Ayat 108:1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ
Sesungguhnya Kami telah memberimu kelimpahan.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَinnaa a'thaynaaka l-kawtsarasesungguhnya Kami telah memberimu kelimpahan
Terjemahan per kata (3 kata)
- إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
- أَعْطَيْنَاكَa'thaynaakaKami menganugerahimu
- الْكَوْثَرَl-kawtsaraal-Kausar
Inti bacaan
Pembukaan Al-Kawthar dengan jaminan kelimpahan: 'sesungguhnya Kami telah memberimu kelimpahan', penegasan anugerah besar yang diberikan, dasar bagi respons syukur yang akan dijelaskan berikutnya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat pembuka ini dimulai dengan penegas yang menyatu dengan pelakunya. Bentuk (إِنَّا, innaa) adalah gabungan kata penegas dengan kata ganti "Kami", jadi satu kata memikul dua muatan sekaligus: penegasan dan penyebutan siapa yang berbicara. Bahasa Indonesia memisahkan keduanya, sehingga terbaca "sesungguhnya Kami". Penegas dipakai ketika yang dinyatakan diperkirakan akan diragukan, dan surah ini memang berbicara kepada seseorang yang sedang dituduh kehilangan segalanya.
Penyebutan pelaku itu patut dibandingkan dengan ayat penutup surah ini. Di 108:3 penegasnya berdiri sendirian sebagai (إِنَّ, inna), tanpa kata ganti apa pun yang menempel. Jadi ketika yang dibicarakan pemberian, Yang memberi menyebutkan diri-Nya di dalam kalimatnya; ketika yang dibicarakan nasib pihak yang membenci, penyebutan itu tidak ada. Surah ini dikurung dua penegas pada kedua ujungnya, dan hanya yang di pembuka yang membawa serta pelakunya.
Kata kerjanya (أَعْطَيْنَاكَ, a'thaynaaka) berbentuk keempat dan berwaktu lampau, bukan sedang atau akan. Akarnya berarti memberi, dipakai di dua belas ayat. Pilihan waktu lampau itu menentukan seluruh bacaan surah: yang disebut bukan janji yang menunggu ditepati, melainkan pemberian yang sudah selesai diserahkan. Karena itu perintah di ayat berikutnya tidak berkedudukan sebagai syarat untuk mendapat, melainkan sebagai jawaban atas yang sudah diterima. Kata ganti "-mu" yang menempel di ujungnya berbentuk tunggal, jadi yang disapa satu orang, bukan kelompok.
Kata terakhirnya (الْكَوْثَرَ, al-kautsara), dan bentuk ini dipakai sekali saja di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Akarnya berarti banyak. Ia tersebar luas, hadir di seratus enam puluh dua ayat, dan di mana-mana ia berarti banyak atau memperbanyak. Jadi akarnya sangat dikenal sementara bentuk ini sama sekali sendirian. Ketakrifannya menambah satu lapis lagi: yang disebut bukan sekadar sesuatu yang banyak, melainkan yang banyak itu, seakan pendengarnya sudah tahu apa yang dimaksud.
Padanan "kelimpahan" dipilih justru karena (الْكَوْثَرَ, al-kautsara) tidak dirinci di dalam Al-Qur'an sendiri. Ayat ini tidak menyebutkan bendanya, tidak menyebutkan jumlahnya, dan tidak menyebutkan bentuknya. Yang disebut hanya ukurannya, yaitu berlimpah. Menerjemahkannya sebagai satu benda tertentu, misalnya sungai atau telaga, akan menutup apa yang sengaja dibiarkan terbuka oleh teksnya, dan penutupan itu tidak berasal dari kata-katanya melainkan dari luar. Padanan yang dipakai di sini menahan diri pada apa yang memang tertulis: sesuatu yang diberikan, sudah diserahkan, dan ukurannya melimpah.
Tafsiran
Ayat ini membuka surah dengan pemberian, bukan dengan perintah, dan urutan itu menentukan bagaimana dua ayat sesudahnya dibaca. Surah-surah lain kerap dibuka dengan sumpah, seruan, atau peringatan. Yang ini dibuka dengan pernyataan bahwa sesuatu sudah diserahkan dan penyerahannya selesai. Karena itu perintah bersalat dan berkurban di 108:2 datang sebagai jawaban, bukan sebagai tagihan.
Letaknya sebagai pembuka juga menyiapkan bantahan di 108:3. Surah ini berbicara kepada seseorang yang sedang dinyatakan terputus, dan bantahannya tidak disusun sebagai sanggahan langsung. Bantahan itu dimulai dari arah lain sama sekali, yaitu dengan menyebutkan apa yang sudah dimiliki. Tuduhan berbicara tentang kehilangan; jawabannya berbicara tentang penerimaan. Keduanya tidak bertemu di titik yang sama, dan justru itu yang membuat jawabannya tidak terbaca sebagai pembelaan diri.
