وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

Dan menahan bantuan kecil.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَwa-yamna'uuna l-maa'uunadan menahan bantuan kecil

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. وَيَمْنَعُونَwa-yamna'uunadan mereka menahan
  2. الْمَاعُونَl-maa'uunabantuan kecil

Inti bacaan

Kalimat penutup berisi dua kata saja tentang barang remeh yang tidak dilepas.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (وَيَمْنَعُونَ, wa-yamna'uuna) berarti "dan mereka menahan". Huruf wa di depannya menyambung ayat ini ke 107:5 dan 107:6. Kedua ayat itu dibuka dengan alladziina hum, dan ayat ini tidak mengulang pembuka itu, sehingga kalimat ketiga menempel pada kelompok yang sama tanpa pembuka baru.

Akar kata menahan dipakai di 17 ayat, yaitu 2:114, 4:141, 7:12, 9:54, 12:63, 17:59, 17:94, 18:55, 20:92, 21:43, 38:75, 50:25, 56:33, 59:2, 68:12, 70:21, dan 107:7. Di 2:114 kata kerjanya dipakai untuk melarang masjid-masjid Allah agar nama-Nya disebut di dalamnya, dan di 18:55 untuk menghalangi manusia dari beriman. Di 50:25 dan 68:12 muncul (مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ, mannaa'in li-l-khayri), "sangat menghalangi kebaikan", dan di 70:21 muncul (مَنُوعًا, manuu'an), yang diterjemahkan "kikir" untuk manusia yang disentuh kebaikan. Tiga ayat terakhir itu mengaitkan akar menahan dengan kebaikan. Terjemahan memakai "menghalangi" untuk orang atau tindakan yang ditahan, dan "menahan" di sini karena yang ditahan sesuatu yang bisa diberikan.

Kata (الْمَاعُونَ, l-maa'uuna) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya hanya dipakai di ayat ini. Karena tidak ada pemakaian kedua, maknanya tidak dapat dibandingkan dengan ayat lain. Terjemahan "bantuan kecil" bertumpu pada konteks: kata ini berdiri sesudah anak yatim di 107:2 dan orang miskin di 107:3, serta sesudah kata kerja yang berarti menahan, sehingga yang dimaksud sesuatu yang bisa diberikan atau dipinjamkan. Teks tidak menyebut jenisnya. Sebagian pembaca menerjemahkannya "barang berguna", dan "bantuan kecil" mencakup barang maupun pertolongan tanpa memilih salah satu.

Anak yatim dan orang miskin disebut bersama dalam satu ayat di 8 ayat, yaitu 2:83, 2:177, 2:215, 4:8, 4:36, 8:41, 59:7, dan 76:8. Di surah ini keduanya tidak berada dalam satu ayat, tetapi di dua ayat berurutan, yaitu 107:2 dan 107:3, dan bantuan kecil di ayat terakhir menyusul keduanya.

Ketiga perbuatan terhadap sesama di surah ini terletak di awal dan di akhir. Di 107:2 ada (يَدُعُّ, yadu'u) yang menghardik anak yatim, di 107:3 ada (يَحُضُّ, yahudhdhu) yang tidak mendorong memberi makan orang miskin, dan di 107:7 ada mereka yang menahan bantuan kecil. Salat dan keinginan dilihat berada di tengah, di 107:4 sampai 107:6. Dengan demikian surah ini mengapit pembicaraan tentang salat dengan perbuatan terhadap orang lain.

Ayat ini terdiri atas dua kata, sama dengan 107:4, dan kata terakhirnya, yaitu kata terakhir seluruh surah, adalah kata yang tidak punya kerabat di ayat mana pun.

Tafsiran

Ayat ini menutup surah dengan perbuatan menahan sesuatu yang kecil. Sesudah salat dan keinginan dilihat di tengah surah, penutupnya kembali kepada orang lain, seperti pembukanya. Benda yang ditahan tidak diberi ukuran, selain lewat kata kecil yang terbaca dari konteksnya.

Pasangan kata kerja dan benda di ayat ini sederhana: mereka menahan, bantuan kecil. Tidak ada keterangan pelaku, alasan, atau akibat. Kesederhanaan itu membuat ayat ini terbaca sebagai pernyataan faktual yang tidak menunggu pembelaan. Pembaca yang ingin tahu apa saja yang termasuk bantuan kecil tidak dibantu oleh teks, dan terjemahan tidak menambahkannya.

