وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ
Dan aku bukan pengabdi apa yang kalian abdi,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْwa-laa anaa 'aabidun maa 'abadtumdan aku bukan pengabdi apa yang kalian abdi
Terjemahan per kata (5 kata)
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- أَنَاanaaaku
- عَابِدٌ'aabidunyang mengabdi
- مَاmaaapa yang
- عَبَدْتُمْ'abadtumkalian abdi
Inti bacaan
Penguatan melalui pengulangan dengan variasi waktu: 'dan aku bukan pengabdi apa yang kalian abdi', repetisi yang menegaskan konsistensi posisi, baik masa lalu maupun sekarang.
Penjelasan pilihan kata
Kutipan berlanjut dari 109:3. Ayat ini mengulang bentuk pelaku seperti ayat sebelumnya, tetapi dengan dua perbedaan yang menentukan. Pertama, kata ganti yang dipakai (أَنَا, anaa) untuk pihak pertama, bukan (أَنْتُمْ, antum) untuk pihak kedua. Kedua, kata kerja yang menyusul (عَبَدْتُمْ, 'abadtum) berbentuk lampau, bukan sedang berlangsung.
Pergeseran waktu pada (عَبَدْتُمْ, 'abadtum) itu yang paling patut diperhatikan. Di 109:2 dan 109:3 seluruh kata kerjanya berbentuk sedang berlangsung. Di sini muncul satu bentuk lampau, dan ia menyangkal ke belakang. Jadi susunan keempat kalimat penolakan itu tidak sekadar mengulang: yang satu menutup masa sekarang, yang lain menutup masa lampau. Padanan "apa yang kalian abdi" menahan bunyinya, sekalipun bahasa Indonesia tidak sanggup menandai perbedaan waktu itu tanpa menambahkan kata yang tidak ada di Arabnya.
Bentuk (عَابِدٌ, 'aabidun) di ayat ini tak bertakrif, berbeda dari (عَابِدُونَ, 'aabiduuna) di 109:3 dan 109:5 yang juga tak bertakrif tetapi jamak. Bentuk tunggal dipakai karena yang berbicara satu orang, dan bentuk jamak dipakai untuk pihak kedua yang banyak. Kesejajaran bentuknya dijaga meski jumlah pihaknya berbeda. Satu orang menyatakan kedudukannya di hadapan orang banyak dengan susunan yang setara, sehingga pemisahannya tidak berubah menjadi perbandingan kekuatan antara pihak yang sedikit dan pihak yang ramai.
Kata ganti (أَنَا, anaa) di ayat ini juga diletakkan terpisah di depan bentuk pelakunya, sama seperti (أَنْتُمْ, antum) di 109:3. Bentuk katanya sudah menandai pelakunya, sehingga kata ganti terpisah itu sebenarnya tidak diperlukan, dan kehadirannya menyatakan penekanan. Kedua belah pihak sama-sama diberi penekanan semacam itu, sehingga tidak ada satu pun yang disebut dengan susunan yang lebih ringan daripada yang lain.
Perlu dicatat bahwa yang diulang di ayat ini adalah penolakannya, bukan alasannya. Sepanjang empat kalimat penolakan di surah ini, tidak sekali pun disebutkan mengapa. Tidak ada keterangan tentang apa yang salah pada yang mereka abdi, tidak ada dalil, dan tidak ada perbandingan. Yang disampaikan hanya bahwa keduanya berbeda, diulang sampai tidak ada celah untuk ditawar. Alasan cuma diperlukan oleh pihak yang ingin meyakinkan, dan surah ini tidak sedang meyakinkan siapa pun. Bandingkan dengan 106:1 sampai 106:3 yang menyebut alasan panjang lebar sebelum sampai ke perintahnya: dua surah pendek yang berjarak tiga surah memakai cara yang berlawanan, dan keduanya sama-sama masuk akal bagi apa yang hendak dikerjakannya masing-masing. Alasan hanya diperlukan oleh pihak yang ingin meyakinkan, dan surah ini tidak sedang meyakinkan siapa pun. Ia menetapkan, lalu berhenti.
Tafsiran
Ayat ini mengulang penegasan dengan penekanan tambahan, dan penekanannya terletak pada waktu. Kata kerja yang muncul di sini berbentuk lampau, sedangkan seluruh kata kerja di dua ayat sebelumnya berbentuk sedang berlangsung.
Akibatnya empat kalimat penolakan di surah ini tidak sekadar berulang. Sebagian menutup masa sekarang, dan yang ini menutup masa yang sudah lewat. Pemisahan yang dinyatakan untuk kedua rentang waktu tidak menyisakan celah bahwa keadaannya dulu pernah berbeda, atau bahwa pernah ada masa ketika keduanya berada di tempat yang sama.
