بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ

Katakanlah, “Wahai orang-orang kafir,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. قُلْqulkatakanlah
  2. يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَyaa ayyuhaa l-kaafiruunawahai orang-orang kafir

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. قُلْqulkatakanlah
  2. يَاyaawahai
  3. أَيُّهَاayyuhaasekalian
  4. الْكَافِرُونَl-kaafiruunaorang-orang kafir

Inti bacaan

Batas yang dibuka di ayat ini disampaikan dengan menyebut alamatnya lebih dulu, bukan dengan menyindir dari kejauhan. Konkretnya: menyebut kepada siapa sebuah sikap ditujukan membuat sikap itu bisa diperiksa oleh yang bersangkutan, sedangkan sindiran menyerahkan penafsirannya kepada tebakan. Praktis: banyak hubungan rusak bukan karena batasnya keras melainkan karena batasnya tak pernah disebut, sehingga masing-masing menebak sendiri di mana letaknya dan keduanya salah. Ada ongkos yang jarang dihitung: menebak-nebak memakan tenaga jauh lebih besar daripada mendengar satu kalimat lugas sekali saja.

Penjelasan pilihan kata

Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. Kutipan dibuka di sini, ditandai kata kerja perintah (قُلْ, qul) dari akar yang berarti mengatakan menurut morfologi, dan berlanjut sampai akhir surah di 109:6.

Lima surah di seluruh Al-Qur'an dibuka dengan (قُلْ, qul) pada ayat pertamanya, yaitu 72:1, 109:1, 112:1, 113:1, dan 114:1. Empat di antaranya berdekatan di bagian akhir mushaf. Di keempat surah itu perintahnya membuka kutipan yang tidak ditutup sampai kata terakhir surahnya, sehingga seluruh isinya berupa kalimat yang diperintahkan untuk diucapkan, bukan keterangan yang disampaikan tentang sesuatu.

Sapaan (يَا أَيُّهَا, yaa ayyuhaa) adalah bentuk panggilan langsung, dan ia menempatkan yang disapa sebagai lawan bicara yang hadir, bukan sebagai pihak ketiga yang dibicarakan. Padanan "wahai" menahan sifat panggilan itu. Pilihan menyapa langsung menentukan seluruh nada surah: yang disampaikan bukan penilaian tentang orang lain di belakang mereka, melainkan pernyataan yang diucapkan di hadapan mereka sendiri. Bentuk itu juga menuntut keberanian yang berbeda dari menyatakan hal yang sama di antara sesama sendiri, sebab yang disapa hadir dan mendengar setiap kata yang diucapkan tentang mereka.

Akar (أَعْبُدُ, a'budu) yang menjadi pokok surah ini, yaitu akar yang berarti mengabdi, muncul 8 kali di dalam enam ayatnya, dan tidak ada kata lain yang diulang mendekati itu. Kepadatan semacam itu jarang: seluruh surah berputar pada satu perkara saja, yaitu kepada siapa pengabdian diberikan, dan tidak menyimpang sedetik pun ke perkara lain. Empat dari enam ayatnya berupa kalimat penolakan yang memakai akar tersebut, dan dua sisanya adalah pembuka serta penutup.

Kata (الْكَافِرُونَ, l-kaafiruuna) berbentuk pelaku dan bertakrif, dari akar yang berarti menutupi dan menolak. Bentuk persis ini muncul 20 kali di 19 surah, di antaranya 2:19, 3:32, dan 5:67. Bentuk pelaku menyebut orang yang mengerjakan sesuatu, bukan sifat yang melekat sejak lahir, dan ketakrifannya menunjuk mereka yang sudah dikenal dalam percakapan itu. Padanan "orang-orang kafir" dipertahankan karena kata itu sudah menjadi kata Indonesia dengan makna yang sama, dan menerjemahkannya menjadi "orang-orang yang menutupi" akan mengaburkan rujukan yang sudah jelas bagi pembacanya. Perlu dicatat pula bahwa surah ini tidak memakai satu pun kata sifat untuk menilai sepanjang enam ayatnya: tidak ada kata baik, buruk, benar, atau salah di dalamnya. Yang ada hanya sapaan, penyangkalan, dan penetapan siapa menanggung apa, sehingga pernyataannya tegas tanpa sekali pun berubah menjadi hinaan.

Tafsiran

Ayat ini membuka perintah untuk menyampaikan pernyataan tegas kepada pihak yang disapa. Yang diperintahkan bukan meyakini sesuatu di dalam hati, melainkan mengucapkannya di hadapan mereka.

