وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا
Dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk ke dalam pertanggungjawaban Allah,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًاwa-ra'ayta n-naasa yadkhuluuna fii diini llaahi afwaajandan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk ke dalam pertanggungjawaban Allah
Terjemahan per kata (7 kata)
- وَرَأَيْتَwa-ra'aytadan engkau melihat
- النَّاسَn-naasamanusia
- يَدْخُلُونَyadkhuluunamereka masuk
- فِيfiidalam
- دِينِdiiniagama
- اللَّهِllaahiAllah
- أَفْوَاجًاafwaajanberbondong-bondong
Inti bacaan
Bukti nyata keberhasilan yang terlihat punya sisi yang jarang disadari: justru ketika ia paling kasatmata, ia paling gampang diakui sebagai jerih payah sendiri. Penerimaan luas memang menjadi bukti keberhasilan misi, tetapi ayat sebelumnya sudah menempatkan sumbernya di luar diri pelakunya. Konkretnya: bertambahnya jumlah pendukung bukan alat ukur kebenaran sebuah jalan, sebab jumlah bisa bertambah karena banyak sebab dan hanya satu di antaranya yang disebutkan di sini. Praktis: ketika sebuah usaha akhirnya diikuti khalayak ramai, pemeriksaan pertama bukan pada seberapa besar capaiannya, melainkan pada siapa yang membuka jalannya, dan apakah pengakuan itu masih diucapkan setelah tidak lagi diperlukan untuk meminta bantuan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini melanjutkan keterangan waktu dari 110:1 dengan kata kerja (وَرَأَيْتَ, wa-ra'ayta) yang berbentuk lampau dan berkata ganti tunggal, jadi yang disapa satu orang dan yang disebut penglihatannya sendiri. Bukan kabar yang sampai kepadanya, bukan laporan orang lain. Padanan "engkau melihat" mempertahankan ketunggalan itu, yang akan hilang kalau diterjemahkan sebagai bentuk jamak.
Kontras yang paling terang di ayat ini terletak pada bentuk kata kerjanya. Di 110:1 tertulis (جَاءَ, jaa'a) yang berbentuk lampau, sedangkan di sini (يَدْخُلُونَ, yadkhuluuna) berbentuk sedang berlangsung. Jadi kedatangan pertolongan disebut sebagai peristiwa yang selesai, sementara masuknya manusia disebut sebagai sesuatu yang masih berjalan ketika dilihat. Padanan "berbondong-bondong masuk" menahan sifat berlangsung itu; "telah masuk" akan mengubahnya menjadi peristiwa yang sudah tuntas dan menghapus kontrasnya.
Yang masuk disebut dengan (النَّاسَ, an-naasa), dan pilihan itu tidak sembarang. Al-Qur'an punya beberapa kata untuk manusia dan memakainya menurut sisi mana yang sedang dibicarakan. Kata yang dipakai di sini menyebut manusia sebagai orang banyak, tersebar di 225 ayat, dan itulah sisi yang memang relevan bagi kalimat tentang rombongan. Bandingkan dengan 103:2, yang memakai kata lain untuk menyebut manusia sebagai jenis ketika yang dinyatakan berlaku atas setiap orang satu per satu. Di sini yang digambarkan justru gerak bersama, jadi kata untuk kerumunan yang dipakai, dan padanan "manusia" menampung keduanya karena bahasa Indonesia tidak membedakannya.
Kata (دِينِ, diini) diterjemahkan "pertanggungjawaban" dan bukan "agama", mengikuti keputusan yang berlaku di seluruh korpus ini setiap kali akar yang berarti tunduk dan pembalasan muncul, yakni di delapan puluh tujuh ayat. Alasannya bukan selera: "agama" dalam pemakaian Indonesia sekarang menunjuk kelembagaan dan keanggotaan, sedangkan yang dibicarakan akar ini adalah hubungan berbalas antara yang berutang dan yang menagih. Dengan padanan itu, kalimat ini tidak berbicara tentang orang yang berpindah keanggotaan, melainkan tentang orang yang masuk ke dalam hubungan pertanggungjawaban dengan Allah. Kata depan "ke dalam" sendiri ditambahkan untuk kelengkapan tata bahasa Indonesia, sebagai padanan langsung (فِي, fii) dalam Arab, bukan tambahan makna baru.
Kata terakhirnya (أَفْوَاجًا, afwaajan), bentuk jamak tanpa kata sandang. Akarnya berarti rombongan. Ia dipakai di lima ayat saja, dan empat sisanya seluruhnya berbicara tentang pengumpulan pada hari kiamat: rombongan yang dibariskan di 27:83, rombongan yang masuk berdesakan ke api di 38:59, rombongan yang dilemparkan ke dalamnya di 67:8, dan orang-orang yang datang berbondong ketika sangkakala ditiup di 78:18. Di sini kata yang sama dipakai untuk rombongan yang masuk dengan kehendak sendiri, di dunia, sebelum semua itu. Ketiadaan kata sandang membuat jumlahnya tak tertentu, sehingga yang digambarkan bukan rombongan tertentu melainkan rombongan demi rombongan.
