لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ
Aku tidak mengabdi kepada apa yang kalian abdi,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَlaa a'budu maa ta'buduunaaku tidak mengabdi kepada apa yang kalian abdi
Terjemahan per kata (4 kata)
- لَاlaatidak
- أَعْبُدُa'buduaku mengabdi
- مَاmaaapa yang
- تَعْبُدُونَta'buduunakalian menyembah
Inti bacaan
Penegasan perbedaan objek pengabdian: 'aku tidak mengabdi kepada apa yang kalian abdi', pernyataan tegas tentang ketidakcampuran dalam praktik ibadah, kejelasan posisi tanpa kompromi.
Penjelasan pilihan kata
Kutipan berlanjut dari 109:1. Ayat ini memakai kata kerja di kedua sisinya: (أَعْبُدُ, a'budu) untuk pihak pertama dan (تَعْبُدُونَ, ta'buduuna) untuk pihak kedua, keduanya berbentuk sedang berlangsung dari akar yang berarti mengabdi. Akar itu muncul 8 kali di dalam surah yang cuma enam ayat, dan tidak ada kata lain yang diulang sesering itu di sini.
Yang dipakai untuk menyangkal adalah (لَا, laa), penyangkal yang mengenai perbuatan yang sedang berlangsung. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa pihak pertama belum pernah mengabdi, melainkan bahwa ia tidak sedang dan tidak akan mengabdi kepada yang mereka abdi. Padanan "tidak mengabdi" menahan sifat berlangsung itu, dan menerjemahkannya sebagai "belum pernah mengabdi" akan memindahkan penyangkalannya ke masa lampau, padahal bagian itu justru disediakan tersendiri di 109:4 dengan bentuk kata yang berbeda.
Kata penghubung (مَا, maa) yang dipakai untuk menyebut apa yang mereka abdi perlu diperhatikan. Arab membedakan penghubung untuk yang berakal dan yang tidak, dan yang dipakai di sini yang lazimnya menunjuk selain manusia. Pilihan itu tidak netral: yang disembah pihak kedua disebut dengan penghubung yang tidak mengandaikan ia berakal. Sekiranya dipakai penghubung untuk yang berakal, kalimatnya akan mengakui adanya pihak yang layak dianggap berkehendak di seberang sana.
Kedua kata kerja di ayat ini berbentuk sedang berlangsung, dan kesejajaran bentuk itu dijaga di kedua sisi. Pihak pertama memakai (أَعْبُدُ, a'budu) berkata ganti orang pertama tunggal, pihak kedua memakai (تَعْبُدُونَ, ta'buduuna) berkata ganti orang kedua jamak. Yang berbeda cuma siapa pelakunya; bentuk waktunya sama persis. Kesejajaran itu menjaga supaya pemisahannya tidak terbaca sebagai perbandingan mutu, melainkan sebagai keterangan tentang dua arah yang berlainan.
Padanan "mengabdi" dipilih dan bukan "menyembah" untuk (أَعْبُدُ, a'budu) serta seluruh keluarganya di korpus ini, sebab akar yang berarti mengabdi menunjuk hubungan penghambaan yang mencakup seluruh hidup, bukan satu jenis upacara. Perbedaan itu penting bagi ayat ini: yang dipisahkan bukan cara beribadah melainkan kepada siapa seluruh hidup diserahkan. Perlu dicatat pula bahwa yang dipisahkan objeknya, bukan orangnya. Ayat ini tidak mengatakan bahwa mereka jahat; ia mengatakan bahwa yang mereka abdi berbeda. Pemisahan yang menunjuk objek dan bukan orang tidak menutup pintu bagi siapa pun, sebab objek bisa berganti sedangkan orang tidak bisa berganti menjadi orang lain. Dan sepanjang empat kalimat penolakan di surah ini, tidak sekali pun disebut alasan mengapa yang mereka abdi tidak layak diabdi.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan perbedaan mendasar dalam objek pengabdian, dan penegasannya dimulai dari sisi pengucap, bukan dari sisi yang disapa. Yang lebih dulu dinyatakan apa yang tidak dikerjakan pihak pertama, baru sesudah itu apa yang tidak dikerjakan pihak kedua di 109:3.
Urutan itu menentukan nadanya. Sebuah pemisahan yang dimulai dengan menuding pihak lain terdengar sebagai serangan. Pemisahan yang dimulai dengan menyatakan kedudukan diri sendiri terdengar sebagai pengakuan. Keduanya menyampaikan isi yang sama, dan yang berbeda hanya dari mana ia dimulai.
