فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka bersalatlah bagi Tuhanmu, dan berkurbanlah.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْfa-shalli li-rabbika wa-nharmaka bersalatlah bagi Tuhanmu, dan berkurbanlah

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فَصَلِّfa-shallimaka salatlah
  2. لِرَبِّكَli-rabbikakepada Tuhanmu
  3. وَانْحَرْwa-nhardan berkurbanlah

Inti bacaan

Respons konkret atas anugerah tersebut: 'maka bersalatlah bagi Tuhanmu, dan berkurbanlah', dua tindakan nyata (ibadah rutin dan pengorbanan) sebagai ekspresi syukur yang pantas atas kelimpahan yang diterima.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka huruf (فَ, fa) yang menyatakan akibat, bukan sekadar urutan waktu. Ia menyambungkan perintah di sini dengan pemberian di 108:1 sebagai hubungan sebab dan jawaban: karena sudah diberi, maka kerjakan. Penerjemahan "maka" mempertahankan hubungan itu. Kalau diganti "dan", perintahnya akan berdiri sendiri dan hubungannya dengan ayat sebelumnya putus, padahal seluruh susunan surah ini bertumpu pada hubungan tersebut.

Kata kerja pertamanya (فَصَلِّ, fa-shalli) berbentuk perintah, dan bentuknya yang kedua, yaitu bentuk yang menyatakan pengerjaan yang bersungguh-sungguh atau berulang. Akarnya berarti menghadap dalam doa. Padanan "bersalatlah" dipertahankan karena kata ini sudah menjadi kata Indonesia yang menunjuk perbuatan tertentu, sehingga menerjemahkannya menjadi "berdoalah" justru akan memperluas maknanya melampaui apa yang dimaksud.

Yang menarik kata depan sesudahnya. Tertulis (لِرَبِّكَ, li-rabbika), dan huruf (لِ, li) berarti "bagi" atau "untuk", bukan "kepada". Bedanya nyata. "Bersalat kepada Tuhanmu" menempatkan Tuhan sebagai arah yang dituju, sedangkan "bersalat bagi Tuhanmu" menempatkan-Nya sebagai pihak yang untuk-Nya perbuatan itu dikerjakan. Yang kedua yang tertulis, dan yang kedua itu menutup kemungkinan salat dikerjakan untuk pihak lain, termasuk untuk dilihat orang. Susunan yang sama muncul di 33:56 dengan kata depan yang sama.

Kata kerja terakhirnya (وَانْحَرْ, wa-nhar), juga berbentuk perintah, dan inilah bagian yang paling khas dari ayat ini. Akarnya berarti menyembelih unta, dan akar itu tidak dipakai di satu pun ayat lain di seluruh Al-Qur'an. Hanya di sini, satu dari 6.236 ayat. Padanan "berkurbanlah" dipilih karena kata kerja ini menunjuk penyembelihan yang dilakukan sebagai persembahan, bukan penyembelihan untuk makan sehari-hari. Kedua perintah itu berpasangan dan tidak dipisahkan: yang satu perbuatan yang dikerjakan sendiri di hadapan Tuhannya, yang lain perbuatan yang hasilnya sampai kepada orang lain.

Kedua kata kerja itu, (فَصَلِّ, fa-shalli) dan (وَانْحَرْ, wa-nhar), juga tidak sama bentuknya, dan perbedaannya terbaca. Yang pertama berbentuk kedua, yaitu bentuk yang menyatakan pengerjaan bersungguh-sungguh dan berulang, sedangkan yang kedua berbentuk dasar tanpa penambahan apa pun. Susunan itu masuk akal bagi kedua perbuatannya: yang satu memang dikerjakan berkali-kali sepanjang hari, yang lain dikerjakan pada waktunya. Keduanya juga berbentuk perintah untuk satu orang, bukan untuk kelompok, sejalan dengan kata ganti tunggal di 108:1.

Huruf (وَ, wa) yang menghubungkan keduanya adalah kata sambung biasa, bukan penanda urutan wajib. Ia menyetarakan, tidak mengurutkan. Karena itu ayat ini tidak menyatakan bahwa yang satu harus selesai lebih dahulu sebelum yang lain dikerjakan. Yang dinyatakan hanyalah bahwa dua-duanya diminta, dan permintaan itu datang sebagai satu jawaban utuh atas satu pemberian.

Tafsiran

Ayat ini menjawab pemberian di 108:1 dengan dua perbuatan, dan yang diminta bukan ucapan. Tidak ada perintah bersyukur dengan lisan di sini, tidak ada perintah mengakui, tidak ada perintah memuji. Yang disebut dua pekerjaan yang memakan waktu dan memakan harta. Susunan itu menerangkan bagaimana surah ini memahami balasan atas pemberian: ia diselesaikan dengan mengerjakan, bukan dengan menyatakan.