Perbedaan itu menentukan. Sebuah keyakinan yang disimpan tidak menuntut apa-apa dari pemiliknya selain dirinya sendiri. Sebuah pernyataan yang diucapkan di hadapan pihak yang bersangkutan menempatkan pengucapnya pada kedudukan yang tidak bisa ditarik kembali diam-diam. Surah ini seluruhnya berupa kalimat semacam itu, dari kata pertama sampai kata terakhir.

Letaknya sebagai pembuka juga menyiapkan bentuk seluruh surah. Sesudah menyebut siapa yang disapa, lima ayat berikutnya tidak menambah satu pun sapaan baru dan tidak berpindah ke pihak lain. Bandingkan dengan 112:1 yang juga dibuka dengan perintah yang sama tetapi langsung menyatakan sesuatu tentang Allah: yang di sana pernyataan tentang Yang disembah, yang di sini pernyataan yang dialamatkan kepada pihak yang menyembah selain-Nya. Dua surah yang dibuka sama, dua arah yang berbeda.

Yang juga patut dicatat adalah apa yang tidak dikerjakan surah ini sama sekali. Tidak ada ajakan untuk berpindah, tidak ada tawaran, tidak ada ancaman, dan tidak ada satu pun kata sifat yang menilai. Enam ayatnya berisi sapaan, empat penyangkalan, dan satu penetapan. Pernyataan yang tidak mengajak juga tidak bisa ditolak, sebab tak ada yang diminta dari yang mendengarnya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyuruh menyapa mereka langsung: wahai orang-orang kafir. Tanpa basa-basi. Pemisahan itu dibuka dengan menyebut siapa yang diajak bicara. Bentuk panggilan yang dipakai menempatkan mereka sebagai lawan bicara yang hadir, bukan sebagai pihak ketiga yang dibicarakan di belakangnya, sehingga yang disampaikan bukan penilaian tentang orang lain melainkan pernyataan di hadapan orangnya sendiri. Menyatakan hal semacam itu di depan yang bersangkutan menuntut keberanian yang berbeda dari menyatakannya di antara sesama sendiri.
  • Kutipannya dibuka di sini dan baru ditutup di ujung surah. Satu ucapan. Seluruh surah itu satu kalimat yang harus disampaikan. Empat surah lain di Al-Qur'an juga dibuka dengan perintah yang sama, dan di semuanya kutipannya tidak ditutup sampai kata terakhir surahnya, sehingga isinya berupa kalimat yang diperintahkan diucapkan, bukan keterangan tentang sesuatu. Yang diperintahkan mengucapkan tidak bisa menunda sampai ia merasa siap, sebab perintahnya sudah lebih dulu ada daripada kesiapannya.
  • Allah menyuruh mengatakannya, bukan sekadar meyakininya. Disampaikan. Pemisahan itu diminta dinyatakan, bukan disimpan. Keyakinan yang disimpan tidak menuntut apa-apa dari pemiliknya selain dirinya sendiri, sedangkan pernyataan yang diucapkan di hadapan pihak yang bersangkutan menempatkan pengucapnya pada kedudukan yang tak bisa ditarik kembali diam-diam. Yang sudah keluar dari mulut di hadapan orang lain menjadi milik bersama, bukan lagi milik yang mengucapkannya sendiri.
  • Kata yang dipakai untuk menyapa mereka berbentuk pelaku, yaitu menyebut orang yang mengerjakan sesuatu, bukan sifat yang melekat sejak lahir. Perbedaan itu menjaga kalimatnya tetap tentang perbuatan dan bukan tentang jenis manusia. Yang mengerjakan bisa berhenti mengerjakan; yang bersifat sejak lahir tidak menyediakan pintu apa pun untuk keluar. Satu pilihan bentuk kata menjaga pintu itu tetap terbuka tanpa satu kalimat pun yang menyebutkannya.
  • Surah ini dibuka dengan perintah yang sama dengan 112:1, tetapi keduanya bergerak ke arah yang berlainan. Yang di sana pernyataan tentang siapa Allah; yang ini pernyataan yang dialamatkan kepada pihak yang menyembah selain-Nya. Pembuka yang identik tidak menjamin isi yang sejenis, dan justru perbedaan arahnya yang menentukan untuk apa masing-masing surah diucapkan. Yang satu memperkenalkan Yang disembah, yang ini menetapkan batas antara dua pihak.
  • Sesudah menyebut siapa yang disapa di ayat ini, lima ayat berikutnya tidak menambah satu pun sapaan baru dan tidak berpindah ke pihak lain. Seluruh surah berbicara kepada satu alamat yang sama. Pembicaraan yang tidak berpindah-pindah alamat tidak menyediakan celah bagi pendengarnya untuk mengira bahwa bagian tertentu ditujukan kepada orang lain. Kepada siapa sebenarnya sebuah teguran terasa paling tidak nyaman?