بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ
Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُidzaa jaa'a nashru llaahi wa-l-fathuapabila datang pertolongan Allah dan kemenangan
Terjemahan per kata (5 kata)
- إِذَاidzaaapabila
- جَاءَjaa'adatang
- نَصْرُnashrupertolongan
- اللَّهِllaahiAllah
- وَالْفَتْحُwa-l-fathudan kemenangan
Inti bacaan
Pembukaan An-Nasr dengan pengumuman kemenangan: 'apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan', penanda momen pencapaian besar setelah perjuangan panjang.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka penanda waktu (إِذَا, idzaa), yang menunjuk sesuatu yang akan terjadi dan bukan sesuatu yang sedang dibayangkan. Bedanya dengan penanda pengandaian nyata: yang ini tidak menyisakan keraguan apakah peristiwanya jadi atau tidak, ia hanya belum sampai waktunya. Padanan "apabila" mempertahankan sifat itu, sedangkan "seandainya" akan memasukkan keraguan yang tidak ada di dalamnya.
Kata kerja sesudahnya (جَاءَ, jaa'a) berbentuk lampau, padahal yang dibicarakan belum terjadi. Susunan semacam itu dipakai untuk sesuatu yang kepastiannya sudah setara dengan yang sudah lewat. Bahasa Indonesia tidak bisa menirunya tanpa terdengar keliru, sehingga padanannya "datang" tanpa penanda waktu. Yang hilang dalam pemindahan itu adalah nada kepastiannya, dan nada itulah yang membuat perintah di 110:3 tidak terbaca sebagai persiapan menghadapi kemungkinan.
Dua hal yang datang disebut dengan perlakuan yang berbeda, dan perbedaannya sengaja. Yang pertama (نَصْرُ اللَّهِ, nashru llaahi), disandarkan langsung kepada Allah sehingga pemiliknya disebut. Yang kedua (وَالْفَتْحُ, wa-l-fathu), hanya diberi kata sandang tanpa disandarkan kepada siapa pun. Akar keduanya bukan kata langka: yang pertama berarti menolong dan hadir di 137 ayat, yang kedua berarti membuka dan hadir di 33 ayat. Jadi yang khas di sini bukan kata-katanya melainkan pasangannya, satu bernama pemiliknya dan satu dibiarkan terbuka.
Pasangan kedua kata itu muncul sekali lagi di tempat lain, dan perbandingannya menerangkan banyak. Di 61:13 tertulis (نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ, nashrun mina llaahi wa-fathun qariibun), pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat. Di sana keduanya tanpa kata sandang, dan yang kedua diberi sifat "dekat", jadi keduanya masih dijanjikan. Di ayat ini keduanya justru bertakrif dan tidak diberi sifat apa pun. Yang di 61:13 disebut sebagai sesuatu yang akan datang, di sini disebut sebagai sesuatu yang datangnya sedang dibicarakan. Kata sandang itu menandai perpindahan dari janji ke peristiwa.
Pilihan padanan untuk kata kedua juga perlu ditahan pada apa yang tertulis. Akar yang berarti membuka itu berarti membuka, dan di 48:1 ia muncul sebagai (فَتْحًا مُبِينًا, fathan mubiinan), diterjemahkan "kemenangan yang nyata". Padanan "kemenangan" dipakai konsisten karena yang dibicarakan bukan pembukaan pintu dalam arti sehari-hari, melainkan terbukanya jalan yang sebelumnya tertutup. Gambaran membuka itu tetap tersimpan di dalam akarnya, dan ia menerangkan kenapa kata ini berpasangan dengan pertolongan: yang membuka bukan yang masuk.
Padanan "pertolongan" dipilih dan bukan "kemenangan" untuk (نَصْرُ, nashru), sebab keduanya berbeda arah. Pertolongan menunjuk kepada yang memberi bantuan, sedangkan kemenangan menunjuk kepada hasil yang diperoleh. Kata kedua yang menampung hasil itu, dan urutannya diletakkan demikian: yang menolong disebut lebih dulu, hasilnya menyusul. Kalau keduanya diterjemahkan sama, urutan itu lenyap dan ayatnya terbaca seperti mengulang satu hal dengan dua kata.
Tafsiran
Ayat ini membuka surah dengan syarat waktu, bukan dengan perintah atau kabar yang sudah selesai. Seluruh surah hanya tiga ayat, dan dua ayat pertamanya menggantung sebagai keterangan waktu sampai jawabannya turun di 110:3. Susunan itu menahan pembaca cukup lama sebelum memberitahukan apa yang harus dikerjakan, dan penahanan itu bekerja: yang dinanti-nanti ternyata bukan perayaan.
