang sama, dan tidak pula menyatakan bahwa keduanya berbeda. Penghubungnya ada di ayat sesudah ini.

Ancaman ini jatuh pada pelaku salat. Di sebelas ayat lain yang memakai kata celaka dengan lam, sasarannya pembohong, pencurang, pengumpat, atau orang yang kufur dan zalim, dan tidak satu pun menyebut salat. Pembaca yang terbiasa menganggap salat sebagai tanda aman akan berhenti di ayat ini, sebab sasaran semacam itu hanya muncul sekali.

Ayat ini tidak berdiri sendiri. Kata yang sama dipakai di 70:22 untuk pengecualian dan di 74:43 untuk pengakuan, sehingga kedudukan orang yang bersalat ditentukan oleh keterangan yang menyertainya. Keterangan itu datang di 107:5, yang membatasi ancamannya pada orang yang lengah terhadap salatnya. Membaca kedua ayat sebagai satu kalimat panjang menjaga arti yang diberikan surah, dan tidak membuat ayat ini terbaca sebagai celaan atas salat itu sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Orang yang bersalat dikecualikan di 70:22, disebut sebagai hal yang tidak dimiliki di 74:43, dan diancam di 107:4. Pembaca yang menaruh kata itu di samping ketiga ayat ini melihat bahwa menyandangnya belum menentukan apa pun. Salat yang dikerjakan seseorang bisa menjadi alasan pengecualian, bisa menjadi sesuatu yang tidak dimiliki orang yang ditanya di Saqar, dan bisa pula berada di bawah kata celaka. Apa yang sebenarnya menentukan ke mana kata itu jatuh bagi seseorang yang rutin berdiri menghadap Tuhannya?
  • Ancaman ini dibuka dengan fa, sehingga terbaca sebagai akibat dari dua perbuatan di ayat-ayat sebelumnya, yaitu menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Di 2:79 celaka menimpa penulis Kitab yang berkata "Ini dari sisi Allah", dan di 39:22 menimpa orang yang hatinya keras dari mengingat Allah. Di kedua tempat itu kata celaka mengikuti perbuatan yang diceritakan lebih dulu. Pembaca bisa memeriksa mana dari perbuatan di sekitar salatnya yang sedang diikuti oleh kata itu.
  • Kata celaka dengan lam dipakai di 12 ayat, dan sebelas di antaranya menyebut pembohong, pencurang, pengumpat, orang kafir, musyrik, atau zalim. Kategori yang mudah ditunjuk dengan jari, dan mudah dipikirkan sebagai orang lain. Ayat ke-12 menyebut orang yang bersalat. Orang yang membaca daftar itu dari awal, merasa selamat sampai ayat ke-11, kehilangan jarak aman di ayat terakhir. Pembaca yang menempatkan dirinya di luar sebelas sasaran pertama punya alasan untuk itu, dan ayat ke-12 menguji alasan tersebut dari arah yang tidak disangka.
  • Tujuh ayat surah ini tidak memuat nama Allah satu kali pun. Salat dibicarakan tanpa menyebut kepada siapa salat itu dihadapkan. Sebagai pembanding, 108:2 langsung menyebut salat "bagi Tuhanmu". Dengan menyebut orang yang bersalat tanpa menyebut siapa yang dituju, surah ini membiarkan pembaca sendiri mengisi bagian itu. Apa yang terisi di sana ketika seseorang berdiri untuk bersalat, dan siapa yang ia bayangkan sedang menerimanya?
  • Tiga ayat pertama berbicara tentang satu orang, dan pembaca yang diajak melihat dari jauh merasa sedang mengamati orang lain. Ayat ini mengubah pelakunya menjadi jamak: para pelaku salat. Kata jamak lebih sulit dipastikan tidak memuat diri sendiri daripada kata tunggal. Pembaca yang tadi merasa sebagai penonton mendapati dirinya mungkin berdiri di dalam gambar itu. Bentuk jamak itu bertahan sampai ayat terakhir surah, sehingga pembaca tidak pernah kembali ke jarak aman yang disediakan tiga ayat pertama.
  • Ayat ini berdiri tanpa keterangan, dan keterangannya baru datang di 107:5. Pembaca yang berhenti di sini membawa pulang celaan atas salat, sedangkan pembaca yang meneruskan menemukan bahwa celaan itu dibatasi. Jeda antara dua ayat itu membuat pembaca merasakan ancaman lebih dulu, sebelum sempat memeriksa apakah ancaman itu mengenai dirinya. Ayat-ayat pendek di akhir surah ini memang disusun berurutan, dan urutan itu ikut menentukan apa yang dirasakan pembaca di tiap perhentian.