Ayat 111:1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ
Binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan binasalah dia.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّtabbat yadaa abii lahabin wa-tabbabinasalah kedua tangan Abu Lahab, dan binasalah dia
Terjemahan per kata (5 kata)
- تَبَّتْtabbatbinasalah
- يَدَاyadaakedua tangan
- أَبِيabiiayahku
- لَهَبٍlahabingejolak api
- وَتَبَّwa-tabbadan binasalah
Inti bacaan
Pembukaan Al-Masad dengan kutukan personal yang tegas: 'binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan binasalah dia', kecaman langsung terhadap individu tertentu yang aktif menentang kebenaran, penggunaan nama spesifik yang menegaskan bahwa konsekuensi berlaku personal berdasarkan tindakan nyata.
Penjelasan pilihan kata
Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. "Abii Lahab" dipertahankan apa adanya: nama ini eksplisit tertulis dalam teks Arab sendiri, bukan tambahan dari luar yang disisipkan penerjemah ke dalam kalimatnya.
Kata pembukanya (تَبَّتْ, tabbat) berbentuk lampau dan berjenis perempuan, menyesuaikan (يَدَا, yadaa) yang berbentuk ganda. Bentuk persis ini muncul sekali saja di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Akarnya berarti rugi dan binasa. Ia dipakai di 3 ayat: di sini, lalu 11:101 dan 40:37. Di kedua tempat itu ia menyebut sesuatu yang berakhir sia-sia dan tidak menambah apa pun selain kerugian. Padanan "binasalah" menahan sisi kesia-siaan yang berujung habis itu, bukan sekadar kematian.
Yang disebut lebih dahulu bukan orangnya melainkan (يَدَا, yadaa), kedua tangannya, dan bentuk gandanya menunjuk sepasang, bukan jamak. Baru sesudah itu kata kerja yang sama diulang dalam bentuk laki-laki tunggal, (وَتَبَّ, wa-tabba), yang mengenai dirinya. Jadi satu kata kerja dipakai dua kali dalam satu ayat pendek, sekali untuk alat perbuatannya dan sekali untuk pelakunya. Pengulangan itu menutup jarak yang biasanya dipakai orang untuk memisahkan diri dari perbuatannya sendiri.
Bentuk ganda pada (يَدَا, yadaa) perlu dicatat tersendiri. Arab membedakan tunggal, ganda, dan jamak, dan yang dipakai di sini bentuk ganda yang menunjuk tepat sepasang. Jadi yang dimaksud bukan tangan sebagai kiasan untuk kekuasaan atau pengaruh, melainkan dua tangan yang mengerjakan sesuatu dengan sendirinya. Bahasa Indonesia menahannya dengan "kedua tangan", sebab menerjemahkannya sekadar "tangan" akan membuka pembacaan kiasan yang tidak dituntut bentuknya.
Nama (لَهَبٍ, lahabin) di ujung sebutan itu berasal dari akar yang berarti lidah api. Akar itu dipakai di 3 ayat: di sini, di 111:3, dan di 77:31. Dua dari tiga kemunculannya berada di dalam surah ini sendiri, satu sebagai bagian dari nama dan satu sebagai sifat api di 111:3. Bentuk (لَهَبٍ, lahabin) sendiri muncul 2 kali, keduanya di surah ini. Kesesuaian bunyi antara nama orangnya dan sifat api yang menantinya karena itu bukan kebetulan bacaan, melainkan tertulis dengan huruf yang sama persis di dua ayat berjarak dua ayat. Ayat ini tidak menerangkan kesesuaian itu sama sekali, dan tidak diterangkannya adalah bagian dari caranya bekerja. Sebuah kesesuaian yang ditunjuk kehilangan sebagian dayanya, sebab yang ditunjuk berhenti menjadi temuan pembacanya sendiri dan berubah menjadi keterangan yang diterima dari luar.
Tafsiran
Ayat ini membuka surah dengan menyebut kebinasaan, dan yang disebut lebih dulu bukan orangnya melainkan kedua tangannya. Tangan adalah alat yang mengerjakan, dan menyebut alat sebelum pelakunya menempatkan perbuatan lebih dahulu daripada identitas.
Pengulangan kata kerja yang sama dalam satu ayat pendek menutup satu celah yang biasa dipakai. Orang bisa mengakui perbuatannya keliru sambil menjaga jarak dari akibatnya, seakan yang bersalah tangannya dan bukan dirinya. Ayat ini menyebut keduanya dengan kata yang sama, berturut-turut, tanpa satu kata pun di antaranya yang membedakan bobotnya.