Yang tidak ada di sini juga menerangkan bentuk surah ini. Tidak ada satu pun alasan yang diberikan sepanjang empat kalimat penolakan itu: tidak ada keterangan tentang apa yang salah pada yang mereka abdi, tidak ada dalil, dan tidak ada perbandingan mutu. Bandingkan dengan 106:1 sampai 106:3 yang menyebut alasan panjang lebar sebelum sampai ke perintahnya. Surah ini memilih jalan yang berlawanan, dan pilihan itu masuk akal bagi pernyataan yang memang tidak sedang mengajak siapa pun berpindah.
Kata ganti yang diletakkan terpisah di depan bentuk pelakunya juga muncul lagi di ayat ini, sebagaimana di 109:3. Bentuk katanya sudah menandai pelakunya, sehingga kata ganti itu sebenarnya tidak diperlukan, dan kehadirannya menyatakan penekanan. Kedua belah pihak sama-sama diberi penekanan semacam itu, dan kesetaraan perlakuan itu berjalan terus sampai penutup surah.
Renungan dan Hikmah
- Allah merekam pengulangan yang bentuknya bergeser. Bunyinya mirip. Waktunya berbeda. Di dua ayat sebelumnya seluruh kata kerjanya berbentuk sedang berlangsung, sedangkan di sini muncul satu bentuk lampau yang menyangkal ke belakang. Bahasa Indonesia tidak sanggup menandai pergeseran itu tanpa menambahkan kata yang tidak ada di Arabnya, sehingga yang hilang dalam terjemahan justru bagian yang membedakannya. Empat kalimat penolakan itu tidak sekadar berulang: sebagian menutup masa sekarang, dan yang ini menutup masa yang sudah lewat.
- Yang diulang penolakannya, bukan alasannya. Tidak ditambah keterangan. Cuma ditegaskan lagi. Sepanjang empat kalimat penolakan di surah ini tidak sekali pun disebutkan mengapa: tidak ada keterangan tentang apa yang salah pada yang mereka abdi, tidak ada dalil, dan tidak ada perbandingan mutu. Yang disampaikan hanya bahwa keduanya berbeda. Alasan cuma diperlukan pihak yang ingin meyakinkan, dan Allah tidak menyuruh meyakinkan siapa pun di sini melainkan menyatakan, lalu berhenti.
- Pengulangan itu menutup celah tawar-menawar. Allah merekam ketegasannya. Tidak dulu, tidak sekarang. Pemisahan yang dinyatakan untuk kedua rentang waktu tidak menyisakan kemungkinan bahwa keadaannya dulu pernah berbeda, atau bahwa pernah ada masa ketika keduanya berada di tempat yang sama lalu berpisah kemudian. Satu bentuk kata kerja lampau di tengah kalimat-kalimat berwaktu sekarang menutup pintu ke belakang.
- Bentuk pelaku di ayat ini tunggal, sedangkan yang dipakai untuk pihak kedua jamak. Yang berbicara satu orang, yang disapa banyak. Kesejajaran susunannya tetap dijaga meski jumlah pihaknya jauh berbeda, sehingga pemisahannya tidak berubah menjadi perbandingan kekuatan. Satu orang menyatakan kedudukannya di hadapan orang banyak dengan susunan yang setara. Pemisahan yang bentuknya berat sebelah akan terbaca sebagai pengusiran; yang setara terbaca sebagai keterangan.
- Surah ini memilih jalan yang berlawanan dengan surah-surah yang menyebut alasan panjang lebar sebelum sampai ke perintahnya. Di sini tidak ada alasan sama sekali. Pilihan itu masuk akal bagi pernyataan yang memang tidak sedang mengajak siapa pun berpindah, sebab alasan hanya diperlukan oleh pihak yang ingin meyakinkan. Surah lain menyebut alasannya panjang lebar sebelum sampai ke perintah; yang ini memilih jalan yang berlawanan, dan keduanya masuk akal bagi apa yang hendak dikerjakannya.
- Satu bentuk lampau di tengah kalimat-kalimat yang seluruhnya berbentuk sedang berlangsung menutup pintu ke belakang. Yang dinyatakan bukan cuma keadaan hari ini, melainkan juga bahwa tidak pernah ada hari ketika keadaannya lain. Apa yang berubah bagi seseorang ketika ia menyadari sebuah perbedaan bukan hal baru, melainkan sudah begitu sejak sebelum ia memperhatikannya? Yang baru disadari hari ini bisa terasa seperti perubahan, padahal yang berubah cuma perhatiannya.