فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia penyambut tobat.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُfa-sabbih bi-hamdi rabbika wa-staghfirhubertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya
  2. إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًاinnahu kaana tawwaabansesungguhnya Dia penyambut tobat

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. فَسَبِّحْfa-sabbihmaka bertasbihlah
  2. بِحَمْدِbi-hamdidengan memuji
  3. رَبِّكَrabbikaTuhanmu
  4. وَاسْتَغْفِرْهُwa-staghfirhudan mohonlah ampun kepada-Nya
  5. إِنَّهُinnahusesungguhnya Dia
  6. كَانَkaanaadalah
  7. تَوَّابًاtawwaabanpenerima tobat

Inti bacaan

Respons yang dituntut di tengah kemenangan: 'bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia penyambut tobat', instruksi penting untuk tetap rendah hati bahkan di puncak keberhasilan, kesadaran bahwa kemenangan bukan pencapaian pribadi melainkan anugerah yang memerlukan syukur dan introspeksi berkelanjutan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka huruf (فَ, fa) yang di sini menandai hasil, bukan sekadar sambungan. Ia menutup keterangan waktu yang digantung sepanjang 110:1 dan 110:2, sehingga seluruh surah berbentuk satu kalimat: apabila itu semua datang, maka kerjakan ini. Padanan "maka" menahan hubungan tersebut. Tanpa hubungan itu, dua ayat sebelumnya akan terbaca sebagai kabar yang berdiri sendiri.

Perintah pertamanya (فَسَبِّحْ, fa-sabbih) berbentuk kedua, yang menyatakan pengerjaan bersungguh-sungguh, dan disertai keterangan (بِحَمْدِ, bi-hamdi) yang berarti "dengan memuji". Dua hal itu tidak sama: yang pertama menyucikan, yaitu menyatakan Yang disebut bersih dari kekurangan, sedangkan yang kedua memuji atas kebaikan yang diberikan. Keduanya dirangkap dalam satu perintah, sehingga yang diminta bukan memilih salah satu melainkan mengerjakan keduanya sekaligus kepada (رَبِّكَ, rabbika), Tuhanmu.

Sebutan itu sendiri berubah di ayat ini, dan perubahannya terbaca. Dua ayat sebelumnya menyebut (اللَّهِ, allaahi) dengan nama-Nya, sekali pada pertolongan di 110:1 dan sekali pada pertanggungjawaban di 110:2. Begitu perintah datang, sebutannya berpindah menjadi (رَبِّكَ, rabbika) yang membawa kata ganti "-mu". Nama menyebut siapa Dia; sebutan yang kedua menyebut hubungan-Nya dengan yang disapa. Jadi selama yang dibicarakan peristiwa besar yang menimpa banyak orang, yang dipakai nama-Nya; begitu yang dibicarakan apa yang harus dikerjakan satu orang, yang dipakai sebutan yang menautkan orang itu kepada-Nya.

Perintah keduanya (وَاسْتَغْفِرْهُ, wa-staghfir-hu) berbentuk kesepuluh, dan bentuk itu menyatakan permintaan: bukan mengampuni, bukan diampuni, melainkan meminta ampun. Akarnya berarti menutupi dan mengampuni. Ia yang bermakna menutupi. Letak perintah ini yang membuat surah ini tidak biasa. Permintaan ampun umumnya datang sesudah kesalahan atau kekalahan; di sini ia diperintahkan tepat sesudah pertolongan dan kemenangan disebutkan. Tidak ada satu kata pun di antara keduanya yang menyebut dosa atau kekurangan yang perlu ditutupi.

Kalimat terakhirnya (إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا, innahu kaana tawwaaban) memberi alasannya. Bentuk (تَوَّابًا, tawwaaban) adalah bentuk yang menyatakan perbuatan berulang-ulang, jadi bukan sekadar yang pernah menyambut tobat melainkan yang berkali-kali menyambutnya. Kata kerja (كَانَ, kaana) di depannya menambahkan sifat menetap, bukan keadaan sesaat. Bentuk (تَوَّابًا, tawwaaban) tak bertakrif dan bertanwin, dan ia dipertahankan dengan huruf kecil sebagai "penyambut tobat", konsisten dengan disiplin baku korpus ini. Yang paling khas: sebutan ini dipakai bagi Allah di 11 ayat, dan di 10 di antaranya ia selalu disertai sebutan kedua, yaitu "penyayang" di 2:37, 2:54, 2:128, 2:160, 9:104, 9:118, 49:12, 4:16, dan 4:64, atau "penuh hikmah" di 24:10. Hanya di ayat ini ia berdiri sendirian tanpa pendamping. Pada surah yang seluruhnya berbicara tentang kemenangan, sebutan yang ditinggalkan sendirian itu adalah sebutan tentang menerima orang yang kembali.

