لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
Untukmu pertanggungjawabanmu dan untukku pertanggungjawabanku.”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِlakum diinukum wa-liya diiniuntukmu pertanggungjawabanmu dan untukku pertanggungjawabanku
Terjemahan per kata (4 kata)
- لَكُمْlakumbagi kalian
- دِينُكُمْdiinukumagama kalian
- وَلِيَwa-liyadan bagiku
- دِينِdiiniagama
Inti bacaan
Penutup dengan prinsip koeksistensi yang jelas: 'untukmu pertanggungjawabanmu dan untukku pertanggungjawabanku', formula yang menegaskan penghormatan terhadap perbedaan keyakinan tanpa memaksakan penyeragaman, model toleransi yang tegas dalam prinsip namun damai dalam praktik, koeksistensi tanpa pencampuran.
Penjelasan pilihan kata
Kutipan yang dibuka sejak 109:1 ditutup di akhir ayat ini. Rangkaian (لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ, lakum diinukum wa-liya diini) muncul sekali saja di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini.
Susunannya berbentuk dua kalimat pendek yang sejajar sempurna, masing-masing tanpa kata kerja. Kalimat tanpa kata kerja menyatakan keadaan, bukan peristiwa, sehingga yang dinyatakan bukan sesuatu yang baru saja diputuskan melainkan keadaan yang memang begitu. Kata depan (لَ, la) di kepala keduanya menyatakan kepunyaan, dan ia diulang di kedua sisi, sehingga tidak ada satu pihak pun yang disebut lebih dulu sebagai pemilik yang sah.
Kata (دِينُ, diinu) diterjemahkan "pertanggungjawaban" dan bukan "agama", mengikuti keputusan yang berlaku di seluruh korpus ini setiap kali akar yang berarti tunduk dan pembalasan muncul. Alasannya bukan selera: "agama" dalam pemakaian Indonesia sekarang menunjuk kelembagaan dan keanggotaan, sedangkan yang dibicarakan akar ini hubungan berbalas antara yang berutang dan yang menagih. Dengan padanan itu, ayat ini tidak menyatakan kebebasan memilih keanggotaan, melainkan menyatakan bahwa masing-masing pihak memikul perhitungannya sendiri.
Kata (دِينِ, diini) di ujung kalimat kedua kehilangan huruf akhirnya dalam penulisan, sebab kata ganti orang pertama yang menempel padanya melebur. Susunan itu membuat kedua kalimatnya berakhir dengan bunyi yang hampir sama, dan kesamaan bunyi di ujung memperkuat kesejajarannya. Yang dipisahkan diucapkan dengan irama yang justru menyatukan bentuk kalimatnya.
Perbedaan itu menentukan bacaan seluruh ayat. Dibaca sebagai "agamamu untukmu", kalimatnya terdengar seperti persetujuan untuk berbeda. Dibaca sebagai "pertanggungjawabanmu untukmu", ia terdengar sebagai penetapan bahwa akibat pilihan masing-masing akan ditanggung sendiri-sendiri. Yang kedua yang tertulis, dan pilihan itu sudah tercatat sebagai kebijakan korpus ini setiap kali akar yang berarti tunduk dan pembalasan muncul, termasuk di 110:2 yang memakai kata yang sama untuk sesuatu yang dimasuki orang banyak. Yang kedua itu lebih berat: ia tidak menyatakan bahwa perbedaan tidak penting, melainkan bahwa perbedaan itu punya akibat yang tidak bisa dipindahkan kepada orang lain. Sesuatu yang ditanggung sendiri tidak bisa diwakilkan, tidak bisa dibagi, dan tidak bisa dialihkan lewat kesepakatan apa pun antara kedua pihak. Perlu dicatat pula bahwa surah ini berakhir tanpa doa bagi pihak yang disapa dan tanpa kutukan atas mereka: tidak ada permintaan agar mereka mendapat petunjuk, dan tidak ada ancaman tentang nasib mereka. Yang tertinggal cuma penetapan siapa menanggung apa, dan penutup semacam itu meninggalkan hubungan kedua pihak persis di tempat kalimatnya berhenti.
Tafsiran
Ayat penutup surah ini menyimpulkan keseluruhan pernyataan dengan pemisahan tegas jalan masing-masing pihak. Susunannya sejajar sempurna, dan kesejajaran itu bagian dari isinya.
Dua kalimat pendek tanpa kata kerja, dengan kata depan kepunyaan yang diulang di kedua sisi. Tidak ada pihak yang disebut lebih dulu sebagai yang benar, dan tidak ada yang diberi keterangan tambahan. Bentuk yang setara semacam itu menutup pembacaan bahwa ayat ini sedang mengalahkan salah satu pihak.
