Ayat 107:5
الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
yang lengah terhadap salatnya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَalladziina hum 'an shalaatihim saahuunayang lengah terhadap salatnya
Terjemahan per kata (5 kata)
- الَّذِينَalladziinaorang-orang yang
- هُمْhummereka
- عَنْ'andari
- صَلَاتِهِمْshalaatihimsalatnya
- سَاهُونَsaahuunalengah
Inti bacaan
Vonis sebelumnya dipersempit menjadi mereka yang pikirannya menjauh ketika beribadah.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (الَّذِينَ هُمْ, alladziina hum), pembuka keterangan tentang siapa yang diancam di 107:4. Pembuka ini muncul 26 kali di 11 surah, dan paling padat di 23:2-9 serta 70:23-34, dua daftar sifat orang beriman. Di 23:2 sifat itu (خَاشِعُونَ, khaasyi'uuna), khusyuk dalam salat. Di 70:23 sifatnya (دَائِمُونَ, daa'imuuna), setia terus-menerus. Di 70:34 sifatnya (يُحَافِظُونَ, yuhaafizhuuna), memelihara salat. Di 107:5 pembuka yang sama dipakai untuk sifat yang dicela.
Kata (صَلَاتِهِمْ, shalaatihim), "salat mereka", muncul 5 kali, yaitu di 6:92, 23:2, 70:23, 70:34, dan 107:5. Kata depan yang mendampinginya berbeda-beda. Di 23:2 salat itu dimasuki ("dalam salatnya"), di 70:23 dan 70:34 dan 6:92 orangnya tetap pada salat itu, dan di 107:5 ada (عَنْ صَلَاتِهِمْ, 'an shalaatihim). Kata depan 'an pada dasarnya menunjuk arah menjauh dari sesuatu. Rangkaian 'an shalaatihim muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Terjemahan memakai "terhadap salatnya" supaya mengalir dalam bahasa Indonesia, dan arah menjauh yang dimaksud kata depan itu tetap bisa dirasakan.
Kata (سَاهُونَ, saahuuna) muncul 2 kali, yaitu di 51:11 dan 107:5, dan kedua ayat memakai pola yang sama: alladziina hum, lalu keterangan, lalu saahuuna. Di 51:11 keterangannya (فِي غَمْرَةٍ, fii ghamratin), "dalam kelalaian". Terjemahan memilih "lengah" untuk kata ini, yaitu kurang sadar terhadap sesuatu yang sedang terjadi. Kata "lupa" sudah dipakai untuk kata kerja yang menyatakan hilangnya ingatan, dan "lalai" dipakai luas untuk kata lain yang bermakna tidak mengindahkan, sehingga "lengah" memberi kata ini tempat sendiri.
Ayat ini menjawab pertanyaan yang ditinggalkan 107:4. Ancamannya tidak mengenai salat, tetapi orang yang sedang lengah terhadap salatnya. Ayat ini tidak memberi ukuran seberapa sering, seberapa lama, atau pada waktu mana kelengahan itu terjadi. Hal yang tidak ditulis itu tidak ditambahkan oleh terjemahan.
Kata pertanggungjawaban berada di sekitar kata saahuuna di kedua tempat yang memakainya. Di 51:12 orang-orang itu bertanya (أَيَّانَ يَوْمُ الدِّينِ, ayyaana yawmu d-diini), "kapankah Hari Pertanggungjawaban", dan surah ini sendiri dibuka di 107:1 dengan (يُكَذِّبُ بِالدِّينِ, yukadzdzibu bi-d-diini). Kata itu tidak ada di 107:5, tetapi ayat ini berdiri di antara dua tempat yang menyebutnya.
Ayat ini juga dekat dengan 107:6. Keduanya dibuka dengan dua kata yang sama, dan 107:7 kemudian memakai huruf wa, "dan", untuk menambahkan kalimat ketiga tanpa pembuka baru. Dengan demikian tiga kalimat pendek di akhir surah menerangkan satu kelompok yang sama.
Tafsiran
Ayat ini membatasi ancaman di 107:4. Ancaman itu mengenai orang yang lengah terhadap salatnya sendiri. Kata "mereka" dan "salat mereka" menegaskan bahwa salat itu milik mereka, dan kelengahannya ada pada hubungan mereka dengan salat itu.