Urutan penyebutannya juga patut diperhatikan. Pertolongan disebut lebih dahulu, kemenangan menyusul. Susunan sebaliknya lebih biasa dalam cara orang bercerita, sebab yang paling terasa memang hasilnya. Di sini yang diletakkan di depan justru sumbernya, sehingga hasilnya terbaca sebagai akibat dan bukan sebagai pencapaian. Perbedaan itu diperkuat oleh perlakuan tata bahasanya, sebab hanya pertolongan yang disandarkan kepada Allah sementara kemenangan dibiarkan tanpa pemilik.
Letaknya sebagai pembuka menyiapkan pembalikan di ayat terakhir. Sebuah kalimat yang dimulai dengan datangnya pertolongan dan kemenangan biasanya berlanjut kepada sesuatu yang menyenangkan. Surah ini berlanjut kepada perintah memohon ampun. Jarak antara harapan itu dan jawaban yang sesungguhnya adalah isi seluruh surah, dan jarak itu hanya bisa terasa kalau pembukanya lebih dulu membangkitkan harapan yang biasa.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut pertolongan lebih dahulu daripada kemenangan. Yang menolong duluan. Menangnya kemudian. Cara orang bercerita biasanya terbalik, sebab yang paling terasa memang hasilnya dan yang paling mudah dilupakan justru sebabnya. Urutan di ayat ini mengembalikan letak keduanya, sehingga kemenangan terbaca sebagai akibat dan bukan sebagai pencapaian yang berdiri sendiri. Yang disebut pertama biasanya yang paling diingat, dan di sini yang pertama justru bukan bagian yang dikerjakan manusia.
- Pertolongannya disebut milik-Nya, kemenangannya tidak diberi pemilik. Yang satu bernama. Yang lain terbuka. Perbedaan perlakuan itu tidak kebetulan, sebab keduanya berdiri berdampingan dalam satu kalimat pendek dan hanya satu yang disandarkan. Kemenangan yang dibiarkan tanpa pemilik menyisakan pertanyaan tentang siapa yang berhak mengakuinya, dan pertanyaan itu dijawab dua ayat kemudian dengan perintah memohon ampun. Sesuatu yang tidak disandarkan kepada siapa pun mudah sekali disandarkan kepada diri sendiri oleh yang menerimanya.
- Kalimatnya bersyarat, dan surahnya pendek. Allah menaruh jawabannya dua ayat kemudian. Yang datang bukan perayaan. Dua ayat pertama hanya keterangan waktu yang menggantung, dan penahanan itu membangkitkan harapan biasa tentang apa yang pantas menyusul kemenangan. Yang menyusul ternyata perintah bertasbih dan memohon ampun. Apa yang biasanya dikerjakan seseorang pada hari ketika ia akhirnya berhasil?
- Kata kerjanya berbentuk lampau meskipun yang dibicarakan belum terjadi. Susunan itu dipakai Allah untuk sesuatu yang kepastiannya sudah setara dengan yang sudah lewat. Bahasa Indonesia tidak dapat menirunya tanpa terdengar keliru, sehingga nada kepastian itu hilang dalam pemindahan. Yang tersisa hanya kata datang, padahal yang tertulis lebih dekat kepada sudah datang bagi Yang mengetahui kesudahannya. Bagi yang menunggu, peristiwanya masih di depan; bagi Yang menuliskannya, ia sudah lewat.
- Kata pertama menunjuk kepada pihak yang memberi bantuan, kata kedua menunjuk kepada hasil yang diperoleh. Keduanya tidak searah, dan menerjemahkan keduanya sama akan membuat ayat ini terbaca seperti mengulang satu hal dengan dua kata. Yang dijaga oleh pembedaan itu adalah kedudukan penerima: ia ditolong lebih dulu, dan baru sesudah itu ada sesuatu yang bisa disebut menang. Orang yang menyebut dirinya menang tanpa menyebut siapa yang menolong sedang memakai separuh kalimat saja.
- Penanda waktu di kepala ayat ini menyatakan sesuatu yang pasti terjadi tetapi belum disebut kapan. Tidak ada tanggal, tidak ada tanda, tidak ada ukuran seberapa lama menunggu. Yang dipastikan Allah hanya kedatangannya. Orang yang menanti dengan kepastian tanpa tanggal berada di tempat yang berbeda dengan orang yang menanti sesuatu yang belum tentu, sekalipun keduanya sama-sama belum melihat apa yang dinanti.