إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُinna syaani'aka huwa l-abtarusesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus
Terjemahan per kata (4 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- شَانِئَكَsyaani'akayang membencimu
- هُوَhuwaia
- الْأَبْتَرُl-abtaruyang terputus
Inti bacaan
Penegasan penutup tentang nasib pembenci: 'sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus', pembalikan tuduhan yang mungkin dilontarkan penentang, justru merekalah yang akan kehilangan kesinambungan, bukan penerima anugerah.
Penjelasan pilihan kata
Ayat penutup ini memakai penegas yang sama dengan ayat pembuka, (إِنَّ, inna), sehingga surah ini dikurung oleh dua penegasan pada kedua ujungnya. Yang pertama menegaskan pemberian, yang terakhir menegaskan akibat bagi pihak yang menuduh. Di antara keduanya tidak ada penegas sama sekali, hanya perintah bekerja.
Pokok kalimatnya (شَانِئَكَ, syaani'aka), bentuk pelaku dari akar yang berarti membenci, jadi maknanya "yang membencimu" dan bukan "kebencian kepadamu". Bedanya pada siapa yang dibicarakan: yang disebut orangnya, bukan perasaannya. Akar ini dipakai di tiga ayat saja dalam Al-Qur'an, dan dua yang lain justru berbicara kepada arah sebaliknya. Di 5:2 dan 5:8 ia muncul sebagai kebencian yang dimiliki orang beriman terhadap suatu kaum, dan di kedua tempat itu mereka diperingatkan agar kebencian itu tidak mendorong mereka berlaku tidak adil. Jadi kata yang sama dipakai dua kali sebagai peringatan kepada yang beriman, dan sekali di sini untuk menyebut pihak yang membenci mereka.
Sesudahnya berdiri kata ganti (هُوَ, huwa) yang tidak menduduki jabatan kalimat apa pun. Ia diletakkan di antara pokok dan sebutannya semata-mata untuk mengunci, sehingga yang dinyatakan bukan sekadar bahwa pembencimu terputus, melainkan bahwa dialah yang terputus. Bahasa Indonesia menampung penguncian itu dengan akhiran "-lah" pada "dialah". Tanpa kata ganti tersebut kalimatnya masih benar, tetapi pertukaran kedudukan antara penuduh dan tertuduh tidak akan terdengar.
Kata terakhirnya (الْأَبْتَرُ, al-abtaru), dan seperti kata kerja berkurban di 108:2, akarnya berarti terputus tanpa keturunan. Ia tidak dipakai di satu pun ayat lain dalam seluruh Al-Qur'an. Bentuknya menyatakan sifat yang menetap, dan ketakrifannya membuatnya menunjuk kembali kepada sesuatu yang sudah dikenal dalam percakapannya, yaitu sebutan yang sedang dilemparkan kepada yang disapa. Padanan "terputus" dipilih karena ia menahan gambaran pemotongan yang dibawa akarnya tanpa memilihkan satu jenis keterputusan tertentu. Sebutan itu dikembalikan kepada yang melemparkannya dengan kata yang sama persis, dan justru kesamaan kata itulah yang membuat pengembaliannya bekerja.
Satu hal lagi patut diperhatikan pada susunan kalimat ini, yaitu apa yang tidak ada di dalamnya. Pihak yang menuduh tidak disebut namanya, tidak disebut asalnya, dan tidak disebut kedudukannya. Yang disebut hanya hubungannya dengan yang disapa, yaitu bahwa ia membencinya. Akibatnya kalimat ini tidak mengabadikan seorang pun sebagai nama, melainkan hanya mengabadikan kedudukan. Siapa pun yang menempati kedudukan itu terkena kalimatnya, dan tidak seorang pun terkena karena namanya kebetulan tercatat.
Perhatikan pula bahwa (الْأَبْتَرُ, al-abtaru) berhadapan langsung dengan (الْكَوْثَرَ, al-kautsara) di ujung ayat pertamanya. Keduanya bertakrif, keduanya berdiri di ujung kalimatnya, dan keduanya berupa sifat yang menjadi nama: yang satu berlimpah tanpa disebut batasnya, yang lain terpotong dan berhenti. Surah ini dibuka dan ditutup oleh dua kata yang saling menolak, dan seluruh isinya berada di antara keduanya.
Tafsiran
Ayat penutup ini menyelesaikan surah bukan dengan membela yang dituduh, melainkan dengan memindahkan tuduhan itu kepada yang melemparkannya. Sebutan yang dipakai sama persis dengan sebutan yang dilontarkan, dan tidak diganti dengan kata lain yang lebih ringan atau lebih keras. Bantahan yang memakai kata lawan bicaranya sendiri tidak memerlukan penjelasan tambahan, sebab ukurannya sudah disediakan oleh yang menuduh.