Tafsiran
Ayat ini meletakkan hasil di depan mata orang yang disapa, dan bukan di dalam kabar. Yang disebut penglihatannya sendiri, sehingga apa yang terjadi tidak diperantarai siapa pun. Pada surah yang berbicara tentang kemenangan, penekanan pada melihat langsung itu berarti sesuatu: yang dijanjikan bukan hasil yang baru akan terbukti di kemudian hari, melainkan yang sempat disaksikan oleh orang yang diperintahkan memohon ampun di ayat berikutnya.
Bentuk kata kerjanya yang masih berlangsung membuat gambaran ini tidak pernah selesai di dalam kalimatnya. Manusia sedang masuk, dan ayat ini berhenti tanpa mengatakan bahwa mereka semua sudah masuk. Karena itu perintah di 110:3 tidak jatuh sesudah pekerjaan tuntas, melainkan di tengah pekerjaan yang masih berjalan. Orang yang diperintahkan memohon ampun sedang menyaksikan keberhasilan yang belum berhenti bertambah.
Pilihan kata untuk apa yang dimasuki juga menentukan bacaan seluruh surah. Kalau yang dimasuki dipahami sebagai kelembagaan, maka yang digambarkan adalah pertambahan jumlah pengikut, dan perintah memohon ampun sesudahnya menjadi ganjil. Kalau yang dimasuki adalah hubungan pertanggungjawaban dengan Allah, gambarannya berubah: yang bertambah bukan barisan di belakang seseorang, melainkan orang-orang yang kini berhadapan langsung dengan Yang menagih. Dengan bacaan itu, perintah di ayat penutup berhenti terasa ganjil.
Renungan dan Hikmah
- Yang disebut penglihatan, bukan kabar. Engkau melihat sendiri. Allah menaruh hasilnya di depan mata. Tidak ada perantara di antara orang yang disapa dan apa yang terjadi, tidak ada laporan yang harus dipercaya, tidak ada janji yang menunggu pembuktian di kemudian hari. Yang dijanjikan sempat disaksikan oleh orang yang sama yang diperintahkan memohon ampun di ayat berikutnya. Melihat sendiri membuat sesuatu sulit disangkal, dan sama sulitnya untuk tidak diakui sebagai hasil kerja sendiri.
- Mereka masuk berbondong-bondong, bukan satu per satu. Yang berubah arus. Bukan orang seorang. Kata yang dipakai tidak diberi kata sandang, sehingga jumlahnya tak tertentu dan yang digambarkan bukan rombongan tertentu melainkan rombongan demi rombongan. Yang berubah pada keadaan semacam itu bukan keputusan beberapa orang, melainkan arah yang diambil banyak orang sekaligus. Kata yang dipakai untuk mereka pun kata untuk kerumunan, bukan kata untuk manusia sebagai jenis.
- Kemenangan disebut lebih dahulu di ayat sebelumnya. Allah menaruh sebabnya di depan. Yang datang sesudahnya buahnya. Susunan itu menutup satu cara membaca yang biasa, yaitu bahwa banyaknya orang yang datang adalah bukti kehebatan pihak yang didatangi. Yang tertulis justru sebaliknya: pertolongan datang lebih dulu, dan barisan yang bertambah adalah akibat, bukan penyebab. Menghitung pengikut sebagai ukuran kebenaran berarti membaca surah ini dari ujung yang salah.
- Kata untuk rombongan di ayat ini hanya dipakai di lima ayat, dan empat sisanya seluruhnya tentang pengumpulan pada hari kiamat, tiga di antaranya rombongan yang digiring ke api. Di sini kata yang sama dipakai untuk orang-orang yang masuk dengan kehendak sendiri, di dunia, sebelum semua itu. Rombongan yang sama akan dikumpulkan juga kelak, dan bedanya cuma pada kapan mereka datang. Yang datang sekarang atas kehendak sendiri tidak perlu digiring nanti, dan itu satu-satunya perbedaan yang tersedia.
- Tidak seorang pun yang mengerjakan sesuatu bersama Allah pernah melihat pekerjaannya berhenti dalam keadaan tuntas. Yang terlihat selalu potongan yang masih bergerak, dan penglihatan itu berhenti bukan karena pekerjaannya selesai melainkan karena umur yang melihatnya habis lebih dulu. Kapan seseorang merasa sudah cukup pantas untuk berhenti memeriksa dirinya sendiri?
- Orang yang bergabung ke dalam sesuatu biasanya membayangkan perlindungan, keanggotaan, atau tempat berteduh. Yang dimasuki di ayat ini justru hubungan berbalas dengan Allah: ada Yang memberi, dan ada yang harus mempertanggungjawabkan. Jadi yang bertambah bukan orang-orang yang kini terlindungi, melainkan orang-orang yang kini punya tanggungan. Masuk ke dalamnya berarti mulai dihitung, bukan berhenti dihitung. Yang datang berbondong-bondong tidak semuanya datang dengan alasan yang sama, dan ayat ini tidak memilah-milahnya. Yang disebut cuma pemandangannya. Pemilahan itu memang bukan pekerjaan orang yang menyaksikan, dan surah ini justru menyuruhnya mengerjakan hal lain, yaitu bertasbih dan meminta ampun.