الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
Yang mereka itu berbuat ria,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَalladziina hum yuraa'uunayang mereka itu berbuat ria
Terjemahan per kata (3 kata)
- الَّذِينَalladziinaorang-orang yang
- هُمْhummereka
- يُرَاءُونَyuraa'uunaberbuat ria
Inti bacaan
Motif tersembunyi yang terungkap: 'yang mereka itu berbuat ria', pengungkapan bahwa ibadah yang dilakukan sesungguhnya untuk pamer, bukan ketulusan, kritik terhadap performa spiritual yang mengutamakan pengakuan manusia.
Penjelasan pilihan kata
Kata (يُرَاءُونَ, yuraa-uuna) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 4:142 dan 107:6. Di 4:142 tertulis (قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ, qaamuu kusaalaa yuraa-uuna n-naasa), apabila berdiri untuk salat mereka melakukannya dengan malas dan bermaksud riya di hadapan manusia. Jadi kedua kemunculan kata ini berada dalam pembicaraan tentang salat, dan tidak satu pun di luar itu.
Akar (يُرَاءُونَ, yuraa-uuna) berarti melihat dan menimbang, akar yang dipakai di 297 ayat dan artinya melihat. Bentuk yang dipakai di sini bentuk saling, sehingga artinya membuat diri dilihat orang lain. Jadi yang dicela bukan melihat dan bukan dilihat, melainkan mengerjakan sesuatu supaya dilihat. Perbuatan yang sama bisa dikerjakan dua orang dengan tampilan yang sama persis, dan yang membedakannya cuma ke arah mana wajah batinnya menghadap.
Akar itu jugalah akar kata pembuka surah ini. Di 107:1 tertulis (أَرَأَيْتَ, a-ra-ayta), tahukah engkau, dan di sini tertulis (يُرَاءُونَ, yuraa-uuna), mereka membuat diri dilihat. Surah ini dibuka dengan mengajak pendengarnya melihat dan hampir ditutup dengan mencela orang yang sibuk membuat dirinya dilihat. Kesejajaran itu tidak diterangkan oleh satu pun kalimat di dalam surahnya.
Susunan tiga ayat terakhir juga patut diperhatikan. Ayat 107:5 menyebut hubungan mereka dengan salatnya, ayat ini menyebut ke arah siapa perbuatan mereka menghadap, dan 107:7 menyebut apa yang mereka tahan dari orang lain. Ketiganya dirangkai dengan kata sambung yang sama dan tanpa satu pun keterangan yang menghubungkan sebabnya. Yang berpaling dari salatnya, yang menghadap kepada pandangan orang, dan yang menahan barang pinjaman ternyata satu orang yang sama.
Bentuk kata kerjanya berbentuk sekarang, yaitu sesuatu yang sedang dan terus dikerjakan, bukan sesuatu yang sekali terjadi. Bentuk itu sejalan dengan (سَاهُونَ, saahuuna) di ayat sebelumnya, yang juga menyatakan keadaan yang melekat. Jadi dua ayat berturut-turut menggambarkan sesuatu yang berjalan terus, bukan dua kejadian yang bisa ditunjuk waktunya.
Letak ayat ini di dalam surahnya juga patut diperhatikan. Ia berdiri persis di antara kelalaian terhadap salat di 107:5 dan penahanan bantuan kecil di 107:7. Yang di sebelah kirinya perkara antara seseorang dan Allah, yang di sebelah kanannya perkara antara seseorang dan tetangganya. Ayat ini berdiri di tengah keduanya dan menyebut hal yang menghubungkan keduanya, yaitu kepada siapa perbuatannya ditujukan. Orang yang menghadap kepada pandangan manusia akan lalai terhadap yang tidak dilihat manusia dan akan menahan yang tidak akan dipuji manusia. Surah ini tidak menyatakan hubungan itu, dan cuma meletakkan ketiganya berurutan.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan celaan dengan motif salat mereka: pamer, bukan ketulusan. Kata yang dipakai muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, dan yang satunya di 4:142, tentang mereka yang berdiri untuk salat dengan malas dan bermaksud riya di hadapan manusia. Jadi kedua kemunculan kata ini berada dalam pembicaraan tentang salat, dan tidak satu pun di luar itu.
Bentuk katanya bentuk saling, sehingga artinya membuat diri dilihat orang lain. Yang dicela bukan melihat dan bukan dilihat, melainkan mengerjakan sesuatu supaya dilihat. Perbuatan yang sama bisa dikerjakan dua orang dengan tampilan yang sama persis, dan yang membedakannya tidak terlihat dari luar sama sekali. Karena itu celaan ini tidak bisa diperiksa oleh siapa pun kecuali oleh pelakunya sendiri dan oleh Allah.