Kata depan yang dipakai berbeda dari ketiga ayat pembanding. Dalam salat orang bisa khusyuk, terhadap salat orang bisa setia dan memelihara, tetapi di 107:5 arahnya menjauh dari salat. Orang itu masih berada di tempat salat tetapi perhatiannya sudah pergi. Teks tidak menguraikan bentuk kepergian itu.
Surah ini memuat dua gambaran yang berbeda tentang hubungan dengan hari pertanggungjawaban. Di 107:1 ada orang yang mendustakannya, dan di 107:5 ada orang yang lengah terhadap salatnya. Keduanya mungkin orang yang sama dan mungkin berbeda, dan hubungan sebab di antaranya dibiarkan terbuka. Pembaca diberi dua gambaran dan menimbang sendiri hubungannya. Di 51:11-12 kata saahuuna berdampingan dengan pertanyaan tentang kapan hari itu terjadi, sehingga kelengahan dan hari pertanggungjawaban pernah bertemu dalam satu rangkaian di surah lain.
Kata yang sama muncul di 51:11 bersama "dalam kelalaian". Dua ayat itu memiliki susunan yang sama, dan keduanya menggambarkan orang yang sedang berada dalam satu keadaan tetapi tidak sadar akan keadaan itu. Di 51:11 orang itu tidak sadar akan kelalaiannya sendiri, dan di 107:5 akan salat yang dikerjakannya.
Renungan dan Hikmah
- Ancaman di 107:4 jatuh pada orang yang lengah terhadap salatnya, dan syarat itu baru terbaca di ayat ini. Seseorang bisa memenuhi semua bentuk salat dan tetap termasuk di dalamnya, bila perhatiannya sudah pergi. Perintah di 2:238 berbunyi "berdirilah karena Allah dengan taat", dan ayat ini menyebut keadaan orang yang perhatiannya menjauh dari salatnya. Orang yang bersalat tetapi memikirkan hal lain sepanjang waktu mungkin mengenali dirinya di sini. Apa yang sebenarnya dibawa seseorang ke dalam salat selain tubuhnya?
- Kata depan yang mendampingi salat berbeda di tiap ayat. Di 23:2 orangnya khusyuk dalam salatnya, di 70:23 orangnya terus-menerus pada salatnya, dan di 107:5 orangnya lengah terhadap salatnya. Ayat ini memakai arah yang menjauh. Pembaca yang membandingkan ketiganya melihat bahwa jarak ke salat bisa berbeda meski tempat dan waktunya sama. Jarak itu tidak diberi ukuran, dan pembaca sendiri yang menilai di mana posisinya.
- Kata yang sama dipakai di 51:11, tempat orang-orang itu berada dalam kelalaian. Kelengahan terhadap salat di 107:5 dan kelengahan dalam kelalaian di 51:11 memakai susunan yang sama, seolah dua gambaran itu satu penyakit yang tampak di dua tempat. Orang yang lengah di satu bagian hidupnya jarang merasa lengah, sebab kelengahan menyembunyikan dirinya sendiri. Dari mana seseorang bisa tahu bahwa dirinya sedang lengah, bila perhatiannya sedang berada di tempat lain?
- Pembuka alladziina hum paling banyak muncul dalam daftar sifat orang beriman di 23:2-9 dan 70:23-34. Ayat ini memakai pembuka yang sama dan mengisinya dengan sifat yang dicela. Pembaca yang hafal daftar-daftar itu mengenali iramanya, lalu menemukan isinya terbalik. Susunan yang sama memuat dua kemungkinan, dan tidak ada penanda di awalnya yang memberi tahu mana daftar pujian dan mana daftar celaan.
- Di 4:142 orang yang berdiri untuk salat dengan malas disebut tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali. Di 20:14 salat dikaitkan dengan mengingat: perintahnya berbunyi "tegakkanlah salat untuk mengingat-Ku", dan yang berbicara menyebut diri-Nya Allah. Kelengahan terhadap salat di ayat ini mudah dipikirkan sebagai kelengahan terhadap yang diingat di dalamnya, meski 107:5 sendiri tidak mengatakannya. Ayat ini hanya memuat satu kata lengah, dan bagaimana pembaca mengisi kekosongan itu menjadi urusannya sendiri.
- Pembaca yang berhenti di 107:4 membawa pertanyaan: celaka bagi orang yang bersalat, mengapa? Ayat ini menjawab dengan satu keterangan pendek dan tidak menambahkan rincian apa pun. Ukuran lain datang dari ayat yang berbeda: 29:45 menyebut bahwa salat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, dan bahwa mengingat Allah itu lebih besar. Orang yang ingin tahu apakah dirinya termasuk dapat menaruh kedua ayat itu berdampingan dan bertanya apakah salatnya sedang mengerjakan apa yang disebut di sana.