Yang diberikan sengaja tidak dirinci, dan ketidakrinciannya bekerja. Kalau yang disebut satu benda tertentu, pembaca akan menimbang cukup atau tidaknya benda itu terhadap apa yang hilang. Karena yang disebut hanya ukuran tanpa bentuk, penimbangan semacam itu tidak bisa dilakukan. Sesuatu yang tidak diberi batas tidak dapat dibandingkan dengan sesuatu yang punya batas, dan tuduhan di 108:3 justru berbicara tentang hal yang berbatas, yaitu keturunan yang dianggap habis.
Renungan dan Hikmah
- Allah membuka surah dengan menyebut apa yang sudah diberikan. Bukan perintah. Yang diletakkan lebih dahulu pemberiannya. Kata kerjanya berwaktu lampau, jadi yang dibicarakan bukan janji yang menunggu ditepati melainkan penyerahan yang sudah selesai. Perintah baru datang di ayat sesudahnya, dan letaknya di belakang membuatnya terbaca sebagai jawaban, bukan sebagai syarat yang harus dipenuhi lebih dulu supaya sesuatu diberikan.
- Kata yang dipakai berakar pada banyak. Kelimpahan. Yang diberikan tak dirinci jenisnya, cuma ukurannya. Tidak disebut bendanya, tidak disebut jumlahnya, tidak disebut bentuknya. Yang tidak diberi batas tidak bisa ditimbang terhadap apa pun, dan justru di situ letak jawabannya bagi orang yang sedang dihitung-hitung kehilangannya oleh orang lain. Apa yang sebenarnya sedang dihitung seseorang ketika ia merasa dirinya berkurang? Yang tidak disebut jenisnya juga tidak bisa habis dengan cara yang sudah diketahui sebelumnya.
- Allah menyebutnya kepada orang yang dituduh terputus keturunannya. Berhadapan. Yang dikatakan kehilangan justru dinyatakan menerima berlimpah. Bantahannya tidak disusun sebagai sanggahan langsung atas tuduhan itu, melainkan dimulai dari arah yang sama sekali lain. Tuduhan berbicara tentang apa yang habis, jawabannya berbicara tentang apa yang sudah diterima, dan keduanya sengaja tidak dipertemukan di titik yang sama.
- Kata yang dipakai untuk kelimpahan di ayat ini tidak muncul di tempat lain mana pun dalam Al-Qur'an, padahal akarnya termasuk yang paling sering dipakai, hadir di seratus enam puluh dua ayat. Akar yang dikenal semua orang, dalam bentuk yang cuma sekali. Sesuatu yang disebut satu kali saja tidak bisa dijelaskan dengan membandingkannya ke pemakaian lain, dan pembaca ditinggalkan dengan kata itu sendiri tanpa pembanding. Yang memberi memilih kata yang tidak Dia pakai lagi di mana pun sesudahnya.
- Kata ganti yang menempel di ujung kata kerjanya berbentuk tunggal, jadi yang disapa Allah di sini satu orang, bukan umat dan bukan kelompok. Surah ini lahir dari perkara yang sangat pribadi, yaitu tuduhan tentang keturunan seseorang. Namun ia diletakkan di dalam kitab yang dibaca semua orang sampai hari ini, sehingga urusan satu orang yang dihina menjadi urusan yang bisa dikenali siapa saja yang pernah dihitung-hitung kekurangannya.
- Bentuk lampau pada kata kerjanya menutup satu cara membaca yang biasa: bahwa pemberian Allah adalah imbalan yang menunggu perbuatan. Di sini urutannya terbalik, sebab pemberiannya sudah tuntas sebelum satu pun perintah disebut. Orang yang menerima lebih dulu berdiri di tempat yang berbeda dengan orang yang sedang menawar. Yang pertama menjawab, yang kedua bernegosiasi, dan surah ini menempatkan pembacanya di tempat yang pertama. Bentuk lampau dipakai untuk sesuatu yang belum kelihatan hasilnya pada saat kalimatnya diucapkan. Yang dijanjikan disebut sebagai yang sudah diberikan, dan bagi yang menerimanya, perbedaan antara belum tampak dan belum ada terletak seluruhnya pada siapa yang mengatakannya.
