مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ
Tidaklah mencukupkannya hartanya dan apa yang dia usahakan.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَmaa aghnaa 'anhu maaluhu wa-maa kasabatidaklah mencukupkannya hartanya dan apa yang dia usahakan
Terjemahan per kata (6 kata)
- مَاmaatidaklah
- أَغْنَىٰaghnaamencukupkan
- عَنْهُ'anhudarinya
- مَالُهُmaaluhuhartanya
- وَمَاwa-maadan apa yang
- كَسَبَkasabamengusahakan
Inti bacaan
Ketidakberdayaan kekayaan dan usaha: 'tidaklah mencukupkannya hartanya dan apa yang dia usahakan', penegasan bahwa akumulasi material dan pencapaian duniawi tidak memiliki nilai penyelamatan ketika digunakan untuk melawan kebenaran.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka penyangkal (مَا, maa) yang mengenai kata kerja berbentuk lampau (أَغْنَىٰ, aghnaa), dari akar yang berarti cukup dan tidak butuh. Akar itu hadir di 72 ayat, di antaranya 3:10, 40:82, dan 92:11. Akar itu berkaitan dengan kecukupan dan ketidakbutuhan. Padanan "tidaklah mencukupkannya" menahan sisi kecukupan itu; menerjemahkannya sebagai "tidak berguna" akan menghilangkan gambaran cukup atau tidak cukup yang justru menjadi pokoknya.
Dua hal disebut sebagai yang gagal mencukupkan, dan keduanya disusun berpasangan. Yang pertama (مَالُهُ, maaluhu), hartanya, dari akar yang berarti harta. Yang kedua (وَمَا كَسَبَ, wa-maa kasaba), apa yang ia usahakan, memakai kata kerja dari akar yang berarti mengusahakan. Akar itu hadir di 60 ayat. Pasangan itu mencakup dua jalur perolehan yang berbeda: yang sudah ada padanya tanpa ia usahakan, dan yang ia kumpulkan sendiri dengan tangannya.
Kata penghubung (مَا, maa) pada bagian kedua sengaja tidak dirinci isinya. Tidak disebut apa saja yang ia usahakan, berapa banyak, atau dalam bidang apa. Ketiadaan rincian itu membuat cakupannya tidak bisa dipersempit oleh pembacanya, dan tidak menyisakan satu jenis usaha pun yang bisa dikecualikan sebagai kekecualian yang khusus.
Kata kerjanya (أَغْنَىٰ, aghnaa) berbentuk lampau, bukan sedang berlangsung. Pilihan waktu itu menentukan: yang dinyatakan bukan bahwa hartanya sedang tidak mencukupkan, melainkan bahwa ia sudah terbukti tidak mencukupkan, perkaranya selesai. Bandingkan dengan (سَيَصْلَىٰ, sa-yashlaa) di 111:3 yang justru menandai masa depan. Jadi dua ayat berturut-turut memakai dua arah waktu yang berlawanan: yang sudah terbukti gagal di belakang, dan yang belum terjadi tetapi pasti di depan.
Letak ayat ini sesudah 111:1 juga menentukan bacaannya. Kebinasaan disebut lebih dulu, baru sesudah itu disebut bekal yang tidak menolong. Urutan sebaliknya akan terbaca sebagai penjelasan mengapa ia binasa, seolah kekurangan bekal yang menyebabkannya. Dengan urutan yang dipakai, bekalnya disebut sesudah keputusannya jatuh, sehingga yang dinyatakan bukan sebab melainkan keterangan bahwa apa pun yang dimilikinya tidak mengubah keputusan itu.
Perlu dicatat pula bahwa ayat ini tidak menyebut berapa banyak hartanya, tidak menyebut dari mana asalnya, dan tidak menilai apakah cara memperolehnya benar atau keliru. Yang dinyatakan cuma bahwa ia tidak mencukupkan. Sebuah kalimat yang tidak menilai cara memperoleh juga tidak bisa dijawab dengan membela cara memperolehnya, dan yang tersisa untuk ditimbang tinggal satu hal saja, yaitu cukup atau tidak cukup.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa harta dan usahanya tidak mencukupkannya, dan dua hal itu disebut berpasangan bukan bergantian.
Pasangan tersebut mencakup dua jalur yang berbeda. Harta adalah yang sudah ada padanya, dan usaha adalah yang ia kumpulkan sendiri. Menyebut keduanya sekaligus menutup pembelaan yang biasa muncul: bahwa yang gagal cuma satu sisi, dan sisi yang lain masih bisa diandalkan. Di sini keduanya disebut dalam satu tarikan, dan keduanya sama-sama tidak mencukupkan.