Yang dipisahkan juga bukan orangnya melainkan objek pengabdiannya. Tidak ada satu kata pun di ayat ini yang menilai perilaku mereka, menyebut mereka jahat, atau meramalkan nasib mereka. Bandingkan dengan 106:3 yang menyerukan menyembah Tuhan Rumah kepada pihak yang sedang disapa: di sana ada ajakan, di sini tidak ada sama sekali. Surah ini menyatakan perbedaan tanpa mengajak, dan tanpa mengajak itulah yang membuat pernyataannya bukan perdebatan.
Kesejajaran bentuk di kedua sisi juga dijaga. Kedua kata kerjanya berwaktu sama, dan yang berbeda cuma siapa pelakunya. Susunan setara semacam itu menjaga supaya pemisahannya tidak terbaca sebagai perbandingan mutu antara dua pihak, melainkan sebagai keterangan tentang dua arah yang berlainan. Yang setara bentuknya lebih sulit dibaca sebagai penghinaan.
Renungan dan Hikmah
- Pemisahannya dinyatakan Allah dari sisi pelakunya dulu. Aku tidak. Lalu kalian bukan. Sebuah pemisahan yang dimulai dengan menuding pihak lain terdengar sebagai serangan, sedangkan yang dimulai dengan menyatakan kedudukan diri sendiri terdengar sebagai pengakuan. Isinya sama; yang berbeda cuma dari mana ia dimulai, dan perbedaan itu menentukan seluruh nadanya. Allah menyusunnya dari sisi yang mengucapkan lebih dulu, sehingga yang keluar bukan tuduhan melainkan pengakuan tentang kedudukan diri.
- Yang dipisahkan objek pengabdiannya, bukan orangnya. Bukan kalian jahat. Yang kalian sembah lain. Tidak ada satu kata pun di ayat ini yang menilai perilaku mereka atau meramalkan nasib mereka. Pemisahan yang menunjuk objek dan bukan orang tidak menutup pintu bagi siapa pun, sebab objek bisa berganti sedangkan orang tidak bisa berganti menjadi orang lain. Satu pilihan susunan menjaga pintu itu terbuka tanpa satu kalimat pun yang menyebutkannya.
- Kalimat itu Allah putar sampai empat kali. Bolak-balik. Supaya tak ada celah salah paham. Akar kata untuk mengabdi muncul delapan kali di dalam surah yang cuma enam ayat, dan tidak ada kata lain yang diulang sesering itu. Pengulangan sepadat itu di ruang sesempit itu tidak menyisakan bagian yang bisa dipahami setengah-setengah. Seluruh surah berputar pada satu perkara dan tidak menyimpang sedetik pun ke perkara lain.
- Padanan yang dipakai mengabdi, bukan menyembah, sebab akar katanya menunjuk hubungan penghambaan yang mencakup seluruh hidup dan bukan satu jenis upacara. Perbedaan itu memindahkan pokok perkaranya. Yang dipisahkan bukan cara beribadah yang bisa berbeda-beda, melainkan kepada siapa seluruh hidup seseorang diserahkan, dan hal semacam itu tidak bisa dibagi dua. Cara beribadah bisa berbeda-beda tanpa mengubah kepada siapa hidup itu diserahkan; yang dipisahkan surah ini justru yang kedua.
- Kata penghubung yang dipakai untuk menyebut apa yang mereka abdi lazimnya menunjuk selain manusia, bukan yang berakal. Pilihan itu tidak netral. Sekiranya dipakai penghubung untuk yang berakal, kalimatnya akan mengakui adanya pihak yang layak dianggap berkehendak di seberang sana. Satu kata penghubung menahan pengakuan yang tak hendak diberikan. Bahasa Indonesia tidak membedakan keduanya, sehingga bagian itu hilang dalam terjemahan tanpa terlihat oleh yang membacanya.
- Surah ini menyatakan perbedaan tanpa satu pun ajakan. Tidak ada seruan untuk berpindah, tidak ada tawaran, dan tidak ada ancaman bagi yang bertahan. Yang disampaikan cuma keadaan sebagaimana adanya. Pernyataan yang tidak mengajak juga tidak bisa ditolak, sebab tak ada yang diminta. Apa yang tersisa untuk diperdebatkan ketika yang disampaikan bukan tuntutan melainkan keterangan? Alasan cuma diperlukan pihak yang ingin meyakinkan, dan Allah tidak menyuruh meyakinkan siapa pun di surah ini.