Yang paling khas dari pembuka ini adalah bahwa nama disebut terang-terangan. Al-Qur'an membicarakan banyak pihak yang menentang tanpa menamai satu pun di antaranya, dan di sini namanya tertulis. Bandingkan dengan 109:1 yang menyapa pihak yang ditolak dengan sebutan golongan, bukan dengan nama diri. Perbedaan itu menentukan: sebuah teguran yang dialamatkan kepada golongan bisa dibaca siapa saja sebagai bukan dirinya, sedangkan yang menyebut nama tidak menyediakan pintu itu bagi orang yang namanya disebut.
Akibat lain dari penyebutan nama itu berjalan sampai hari ini. Sesuatu yang dituliskan tidak berhenti ketika orangnya berhenti, dan nama yang disebut di sini terus terbaca oleh siapa pun yang membaca surahnya. Yang paling ingin dilupakan justru yang paling lama tersimpan.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut namanya terang-terangan. Bukan sindiran. Yang dicela diberi nama, dan namanya tetap terbaca sampai hari ini. Al-Qur'an membicarakan banyak pihak yang menentang tanpa menamai satu pun di antaranya, dan di sini namanya tertulis. Teguran yang dialamatkan kepada golongan bisa dibaca siapa saja sebagai bukan dirinya; yang menyebut nama tidak menyediakan pintu itu bagi orang yang namanya disebut. Allah menutup satu-satunya jalan keluar yang biasa dipakai orang ketika mendengar teguran.
- Yang disebut lebih dahulu kedua tangannya, baru dirinya. Tangan yang bekerja. Yang dikutuk alat perbuatannya sebelum orangnya. Bentuk kata yang dipakai untuk tangan itu berbentuk ganda, menunjuk sepasang dan bukan jamak, sehingga yang dimaksud bukan tangan sebagai kiasan kekuasaan melainkan dua tangan yang mengerjakan sesuatu. Menyebut alat sebelum pelakunya menempatkan perbuatan lebih dahulu daripada identitas. Yang dinilai Allah apa yang dikerjakan tangan itu, bukan siapa pemilik tangannya.
- Allah mengulang kata binasa dua kali dalam satu ayat: untuk tangannya, dan untuk dia. Diulang. Pengulangan itu menutup celah antara perbuatan dan pelakunya. Orang bisa mengakui perbuatannya keliru sambil menjaga jarak dari akibatnya, seakan yang bersalah tangannya dan bukan dirinya, dan ayat ini menyebut keduanya dengan kata yang sama tanpa satu kata pun di antaranya yang membedakan bobotnya. Satu kata kerja dipakai dua kali dalam satu ayat sependek ini.
- Nama yang disebut di ayat ini berakhir dengan kata yang di dua ayat kemudian dipakai untuk menyifati api. Bentuk yang sama persis muncul dua kali di surah ini, sekali di dalam nama dan sekali pada apinya. Kesesuaian itu tertulis dengan huruf yang sama, bukan sekadar kemiripan bunyi dalam bacaan, dan Allah membiarkannya tanpa satu kalimat pun yang menerangkannya. Sebuah kesesuaian yang ditunjuk kehilangan sebagian dayanya, sebab ia berhenti menjadi temuan pembacanya sendiri.
- Kata pembuka surah ini muncul sekali saja dalam bentuk tersebut di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya dipakai di dua tempat lain untuk menyebut sesuatu yang berakhir sia-sia dan tidak menambah apa pun selain kerugian. Yang dinyatakan karena itu bukan kematian melainkan kehabisan: usaha yang berjalan terus lalu berhenti tanpa meninggalkan hasil apa pun. Akar yang sama dipakai Allah di dua tempat lain untuk hal yang berakhir sia-sia, bukan untuk hal yang berhenti bernyawa.
- Nama yang disebut di sini terus dibaca oleh siapa pun yang membaca surah ini, di mana pun dan kapan pun. Sesuatu yang dituliskan tidak berhenti ketika orangnya berhenti. Apa yang tersisa dari seseorang ketika yang paling awet darinya justru catatan tentang apa yang ia tentang? Yang paling ingin dilupakan seringkali justru yang paling lama tersimpan. Nama yang disebut terang-terangan membuat ayat ini tidak bisa dialihkan kepada siapa pun yang lain, dan pada saat yang sama membuat polanya terbaca oleh siapa saja yang berdiri di kedudukan serupa.