Menahan di ayat ini menyatakan perbuatan yang sedang berlangsung, dan sama dengan lengah di 107:5 serta ingin dilihat di 107:6, tidak ada yang menyebut peristiwa sekali jadi. Menahan bantuan kecil dengan begitu terbaca sebagai pola yang berulang.

Dari 107:2 sampai 107:7 surah ini menyusun tiga perbuatan terhadap orang lain dan dua sifat yang menyangkut salat. Perbuatan terhadap orang lain datang di awal dan di akhir, dan semuanya kecil: menghardik, tidak mendorong memberi makan, dan menahan bantuan. Tidak ada satu pun yang disebut sebagai kejahatan besar. Ayat ini dan 107:4 sama-sama hanya dua kata, dan keduanya mengapit dua ayat tentang sifat kelompok yang diancam, yaitu 107:5 dan 107:6.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat terakhir surah ini menyebut yang ditahan dengan kata yang artinya kecil. Bukan harta besar, bukan warisan, dan tidak ada angka. Pembaca yang menimbang apakah dirinya tergolong sulit membayangkan menahan sesuatu yang besar, tetapi lebih mudah menemukan benda kecil yang dipegangnya erat: waktu sebentar, pinjaman yang tidak jadi, jawaban atas pertanyaan sederhana. Apa saja yang setiap hari ditahan seseorang dari orang di dekatnya tanpa pernah terasa sebagai menahan?
  • Surah ini membuka dan menutup dengan perbuatan terhadap orang lain, dan menaruh salat di tengah. Di 2:177 hal serupa tersusun dalam satu ayat: beriman kepada Allah, memberikan harta kepada kerabat, anak yatim, dan orang miskin, serta menegakkan salat dan memberikan zakat. Urutan di sana mengikat iman, harta, dan salat dalam satu kalimat. Di surah ini perbuatan terhadap sesama berada di kedua sisi dan salat berada di tengahnya.
  • Akar kata menahan dipakai di 2:114 untuk orang yang melarang masjid-masjid Allah agar nama-Nya disebut di dalamnya, dan di 18:55 untuk menghalangi manusia dari beriman. Di 107:7 akar yang sama dipakai untuk bantuan kecil. Satu akar kata menjangkau tempat ibadah dan benda sepele sekalipun. Pembaca yang hanya memperhatikan larangan besar mungkin tidak menyadari bahwa kata yang sama dipakai di ujung yang paling remeh.
  • Di 70:21 manusia yang disentuh kebaikan menjadi kikir, lalu 70:22 mengecualikan orang yang bersalat. Ayat-ayat sesudahnya menggambarkan mereka: dalam harta mereka ada bagian tertentu (70:24), bagi peminta dan yang tidak meminta (70:25). Di sana orang yang bersalat digambarkan memiliki bagian tertentu dalam hartanya bagi orang lain. Di 107:4-7 orang yang lengah terhadap salatnya dikenai celaka bersama perbuatan menahan. Kedua surah itu menaruh salat dan harta berdampingan, dan di surah 70 orang yang bersalat dikecualikan, sedangkan di surah ini mereka diancam.
  • Di 4:36 perintah menyembah Allah disusul perintah berbuat baik kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Yatim dan miskin juga ada di 107:2-3, dan perbuatan kecil terhadap mereka terdapat di akhir surah. Ayat 4:36 menutup dengan kalimat bahwa Allah tidak mencintai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri. Pembaca dapat menaruh dua ayat itu berdampingan dan bertanya apakah menahan bantuan kecil bagian dari kesombongan yang sedang dibicarakan.
  • Kata terakhir surah ini tidak muncul di ayat lain, dan akarnya hanya dipakai satu kali. Pembaca tidak bisa membandingkannya dan tidak bisa memastikan wujudnya dari pemakaian lain. Pembaca hanya memegang konteks, yaitu yatim, miskin, dan sesuatu yang kecil. Tidak adanya pembanding membuat kata ini tidak bisa dikunci pada satu benda tertentu. Pembaca mengisinya dengan benda yang berbeda-beda sesuai rumah dan lingkungannya, dan teks membiarkan hal itu.