Ayat 107:6
الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
yang ingin dilihat orang,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَalladziina hum yuraa'uunayang ingin dilihat orang
Terjemahan per kata (3 kata)
- الَّذِينَalladziinaorang-orang yang
- هُمْhummereka
- يُرَاءُونَyuraa'uunaingin dilihat
Inti bacaan
Kelompok itu juga digambarkan gemar tampil demi tatapan sesama.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (يُرَاءُونَ, yuraa'uuna) menandai perbuatan yang sedang berlangsung dan berjumlah jamak. Bentuk ini muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 4:142 dan 107:6. Di 4:142 kata itu disusul langsung oleh objeknya, (يُرَاءُونَ النَّاسَ, yuraa'uuna n-naasa), dan terjemahannya "ingin dilihat manusia". Di 107:6 objek itu tidak ditulis.
Bentuk kata bendanya, (رِئَاءَ النَّاسِ, ri'aa'a n-naasi), muncul 3 kali, yaitu di 2:264, 4:38, dan 8:47. Dari kelima tempat yang memakai akar ini dengan arti memperlihatkan diri, yaitu 2:264, 4:38, 4:142, 8:47, dan 107:6, hanya 107:6 yang tidak menyebut manusia. Pembaca yang mengenal ayat-ayat lain itu akan mengisi bagian yang kosong dengan kata manusia, tetapi teks ayat ini sendiri berhenti pada kata kerjanya.
Akar kata ini sama dengan akar kata pembuka surah. Di 107:1 tertulis (أَرَأَيْتَ, a-ra'ayta), "apakah engkau memperhatikan", yang muncul 9 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 6:40, 6:47, 17:62, 18:63, 25:43, 96:9, 96:11, 96:13, dan 107:1, dan berarti melihat. Akar yang berarti melihat itu dipakai di 297 ayat. Surah ini dibuka dengan permintaan untuk memperhatikan seseorang, dan menjelang penutupnya menyebut orang yang ingin diperhatikan. Tidak ada kalimat di dalam surahnya yang menunjuk kesejajaran itu.
Dalam bentuk ini akar yang berarti melihat memberi arti lain daripada melihat biasa. Kata (يُرَاءُونَ, yuraa'uuna) menunjuk perbuatan yang diarahkan kepada pihak lain, yaitu memperlihatkan diri kepada pandangan orang.
Hal yang dikerjakan sambil ingin dilihat berbeda di tiap ayat: menginfakkan harta di 2:264, menafkahkan harta di 4:38, keluar dari kampung halaman dengan angkuh di 8:47, dan berdiri untuk salat di 4:142. Ayat 107:6 tidak menyebut apa pun yang dikerjakan, dan letaknya tepat di antara salat di 107:5 dan bantuan di 107:7.
Terjemahan menulis "yang ingin dilihat orang". Kata ria tidak dipakai karena dalam bahasa Indonesia kata itu berarti riang, dan terjemahan ini sendiri memakainya dengan arti itu di 36:55, 40:75, 44:27, 52:18, dan 83:31, antara lain dalam rangkaian "bersuka ria". Kata riya tidak dipakai karena banyak pembaca tidak langsung menangkap artinya, sedangkan "ingin dilihat" menjelaskan dirinya sendiri dan sejalan dengan padanan di 4:38, 4:142, dan 8:47.
Ayat ini memakai dua kata pembuka yang sama dengan 107:5, yaitu (الَّذِينَ هُمْ, alladziina hum), sehingga keduanya terbaca sebagai dua sifat bagi kelompok yang sama. Pembuka itu muncul 26 kali di 11 surah. Ayat ini terdiri atas tiga kata, lebih panjang daripada 107:4 dan 107:7 yang dua kata, dan lebih pendek daripada ayat-ayat lain di surah ini.
Tafsiran
Ayat ini memberi sifat kedua kepada kelompok yang diancam. Di 107:5 sifat pertama menyangkut hubungan mereka dengan salat, dan di sini sifat kedua menyangkut ke mana perhatian mereka diarahkan, yaitu keluar, kepada pandangan orang lain. Perbuatan itu menunggu penonton.