Ayat 111:2
مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ
Tidaklah mencukupkannya hartanya dan apa yang dia usahakan.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَmaa aghnaa 'anhu maaluhu wa-maa kasabatidaklah mencukupkannya hartanya dan apa yang dia usahakan
Terjemahan per kata (6 kata)
- مَاmaatidaklah
- أَغْنَىٰaghnaamencukupkan
- عَنْهُ'anhudarinya
- مَالُهُmaaluhuhartanya
- وَمَاwa-maadan apa yang
- كَسَبَkasabamengusahakan
Inti bacaan
Ketidakberdayaan kekayaan dan usaha: 'tidaklah mencukupkannya hartanya dan apa yang dia usahakan', penegasan bahwa akumulasi material dan pencapaian duniawi tidak memiliki nilai penyelamatan ketika digunakan untuk melawan kebenaran.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka penyangkal (مَا, maa) yang mengenai kata kerja berbentuk lampau (أَغْنَىٰ, aghnaa), dari akar yang berarti cukup dan tidak butuh. Akar itu hadir di 72 ayat, di antaranya 3:10, 40:82, dan 92:11. Akar itu berkaitan dengan kecukupan dan ketidakbutuhan. Padanan "tidaklah mencukupkannya" menahan sisi kecukupan itu; menerjemahkannya sebagai "tidak berguna" akan menghilangkan gambaran cukup atau tidak cukup yang justru menjadi pokoknya.
Dua hal disebut sebagai yang gagal mencukupkan, dan keduanya disusun berpasangan. Yang pertama (مَالُهُ, maaluhu), hartanya, dari akar yang berarti harta. Yang kedua (وَمَا كَسَبَ, wa-maa kasaba), apa yang ia usahakan, memakai kata kerja dari akar yang berarti mengusahakan. Akar itu hadir di 60 ayat. Pasangan itu mencakup dua jalur perolehan yang berbeda: yang sudah ada padanya tanpa ia usahakan, dan yang ia kumpulkan sendiri dengan tangannya.
Kata penghubung (مَا, maa) pada bagian kedua sengaja tidak dirinci isinya. Tidak disebut apa saja yang ia usahakan, berapa banyak, atau dalam bidang apa. Ketiadaan rincian itu membuat cakupannya tidak bisa dipersempit oleh pembacanya, dan tidak menyisakan satu jenis usaha pun yang bisa dikecualikan sebagai kekecualian yang khusus.
Kata kerjanya (أَغْنَىٰ, aghnaa) berbentuk lampau, bukan sedang berlangsung. Pilihan waktu itu menentukan: yang dinyatakan bukan bahwa hartanya sedang tidak mencukupkan, melainkan bahwa ia sudah terbukti tidak mencukupkan, perkaranya selesai. Bandingkan dengan (سَيَصْلَىٰ, sa-yashlaa) di 111:3 yang justru menandai masa depan. Jadi dua ayat berturut-turut memakai dua arah waktu yang berlawanan: yang sudah terbukti gagal di belakang, dan yang belum terjadi tetapi pasti di depan.
Letak ayat ini sesudah 111:1 juga menentukan bacaannya. Kebinasaan disebut lebih dulu, baru sesudah itu disebut bekal yang tidak menolong. Urutan sebaliknya akan terbaca sebagai penjelasan mengapa ia binasa, seolah kekurangan bekal yang menyebabkannya. Dengan urutan yang dipakai, bekalnya disebut sesudah keputusannya jatuh, sehingga yang dinyatakan bukan sebab melainkan keterangan bahwa apa pun yang dimilikinya tidak mengubah keputusan itu.
Perlu dicatat pula bahwa ayat ini tidak menyebut berapa banyak hartanya, tidak menyebut dari mana asalnya, dan tidak menilai apakah cara memperolehnya benar atau keliru. Yang dinyatakan cuma bahwa ia tidak mencukupkan. Sebuah kalimat yang tidak menilai cara memperoleh juga tidak bisa dijawab dengan membela cara memperolehnya, dan yang tersisa untuk ditimbang tinggal satu hal saja, yaitu cukup atau tidak cukup.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa harta dan usahanya tidak mencukupkannya, dan dua hal itu disebut berpasangan bukan bergantian.
Pasangan tersebut mencakup dua jalur yang berbeda. Harta adalah yang sudah ada padanya, dan usaha adalah yang ia kumpulkan sendiri. Menyebut keduanya sekaligus menutup pembelaan yang biasa muncul: bahwa yang gagal cuma satu sisi, dan sisi yang lain masih bisa diandalkan. Di sini keduanya disebut dalam satu tarikan, dan keduanya sama-sama tidak mencukupkan.