Kalau dibaca bersama 108:1, susunan surah ini menjadi terang. Ayat pertama menyebut sesuatu yang berlimpah tanpa batas, ayat terakhir menyebut sesuatu yang terpotong dan berhenti. Keduanya berhadapan langsung, dan yang berada di tengah adalah pekerjaan yang diperintahkan di 108:2. Susunan itu berarti jarak antara berlimpah dan terputus bukan ditentukan oleh siapa yang lebih banyak bicara, melainkan oleh apa yang diberikan dan apa yang dikerjakan.
Yang juga patut diperhatikan adalah bahwa yang dituduh tidak diminta menjawab sama sekali. Sepanjang surah ini ia hanya diberi tahu apa yang sudah diterimanya dan diperintahkan bersalat serta berkurban. Bantahan atas tuduhan dikerjakan Allah sendiri di ayat terakhir. Pembagian tugas itu jelas: yang dihina mengurus pekerjaannya, dan urusan menjawab penghinaan tidak diserahkan kepadanya. Akar kata yang dipakai untuk terputus tidak muncul di ayat mana pun yang lain, sehingga kalimat penutup ini berdiri tanpa pembanding, sebagaimana tuduhan yang dijawabnya juga berdiri sendirian.
Renungan dan Hikmah
- Surah terpendek ini merangkum pola anugerah-syukur-jaminan dalam tiga ayat, kelimpahan yang diberikan (108:1) dibalas dengan ibadah (108:2), sementara tuduhan terputus dari pembenci justru berbalik kepada mereka sendiri (108:3). Yang menahan susunan itu adalah dua kata yang berhadapan di kedua ujungnya, berlimpah tanpa batas di pembuka dan terpotong berhenti di penutup, dengan pekerjaan diletakkan di antara keduanya. Yang ditetapkan Allah di ujung bukan siapa yang menang berdebat, melainkan mana yang berlanjut dan mana yang berhenti.
- Sebutan yang dikembalikan Allah kepada si penuduh sama persis dengan sebutan yang dilemparkannya, tidak diganti dengan kata lain yang lebih keras atau lebih halus. Bantahan yang memakai kata lawan bicaranya sendiri tidak perlu menjelaskan ukurannya, sebab ukuran itu sudah disediakan oleh yang menuduh. Yang berubah bukan istilahnya, melainkan kepada siapa istilah itu menempel pada akhirnya.
- Sepanjang surah ini orang yang dituduh tidak sekali pun diperintahkan membalas atau menjelaskan. Ia hanya diberi tahu apa yang sudah diterimanya, lalu diperintahkan bersalat dan berkurban. Urusan menjawab penghinaan dikerjakan Allah sendiri di ayat terakhir. Pembagian itu meninggalkan satu pertanyaan bagi siapa pun yang sedang direndahkan: berapa banyak waktu yang sudah habis untuk menyusun bantahan yang sebenarnya bukan bagiannya?
- Kata yang dipakai berbentuk pelaku, jadi yang disebut orang yang membenci, bukan kebencian itu sendiri. Al-Qur'an memakai akar ini di dua tempat lain, dan di kedua tempat itu yang dibicarakan justru kebencian yang dimiliki orang beriman, dengan peringatan agar kebencian itu tidak membuat mereka berlaku tidak adil. Kata yang sama, dua kali sebagai peringatan ke dalam dan sekali sebagai keterangan tentang lawan. Allah memakainya lebih sering untuk memperingatkan yang beriman daripada untuk menyebut yang memusuhi mereka.
- Di tengah kalimat penutup ini berdiri satu kata ganti yang tidak menduduki jabatan apa pun. Ia hanya mengunci, sehingga yang dinyatakan bukan sekadar bahwa pembencinya terputus melainkan bahwa dialah yang terputus. Tanpa kata itu kalimatnya masih benar, tetapi pertukaran kedudukan antara penuduh dan tertuduh tidak akan terdengar. Sebuah kata yang tidak menambah makna apa pun ternyata memikul seluruh bunyi bantahannya.
- Kata terputus di ayat ini dan kata berkurban di 108:2 sama-sama berakar pada akar yang tidak dipakai di satu pun ayat lain dalam seluruh Al-Qur'an. Dua akar semacam itu berkumpul di dalam surah yang panjangnya sepuluh kata. Yang disebut sekali tidak bisa dipahami dengan membandingkannya ke tempat lain, sehingga surah ini menutup dirinya sendiri: baik perintahnya maupun bantahannya berdiri tanpa pembanding di mana pun. Sebuah surah sependek ini ternyata memakai dua kata yang tidak dipinjamkan kepada ayat lain mana pun.