Di 4:142 tiga hal disebut bersama dalam satu ayat: mereka berdiri untuk salat dengan malas, mereka ingin dilihat manusia, dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali. Ayat itu menunjukkan bahwa salat dan keinginan untuk dilihat bisa berada dalam satu kejadian. Ayat 107:6 tidak mengulang rinciannya, dan membiarkan pembaca mengenali sendiri bentuk perbuatan itu.
Karena objeknya tidak ditulis, ayat ini terbuka. Siapa yang diharapkan melihat tidak disebut, dan pembaca yang mengisinya dengan kata manusia mengikuti keempat ayat lain. Tiga ayat penutup surah ini memakai bentuk yang menyatakan perbuatan sedang berlangsung: lengah di 107:5, ingin dilihat di 107:6, dan menahan di 107:7. Tidak ada yang menyebut peristiwa sekali jadi, sehingga ketiganya terbaca sebagai kebiasaan.
Kesejajaran dengan 107:1 menambah satu lapis: orang yang diajak melihat di awal surah, dan orang yang sibuk dilihat menjelang akhir, memakai akar kata yang sama.
Renungan dan Hikmah
- Di tiga ayat yang memakai bentuk kata benda, perbuatan ingin dilihat berdampingan dengan kurangnya iman atau dengan menghalangi jalan Allah. Di 2:264 orangnya tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, di 4:38 sama, dan di 8:47 orangnya juga menghalangi dari jalan Allah. Ayat 107:6 tidak memuat penyerta itu, tetapi pembaca yang mengenal ketiga ayat tadi mendengar nada yang sama. Perbuatan yang tampak sebagai urusan antarmanusia ternyata berkaitan dengan hubungan yang tidak dilihat siapa pun.
- Ayat ini tidak menyebut siapa yang diharapkan melihat. Kekosongan itu membuat pembaca yang hendak membaca diri sendiri tidak punya kata yang bisa dihindari. Orang yang bekerja, bersedekah, atau beribadah dengan sedikit mata tertuju pada tanggapan orang di sekitarnya mengenali kekosongan ini. Siapa sebenarnya yang dibayangkan seseorang ketika sedang melakukan sesuatu yang baik, dan apa yang terjadi pada perbuatannya ketika bayangan itu tidak ada?
- Surah ini dibuka dengan permintaan untuk memperhatikan orang lain, dan menjelang akhir menyebut orang yang ingin diperhatikan. Akar katanya sama. Pembaca yang tadi diajak menilai ternyata berhadapan dengan gambaran yang bisa juga mengenai dirinya, dan dapat mengajukan satu pertanyaan sederhana kepada diri sendiri: pandangan siapa yang paling sering dicarinya? Akar yang sama di dua ujung surah memberi pembaca cermin yang tidak diumumkan, dan cermin semacam itu baru bekerja bila ada yang mau menoleh.
- Ayat 4:142 menggabungkan tiga hal dalam satu kalimat: berdiri untuk salat dengan malas, ingin dilihat manusia, dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali. Di sana salat tetap dikerjakan lengkap dengan gerakan dan waktunya. Isinya yang hilang. Ayat 107:5-6 menyebut dua dari tiga hal itu dalam dua ayat pendek yang berurutan, sehingga pembaca yang membaca keduanya bersama mendapat gambar yang mirip dengan 4:142. Pembaca yang pernah berdiri untuk salat sambil memikirkan hal lain dapat membandingkan pengalamannya sendiri dengan gambaran itu.
- Dua ayat berturut-turut dibuka dengan dua kata yang sama, lalu masing-masing menyebut satu sifat. Sifat pertama menyangkut hubungan dengan salat, dan sifat kedua menyangkut penonton. Tidak ada kata penghubung di antara keduanya, sehingga pembaca tidak dituntun untuk memilih salah satu. Orang yang merasa dirinya tidak lengah bisa saja mengenali sifat kedua, dan sebaliknya, karena susunannya membuat keduanya terbaca sebagai kemungkinan yang bergandengan.
- Ayat 8:47 menutup larangan menjadi seperti orang yang keluar dengan angkuh dan ingin dilihat orang dengan kalimat "Allah meliputi apa yang mereka kerjakan". Keinginan untuk dilihat menghadap satu arah, yaitu kepada manusia, sedangkan penutup ayat itu menaruh perbuatan yang sama dalam jangkauan yang meliputinya. Orang yang menghitung siapa saja yang melihat perbuatannya bisa menambahkan satu hitungan yang disebut ayat itu, yaitu Dia yang meliputi apa yang dikerjakan.