Letaknya sesudah 111:1 menentukan arah bacaannya. Kebinasaan disebut lebih dulu, bekalnya menyusul, sehingga bekal itu tidak terbaca sebagai sebab kegagalan melainkan sebagai keterangan tentang apa yang tidak berpengaruh. Bandingkan dengan 106:1 sampai 106:3 yang menyebut karunia lebih dulu lalu perintahnya: di sana urutannya membangun alasan, di sini urutannya membatalkan pembelaan. Dua susunan yang sama-sama meletakkan sesuatu lebih dulu, dengan pekerjaan yang berlawanan.
Yang tidak disebut di sini juga patut dicatat. Tidak disebut berapa banyak hartanya, tidak disebut dari mana asalnya, dan tidak dinilai apakah cara memperolehnya benar atau keliru. Yang dinyatakan cuma bahwa ia tidak mencukupkan. Sebuah kalimat yang tidak menilai cara memperoleh juga tidak bisa dijawab dengan membela cara memperolehnya, sehingga yang tersisa untuk ditimbang tinggal satu hal saja. Kata kerjanya pun berbentuk lampau, jadi perkaranya sudah selesai, bukan sedang berlangsung.
Renungan dan Hikmah
- Dua hal disebut Allah gagal menolongnya. Hartanya. Dan usahanya. Keduanya disebut dalam satu tarikan, bukan bergantian, sehingga tidak menyisakan pembelaan bahwa yang gagal cuma satu sisi sementara sisi lain masih bisa diandalkan. Kata kerja yang dipakai berkaitan dengan kecukupan, jadi yang dinyatakan bukan bahwa keduanya tidak berguna sama sekali, melainkan bahwa keduanya tidak sampai pada takaran yang mencukupkan. Sesuatu bisa sangat berguna dan tetap tidak mencukupi, sebagaimana bekal sepuluh hari pada perjalanan tiga puluh hari.
- Yang diwarisi dan yang dikumpulkan sama-sama tak menolong. Bukan salah satu. Dua-duanya. Pasangan itu mencakup dua jalur perolehan yang berbeda: yang sudah ada padanya tanpa ia usahakan, dan yang ia kumpulkan sendiri dengan tangannya. Menyebut keduanya sekaligus menutup jalan tengah yang biasanya masih tersedia bagi orang yang kehilangan salah satunya. Yang kehilangan warisan masih bisa bersandar pada usahanya, dan sebaliknya; di sini kedua sandaran itu disebut bersamaan.
- Kalimat ini menyusul kebinasaan yang Allah sebut di ayat pembuka. Kutukannya dulu. Bekalnya kemudian. Urutan sebaliknya akan terbaca sebagai penjelasan mengapa ia binasa, seolah kekurangan bekal yang menyebabkannya. Dengan urutan yang ada, bekalnya disebut sesudah keputusannya jatuh, sehingga yang dinyatakan bukan sebab melainkan keterangan bahwa apa pun yang dimilikinya tidak mengubah apa-apa. Yang disebut sesudah keputusan jatuh tidak lagi bisa dibaca sebagai hal yang menentukan keputusan itu.
- Tidak disebut apa saja yang ia usahakan, berapa banyak, atau dalam bidang apa. Ketiadaan rincian itu membuat cakupannya tidak bisa dipersempit oleh pembacanya, dan tidak menyisakan satu jenis usaha pun yang bisa dikecualikan. Yang tidak diberi batas tidak bisa ditawar dengan mengatakan bahwa jenis usaha tertentu seharusnya masuk hitungan. Allah membiarkannya terbuka justru supaya tak ada pengecualian yang bisa diajukan.
- Kata kerja yang dipakai Allah berkaitan dengan kecukupan, bukan dengan kegunaan. Perbedaannya terasa. Sesuatu bisa sangat berguna dan tetap tidak mencukupi, sebagaimana bekal yang cukup untuk sepuluh hari tidak menolong pada perjalanan tiga puluh hari. Berapa banyak yang harus dikumpulkan seseorang sebelum ia tahu bahwa jumlahnya sudah cukup? Ukuran cukup selalu ditentukan oleh perjalanan yang akan ditempuh, dan panjang perjalanan itu tidak pernah diberitahukan lebih dulu.
- Dari segala hal yang bisa disebut sebagai bekal, yang diangkat Allah lebih dulu adalah harta. Ia memang yang paling mudah dihitung dan paling sering dijadikan ukuran keamanan seseorang. Justru yang paling diandalkan itu yang disebut pertama sebagai tidak mencukupkan, dan yang lain menyusul sesudahnya tanpa diberi kesempatan tampil sebagai cadangan. Allah menyebut yang paling diandalkan lebih dulu, lalu menutup pintu cadangannya di kalimat yang sama.