Tafsiran

Ayat penutup ini menjawab dua ayat sebelumnya dengan perintah yang tidak diduga. Sebuah kalimat yang dimulai dengan datangnya pertolongan, kemenangan, dan orang-orang yang berdatangan biasanya berakhir pada sesuatu yang menandai keberhasilan. Yang diperintahkan justru menyucikan, memuji, dan memohon ampun. Pembalikan itu adalah seluruh isi surah, dan ia hanya bekerja karena dua ayat sebelumnya lebih dulu membangkitkan harapan yang biasa.

Permintaan ampun pada saat menang menempatkan keberhasilan pada kedudukan yang berbeda dari yang biasa diberikan kepadanya. Ia tidak diperlakukan sebagai bukti kebenaran diri, dan tidak juga sebagai upah yang sudah dilunasi. Ia diperlakukan sebagai saat yang justru rawan, sebab tidak ada keadaan yang lebih mudah membuat seseorang mengakui sesuatu sebagai miliknya selain keadaan berhasil. Di 110:1 kemenangan sudah dibiarkan tanpa pemilik; di sini pemiliknya dipastikan bukan yang diperintah.

Sebutan penutupnya menyambungkan surah ini kembali ke 110:2. Yang digambarkan di sana adalah orang-orang yang berdatangan masuk, dan yang disebut di sini adalah sifat menyambut mereka yang kembali. Jadi kalimat terakhirnya bukan sekadar alasan bagi perintah memohon ampun, melainkan juga keterangan tentang apa yang sedang terjadi pada rombongan-rombongan itu. Mereka datang karena ada yang menyambut, dan yang diperintahkan memohon ampun diminta berdiri di barisan yang sama dengan mereka.

Renungan dan Hikmah

  • Perintah bertasbih dan memohon ampun justru datang setelah kemenangan (bukan kekalahan), mengajarkan bahwa keberhasilan seharusnya mendorong kerendahan hati, bukan kesombongan. Tidak ada satu kata pun di antara kemenangan dan permintaan ampun itu yang menyebut dosa atau kekurangan yang perlu ditutupi, sehingga yang diminta bukan penebusan atas kesalahan tertentu melainkan sikap pada saat berhasil. Sebutan Allah di ayat ini pun berubah menjadi Tuhanmu, berpindah dari nama-Nya kepada hubungan-Nya dengan yang disapa.
  • Bentuk kata kerja pada perintah kedua menyatakan permintaan, bukan penerimaan dan bukan pemberian. Yang diminta adalah meminta, dan itu menempatkan orang yang paling berhasil di surah ini pada kedudukan orang yang mengajukan permohonan. Pada hari ketika seseorang paling berhak merasa cukup, yang diperintahkan Allah justru mengulurkan tangan meminta sesuatu yang tidak dapat diambil sendiri. Bentuk itu tidak menyediakan pilihan lain, sebab meminta hanya bisa dikerjakan oleh yang mengakui dirinya belum punya.
  • Sebutan penutup surah ini dipakai bagi Allah di sebelas ayat, dan di sepuluh di antaranya ia selalu ditemani sebutan kedua, penyayang atau penuh hikmah. Hanya di sini ia berdiri sendirian. Pada surah yang seluruhnya berbicara tentang kemenangan, sifat yang dibiarkan sendirian justru sifat tentang menyambut orang yang kembali. Apa yang paling dibutuhkan seseorang tepat pada saat ia berhasil?
  • Dua hal dirangkap dalam satu perintah pertama, dan keduanya tidak sama. Menyucikan berarti menyatakan Yang disebut bersih dari kekurangan; memuji berarti mengakui kebaikan yang diberikan. Yang satu menolak menisbahkan cacat, yang lain mengakui pemberian. Keduanya diminta bersamaan, sehingga tidak cukup mengagungkan tanpa berterima kasih, dan tidak cukup berterima kasih tanpa mengakui bahwa yang memberi tidak berkekurangan. Perintah yang merangkap dua seperti ini menutup jalan tengah yang biasanya diambil orang, yaitu memilih yang lebih ringan.
  • Huruf di kepala ayat ini menandai hasil, sehingga dua ayat sebelumnya bukan kabar yang berdiri sendiri melainkan keterangan waktu yang digantung sampai di sini. Seluruh surah ternyata satu kalimat: apabila semua itu datang, maka kerjakan ini. Yang dibaca banyak orang sebagai kabar kemenangan sebenarnya kalimat bersyarat, dan bagian yang paling penting darinya justru bagian yang datang paling akhir. Yang dihafal orang biasanya pembukanya, padahal pembuka itu hanya keterangan waktu yang menunggu jawabannya.
  • Sifat menyambut yang disebut di penutup menyambungkan surah ini kembali kepada rombongan yang digambarkan sedang masuk di ayat sebelumnya. Mereka datang karena ada Yang menyambut. Orang yang diperintahkan memohon ampun diminta berdiri di barisan yang sama dengan orang-orang yang baru saja datang itu, bukan di depan mereka sebagai yang menerima kedatangan. Yang memimpin dan yang baru datang diminta melakukan hal yang sama, dan permintaan itu tidak membedakan keduanya sama sekali.