Ayat 108:2
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Maka bersalatlah bagi Tuhanmu, dan berkurbanlah.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْfa-shalli li-rabbika wa-nharmaka bersalatlah bagi Tuhanmu, dan berkurbanlah
Terjemahan per kata (3 kata)
- فَصَلِّfa-shallimaka salatlah
- لِرَبِّكَli-rabbikakepada Tuhanmu
- وَانْحَرْwa-nhardan berkurbanlah
Inti bacaan
Respons konkret atas anugerah tersebut: 'maka bersalatlah bagi Tuhanmu, dan berkurbanlah', dua tindakan nyata (ibadah rutin dan pengorbanan) sebagai ekspresi syukur yang pantas atas kelimpahan yang diterima.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka huruf (فَ, fa) yang menyatakan akibat, bukan sekadar urutan waktu. Ia menyambungkan perintah di sini dengan pemberian di 108:1 sebagai hubungan sebab dan jawaban: karena sudah diberi, maka kerjakan. Penerjemahan "maka" mempertahankan hubungan itu. Kalau diganti "dan", perintahnya akan berdiri sendiri dan hubungannya dengan ayat sebelumnya putus, padahal seluruh susunan surah ini bertumpu pada hubungan tersebut.
Kata kerja pertamanya (فَصَلِّ, fa-shalli) berbentuk perintah, dan bentuknya yang kedua, yaitu bentuk yang menyatakan pengerjaan yang bersungguh-sungguh atau berulang. Akarnya berarti menghadap dalam doa. Padanan "bersalatlah" dipertahankan karena kata ini sudah menjadi kata Indonesia yang menunjuk perbuatan tertentu, sehingga menerjemahkannya menjadi "berdoalah" justru akan memperluas maknanya melampaui apa yang dimaksud.
Yang menarik kata depan sesudahnya. Tertulis (لِرَبِّكَ, li-rabbika), dan huruf (لِ, li) berarti "bagi" atau "untuk", bukan "kepada". Bedanya nyata. "Bersalat kepada Tuhanmu" menempatkan Tuhan sebagai arah yang dituju, sedangkan "bersalat bagi Tuhanmu" menempatkan-Nya sebagai pihak yang untuk-Nya perbuatan itu dikerjakan. Yang kedua yang tertulis, dan yang kedua itu menutup kemungkinan salat dikerjakan untuk pihak lain, termasuk untuk dilihat orang. Susunan yang sama muncul di 33:56 dengan kata depan yang sama.
Kata kerja terakhirnya (وَانْحَرْ, wa-nhar), juga berbentuk perintah, dan inilah bagian yang paling khas dari ayat ini. Akarnya berarti menyembelih unta, dan akar itu tidak dipakai di satu pun ayat lain di seluruh Al-Qur'an. Hanya di sini, satu dari 6.236 ayat. Padanan "berkurbanlah" dipilih karena kata kerja ini menunjuk penyembelihan yang dilakukan sebagai persembahan, bukan penyembelihan untuk makan sehari-hari. Kedua perintah itu berpasangan dan tidak dipisahkan: yang satu perbuatan yang dikerjakan sendiri di hadapan Tuhannya, yang lain perbuatan yang hasilnya sampai kepada orang lain.
Kedua kata kerja itu, (فَصَلِّ, fa-shalli) dan (وَانْحَرْ, wa-nhar), juga tidak sama bentuknya, dan perbedaannya terbaca. Yang pertama berbentuk kedua, yaitu bentuk yang menyatakan pengerjaan bersungguh-sungguh dan berulang, sedangkan yang kedua berbentuk dasar tanpa penambahan apa pun. Susunan itu masuk akal bagi kedua perbuatannya: yang satu memang dikerjakan berkali-kali sepanjang hari, yang lain dikerjakan pada waktunya. Keduanya juga berbentuk perintah untuk satu orang, bukan untuk kelompok, sejalan dengan kata ganti tunggal di 108:1.
Huruf (وَ, wa) yang menghubungkan keduanya adalah kata sambung biasa, bukan penanda urutan wajib. Ia menyetarakan, tidak mengurutkan. Karena itu ayat ini tidak menyatakan bahwa yang satu harus selesai lebih dahulu sebelum yang lain dikerjakan. Yang dinyatakan hanyalah bahwa dua-duanya diminta, dan permintaan itu datang sebagai satu jawaban utuh atas satu pemberian.
Tafsiran
Ayat ini menjawab pemberian di 108:1 dengan dua perbuatan, dan yang diminta bukan ucapan. Tidak ada perintah bersyukur dengan lisan di sini, tidak ada perintah mengakui, tidak ada perintah memuji. Yang disebut dua pekerjaan yang memakan waktu dan memakan harta. Susunan itu menerangkan bagaimana surah ini memahami balasan atas pemberian: ia diselesaikan dengan mengerjakan, bukan dengan menyatakan.