Kedua perbuatan itu juga tidak dipilih sembarangan kalau dilihat arahnya. Yang pertama berlangsung antara seseorang dan Tuhannya, tidak memerlukan siapa pun yang lain. Yang kedua tidak mungkin berhenti pada dirinya sendiri, sebab yang disembelih akan sampai kepada orang lain. Jadi jawaban atas kelimpahan disusun dua arah sekaligus, ke atas dan ke samping, dan tidak dibiarkan berhenti di salah satunya.

Letaknya di tengah surah membuat ayat ini menjadi penghubung antara pemberian dan bantahan. Di 108:1 disebut apa yang sudah diterima, di 108:3 disebut nasib yang menuduh. Di antara keduanya diletakkan pekerjaan. Susunan itu berarti orang yang sedang dituduh tidak diminta menjawab tuduhannya, melainkan diminta mengerjakan sesuatu. Bantahan atas tuduhan diserahkan kepada Allah di ayat terakhir, sedangkan bagian yang diserahkan kepada yang dituduh hanyalah bersalat dan berkurban.

Renungan dan Hikmah

  • Dua perbuatan disebut Allah sebagai jawaban. Bersalat. Dan berkurban. Keduanya memakan waktu dan salah satunya memakan harta, jadi jawaban yang diminta bukan jawaban yang murah. Tidak ada perintah mengucapkan terima kasih di sini, tidak ada perintah mengakui, tidak ada perintah memuji dengan lisan. Yang diletakkan sebagai balasan atas pemberian justru pekerjaan, dan pekerjaan tidak bisa diselesaikan dengan sekali duduk. Yang diminta memakan sesuatu dari orang yang diminta, dan justru itu yang membuatnya terhitung sebagai jawaban.
  • Yang diminta bukan ucapan syukur, melainkan perbuatan. Bukan berterima kasih. Mengerjakan. Ucapan bisa diselesaikan dalam satu tarikan napas dan tidak meninggalkan bekas pada hari seseorang. Perbuatan mengambil bagian dari waktunya dan bagian dari miliknya, dan bagian yang diambil itulah yang membedakan pengakuan dari jawaban. Apa yang berkurang dari hari seseorang ketika ia mengaku sudah bersyukur?
  • Perintah itu menyusul pemberian, bukan mendahuluinya. Allah memberi dulu. Meminta kemudian. Huruf penyambung di kepala ayat ini menyatakan akibat, jadi hubungannya bukan sekadar urutan melainkan sebab. Karena sudah diberi, maka kerjakan. Susunan seperti itu mengeluarkan perbuatan dari kedudukan sebagai alat tawar, sebab yang ditawar biasanya belum diserahkan, sedangkan yang di sini sudah. Orang yang menawar dan orang yang menjawab berdiri di tempat yang berbeda, sekalipun keduanya mengerjakan perbuatan yang sama persis.
  • Kata depan yang dipakai berarti bagi, bukan kepada. Bedanya bukan urusan tata bahasa. Bersalat kepada Tuhan menempatkan-Nya sebagai arah yang dituju, sedangkan bersalat bagi Tuhan menempatkan-Nya sebagai pihak yang untuk-Nya perbuatan itu dikerjakan. Yang kedua yang tertulis, dan yang kedua menutup satu pintu yang tidak tertutup oleh yang pertama, yaitu mengerjakannya untuk dilihat orang lain. Satu huruf saja yang membedakan keduanya, dan huruf itu menentukan untuk siapa sebuah pekerjaan akhirnya dikerjakan.
  • Kata kerja untuk berkurban di ayat ini berakar pada akar yang tidak dipakai di satu pun ayat lain dalam seluruh Al-Qur'an. Sekali saja, di sini. Surah sependek ini menyimpan dua akar semacam itu, sebab kata terputus di ayat penutupnya juga demikian. Sesuatu yang disebut sekali tidak bisa dipahami dengan menyandingkannya pada pemakaian lain, dan pembacanya tinggal berhadapan dengan perintahnya sendiri.
  • Perbuatan pertama berlangsung antara seseorang dan Tuhannya dan tidak memerlukan siapa pun yang lain. Perbuatan kedua tidak mungkin berhenti pada dirinya sendiri, sebab yang disembelih akan sampai kepada orang lain. Jawaban atas kelimpahan disusun Allah dua arah sekaligus dan tidak dibiarkan berhenti di salah satunya. Ibadah yang hanya naik ke atas, dalam susunan ini, baru mengerjakan separuh dari yang diminta.