Akar kata ini adalah akar kata pembuka surahnya. Di 107:1 Allah mengajak pendengarnya melihat, dan di sini Dia mencela orang yang sibuk membuat dirinya dilihat. Satu akar, dua arah yang berlawanan: yang satu memandang keluar untuk memahami, yang lain memandang keluar untuk dinilai. Kesejajaran itu tidak diterangkan oleh satu pun kalimat di dalam surahnya.
Susunan tiga ayat terakhir menerangkan lebih jauh. Ayat 107:5 menyebut hubungan mereka dengan salatnya, ayat ini menyebut ke arah siapa perbuatan mereka menghadap, dan 107:7 menyebut apa yang mereka tahan dari orang lain. Ketiganya dirangkai tanpa satu pun keterangan yang menghubungkan sebabnya, dan pembacanya sendiri yang harus menemukan bahwa ketiganya satu orang yang sama.
Renungan dan Hikmah
- Kata yang dipakai di ayat ini muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 4:142 dan ayat ini, dan kedua kemunculannya berada dalam pembicaraan tentang salat. Di 4:142 Allah menyebut mereka yang berdiri untuk salat dengan malas dan bermaksud riya di hadapan manusia. Jadi kata ini seakan tidak pernah muncul di luar tempat ibadah, dan pemakaian yang sesempit itu sendiri sudah menyatakan sesuatu. Yang paling mudah dijadikan tontonan ternyata justru yang paling dekat kepada Allah.
- Bentuk katanya bentuk saling, sehingga artinya membuat diri dilihat orang lain. Yang dicela Allah bukan melihat dan bukan dilihat, melainkan mengerjakan sesuatu supaya dilihat. Perbuatan yang sama bisa dikerjakan dua orang dengan tampilan yang sama persis, dan yang membedakannya tidak terlihat dari luar sama sekali. Bagaimana seseorang memeriksa sesuatu yang tidak meninggalkan bekas yang bisa dilihatnya sendiri? Allah menyebutnya justru karena tidak ada alat lain yang bisa menyebutkannya.
- Akar kata ini adalah akar kata pembuka surahnya, dan akar itu dipakai di 297 ayat dengan arti melihat. Di 107:1 Allah mengajak pendengarnya melihat, dan di sini Dia mencela orang yang sibuk membuat dirinya dilihat. Satu akar, dua arah yang berlawanan: yang satu memandang keluar untuk memahami, yang lain memandang keluar untuk dinilai. Kesejajaran itu tidak diterangkan oleh satu pun kalimat di dalam surahnya. Dua arah itu memakai mata yang sama dan berakhir di tempat yang berlawanan.
- Ayat 107:5 menyebut hubungan mereka dengan salatnya, ayat ini menyebut ke arah siapa perbuatan mereka menghadap, dan 107:7 menyebut apa yang mereka tahan dari orang lain. Allah merangkai ketiganya tanpa satu pun keterangan yang menghubungkan sebabnya. Yang berpaling dari salatnya, yang menghadap kepada pandangan orang, dan yang menahan barang pinjaman ternyata satu orang yang sama, dan pembacanya sendiri yang harus menemukannya.
- Bentuk kata kerjanya berbentuk sekarang, yaitu sesuatu yang sedang dan terus dikerjakan, bukan sesuatu yang sekali terjadi. Bentuk itu sejalan dengan kata di ayat sebelumnya, yang juga menyatakan keadaan yang melekat. Jadi dua ayat berturut-turut menggambarkan sesuatu yang berjalan terus, bukan dua kejadian yang bisa ditunjuk waktunya. Yang berjalan terus tidak pernah terasa sebagai keputusan, dan karena itu tidak pernah ditinjau ulang.
- Celaan di ayat ini tidak bisa diperiksa oleh siapa pun kecuali oleh pelakunya sendiri dan oleh Allah. Dari luar, orang yang bersalat karena Allah dan orang yang bersalat supaya dilihat tampak sama persis. Justru karena itu ayat ini tidak bisa dipakai untuk menuduh orang lain, dan cuma bisa dipakai untuk memeriksa diri sendiri. Sebuah celaan yang tidak menyediakan alat untuk menuduh orang lain memaksa pembacanya berhenti pada dirinya. Sesuatu yang cuma bisa diperiksa oleh pelakunya sendiri tidak pernah bisa diselesaikan lewat penilaian orang, dan itu sebabnya pujian dari luar tidak pernah menjadi bukti apa pun tentang perkara ini.