Kedua perbuatan itu juga tidak dipilih sembarangan kalau dilihat arahnya. Yang pertama berlangsung antara seseorang dan Tuhannya, tidak memerlukan siapa pun yang lain. Yang kedua tidak mungkin berhenti pada dirinya sendiri, sebab yang disembelih akan sampai kepada orang lain. Jadi jawaban atas kelimpahan disusun dua arah sekaligus, ke atas dan ke samping, dan tidak dibiarkan berhenti di salah satunya.
Letaknya di tengah surah membuat ayat ini menjadi penghubung antara pemberian dan bantahan. Di 108:1 disebut apa yang sudah diterima, di 108:3 disebut nasib yang menuduh. Di antara keduanya diletakkan pekerjaan. Susunan itu berarti orang yang sedang dituduh tidak diminta menjawab tuduhannya, melainkan diminta mengerjakan sesuatu. Bantahan atas tuduhan diserahkan kepada Allah di ayat terakhir, sedangkan bagian yang diserahkan kepada yang dituduh hanyalah bersalat dan berkurban.
Renungan dan Hikmah
- Dua perbuatan disebut Allah sebagai jawaban. Bersalat. Dan berkurban. Keduanya memakan waktu dan salah satunya memakan harta, jadi jawaban yang diminta bukan jawaban yang murah. Tidak ada perintah mengucapkan terima kasih di sini, tidak ada perintah mengakui, tidak ada perintah memuji dengan lisan. Yang diletakkan sebagai balasan atas pemberian justru pekerjaan, dan pekerjaan tidak bisa diselesaikan dengan sekali duduk. Yang diminta memakan sesuatu dari orang yang diminta, dan justru itu yang membuatnya terhitung sebagai jawaban.
- Yang diminta bukan ucapan syukur, melainkan perbuatan. Bukan berterima kasih. Mengerjakan. Ucapan bisa diselesaikan dalam satu tarikan napas dan tidak meninggalkan bekas pada hari seseorang. Perbuatan mengambil bagian dari waktunya dan bagian dari miliknya, dan bagian yang diambil itulah yang membedakan pengakuan dari jawaban. Apa yang berkurang dari hari seseorang ketika ia mengaku sudah bersyukur?
- Perintah itu menyusul pemberian, bukan mendahuluinya. Allah memberi dulu. Meminta kemudian. Huruf penyambung di kepala ayat ini menyatakan akibat, jadi hubungannya bukan sekadar urutan melainkan sebab. Karena sudah diberi, maka kerjakan. Susunan seperti itu mengeluarkan perbuatan dari kedudukan sebagai alat tawar, sebab yang ditawar biasanya belum diserahkan, sedangkan yang di sini sudah. Orang yang menawar dan orang yang menjawab berdiri di tempat yang berbeda, sekalipun keduanya mengerjakan perbuatan yang sama persis.
- Kata depan yang dipakai berarti bagi, bukan kepada. Bedanya bukan urusan tata bahasa. Bersalat kepada Tuhan menempatkan-Nya sebagai arah yang dituju, sedangkan bersalat bagi Tuhan menempatkan-Nya sebagai pihak yang untuk-Nya perbuatan itu dikerjakan. Yang kedua yang tertulis, dan yang kedua menutup satu pintu yang tidak tertutup oleh yang pertama, yaitu mengerjakannya untuk dilihat orang lain. Satu huruf saja yang membedakan keduanya, dan huruf itu menentukan untuk siapa sebuah pekerjaan akhirnya dikerjakan.
- Kata kerja untuk berkurban di ayat ini berakar pada akar yang tidak dipakai di satu pun ayat lain dalam seluruh Al-Qur'an. Sekali saja, di sini. Surah sependek ini menyimpan dua akar semacam itu, sebab kata terputus di ayat penutupnya juga demikian. Sesuatu yang disebut sekali tidak bisa dipahami dengan menyandingkannya pada pemakaian lain, dan pembacanya tinggal berhadapan dengan perintahnya sendiri.
- Perbuatan pertama berlangsung antara seseorang dan Tuhannya dan tidak memerlukan siapa pun yang lain. Perbuatan kedua tidak mungkin berhenti pada dirinya sendiri, sebab yang disembelih akan sampai kepada orang lain. Jawaban atas kelimpahan disusun Allah dua arah sekaligus dan tidak dibiarkan berhenti di salah satunya. Ibadah yang hanya naik ke atas, dalam susunan ini, baru mengerjakan separuh dari yang diminta.