Namun kesetaraan bentuk tidak berarti kesetaraan akibat, dan di situlah pilihan padanan menentukan. Yang dinyatakan bukan bahwa kedua jalan sama-sama sah, melainkan bahwa masing-masing memikul perhitungannya sendiri. Bandingkan dengan 110:2 yang menggambarkan orang-orang masuk ke dalam pertanggungjawaban Allah secara berbondong-bondong: kata yang sama dipakai di kedua tempat, dan di sana ia menyebut sesuatu yang dimasuki, di sini sesuatu yang dipikul. Surah ini ditutup bukan dengan permusuhan dan bukan pula dengan persetujuan, melainkan dengan penetapan siapa menanggung apa.
Rangkaian penutup ini muncul sekali saja di seluruh Al-Qur'an. Kalimat yang menutup pemisahan paling tegas di dalam kitab ini ternyata tidak dipinjamkan kepada ayat mana pun yang lain, dan ia juga tidak memuat doa maupun kutukan bagi pihak yang disapa. Yang tertinggal cuma dua kalimat pendek yang sejajar, dan sesudahnya surah berhenti.
Renungan dan Hikmah
- Surah ini menyampaikan satu kutipan utuh dari awal hingga akhir (109:1-6), struktur ini menegaskan bahwa pemisahan jalan bukanlah permusuhan, melainkan pengakuan jujur atas perbedaan mendasar yang tak dapat dipaksakan sama. Penutupnya pun berupa dua kalimat pendek yang sejajar sempurna, tanpa satu pihak pun disebut lebih dulu sebagai yang benar. Kesetaraan bentuk yang dipakai Allah itu berjalan sejak ayat kedua dan tidak pernah goyah sampai kata terakhir.
- Kata yang dipakai di penutup ini diterjemahkan pertanggungjawaban, bukan agama, mengikuti keputusan yang berlaku di seluruh korpus ini. Bedanya besar. Dibaca sebagai agama, kalimatnya terdengar seperti persetujuan untuk berbeda; dibaca sebagai pertanggungjawaban, ia menetapkan bahwa akibat pilihan masing-masing ditanggung sendiri-sendiri dan tidak bisa dipindahkan. Yang ditanggung di hadapan Allah tak bisa diwakilkan, tak bisa dibagi, dan tak bisa dialihkan lewat kesepakatan apa pun antara kedua pihak.
- Dua kalimat penutup itu sejajar sempurna, memakai kata depan kepunyaan yang diulang di kedua sisi, tanpa satu pihak diberi keterangan tambahan. Bentuk yang setara menutup pembacaan bahwa ayat ini sedang mengalahkan salah satu pihak. Namun kesetaraan bentuk bukan kesetaraan akibat, dan yang dinyatakan Allah bukan bahwa kedua jalan sama-sama sah melainkan bahwa keduanya sama-sama ditanggung sendiri. Bentuk yang setara menutup pembacaan bahwa Allah sedang mengalahkan salah satu pihak lewat susunan kalimatnya.
- Kedua kalimat penutup itu tanpa kata kerja sama sekali. Kalimat tanpa kata kerja menyatakan keadaan, bukan peristiwa, sehingga yang dinyatakan bukan sesuatu yang baru saja diputuskan pada hari itu melainkan keadaan yang memang sudah begitu. Pemisahan yang dinyatakan sebagai keadaan tidak menunggu persetujuan siapa pun untuk berlaku. Yang diputuskan hari itu bisa dirundingkan besok; yang ditetapkan Allah sebagai keadaan tidak menyediakan meja perundingan sama sekali.
- Surah ini berakhir tanpa doa bagi pihak yang disapa dan tanpa kutukan atas mereka. Tidak ada permintaan agar mereka mendapat petunjuk, dan tidak ada ancaman tentang nasib mereka. Yang tertinggal cuma penetapan siapa menanggung apa. Penutup yang tidak mendoakan dan tidak mengutuk meninggalkan hubungan itu persis di tempat kalimatnya berhenti. Tidak ada yang ditarik lebih jauh, dan tidak ada yang digantung menunggu kelanjutan.
- Rangkaian penutup ini muncul sekali saja di seluruh Al-Qur'an. Kalimat yang menutup pemisahan paling tegas di dalam kitab ini ternyata tidak dipinjamkan kepada ayat mana pun yang lain. Yang diucapkan sekali dan tidak diulang di tempat lain berdiri sendiri tanpa pembanding. Apa yang tersisa untuk dikatakan sesudah sebuah percakapan ditutup dengan kalimat semacam itu? Yang diucapkan sekali dan tak pernah diulang di tempat lain berdiri sendiri tanpa pembanding di seluruh kitab.