Letaknya sesudah 111:1 menentukan arah bacaannya. Kebinasaan disebut lebih dulu, bekalnya menyusul, sehingga bekal itu tidak terbaca sebagai sebab kegagalan melainkan sebagai keterangan tentang apa yang tidak berpengaruh. Bandingkan dengan 106:1 sampai 106:3 yang menyebut karunia lebih dulu lalu perintahnya: di sana urutannya membangun alasan, di sini urutannya membatalkan pembelaan. Dua susunan yang sama-sama meletakkan sesuatu lebih dulu, dengan pekerjaan yang berlawanan.
Yang tidak disebut di sini juga patut dicatat. Tidak disebut berapa banyak hartanya, tidak disebut dari mana asalnya, dan tidak dinilai apakah cara memperolehnya benar atau keliru. Yang dinyatakan cuma bahwa ia tidak mencukupkan. Sebuah kalimat yang tidak menilai cara memperoleh juga tidak bisa dijawab dengan membela cara memperolehnya, sehingga yang tersisa untuk ditimbang tinggal satu hal saja. Kata kerjanya pun berbentuk lampau, jadi perkaranya sudah selesai, bukan sedang berlangsung.
Renungan dan Hikmah
- Dua hal disebut Allah gagal menolongnya. Hartanya. Dan usahanya. Keduanya disebut dalam satu tarikan, bukan bergantian, sehingga tidak menyisakan pembelaan bahwa yang gagal cuma satu sisi sementara sisi lain masih bisa diandalkan. Kata kerja yang dipakai berkaitan dengan kecukupan, jadi yang dinyatakan bukan bahwa keduanya tidak berguna sama sekali, melainkan bahwa keduanya tidak sampai pada takaran yang mencukupkan. Sesuatu bisa sangat berguna dan tetap tidak mencukupi, sebagaimana bekal sepuluh hari pada perjalanan tiga puluh hari.
- Yang diwarisi dan yang dikumpulkan sama-sama tak menolong. Bukan salah satu. Dua-duanya. Pasangan itu mencakup dua jalur perolehan yang berbeda: yang sudah ada padanya tanpa ia usahakan, dan yang ia kumpulkan sendiri dengan tangannya. Menyebut keduanya sekaligus menutup jalan tengah yang biasanya masih tersedia bagi orang yang kehilangan salah satunya. Yang kehilangan warisan masih bisa bersandar pada usahanya, dan sebaliknya; di sini kedua sandaran itu disebut bersamaan.
- Kalimat ini menyusul kebinasaan yang Allah sebut di ayat pembuka. Kutukannya dulu. Bekalnya kemudian. Urutan sebaliknya akan terbaca sebagai penjelasan mengapa ia binasa, seolah kekurangan bekal yang menyebabkannya. Dengan urutan yang ada, bekalnya disebut sesudah keputusannya jatuh, sehingga yang dinyatakan bukan sebab melainkan keterangan bahwa apa pun yang dimilikinya tidak mengubah apa-apa. Yang disebut sesudah keputusan jatuh tidak lagi bisa dibaca sebagai hal yang menentukan keputusan itu.
- Tidak disebut apa saja yang ia usahakan, berapa banyak, atau dalam bidang apa. Ketiadaan rincian itu membuat cakupannya tidak bisa dipersempit oleh pembacanya, dan tidak menyisakan satu jenis usaha pun yang bisa dikecualikan. Yang tidak diberi batas tidak bisa ditawar dengan mengatakan bahwa jenis usaha tertentu seharusnya masuk hitungan. Allah membiarkannya terbuka justru supaya tak ada pengecualian yang bisa diajukan.
- Kata kerja yang dipakai Allah berkaitan dengan kecukupan, bukan dengan kegunaan. Perbedaannya terasa. Sesuatu bisa sangat berguna dan tetap tidak mencukupi, sebagaimana bekal yang cukup untuk sepuluh hari tidak menolong pada perjalanan tiga puluh hari. Berapa banyak yang harus dikumpulkan seseorang sebelum ia tahu bahwa jumlahnya sudah cukup? Ukuran cukup selalu ditentukan oleh perjalanan yang akan ditempuh, dan panjang perjalanan itu tidak pernah diberitahukan lebih dulu.
- Dari segala hal yang bisa disebut sebagai bekal, yang diangkat Allah lebih dulu adalah harta. Ia memang yang paling mudah dihitung dan paling sering dijadikan ukuran keamanan seseorang. Justru yang paling diandalkan itu yang disebut pertama sebagai tidak mencukupkan, dan yang lain menyusul sesudahnya tanpa diberi kesempatan tampil sebagai cadangan. Allah menyebut yang paling diandalkan lebih dulu, lalu menutup pintu cadangannya di kalimat yang sama.