سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ
Kelak dia akan memasuki api yang bergejolak,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍsa-yashlaa naaran dzaata lahabinkelak dia akan memasuki api yang bergejolak
Terjemahan per kata (4 kata)
- سَيَصْلَىٰsa-yashlaakelak akan memasuki
- نَارًاnaaranapi
- ذَاتَdzaatayang memiliki
- لَهَبٍlahabingejolak api
Inti bacaan
Konsekuensi yang ironis sesuai namanya: 'kelak dia akan memasuki-membakar api yang bergejolak', ironi puitis antara nama (yang berkonotasi api/nyala) dan nasib yang dihadapi, kesesuaian simbolis antara identitas dan konsekuensi.
Penjelasan pilihan kata
Kata majemuk ganjil "memasuki-membakar" untuk (سَيَصْلَىٰ, sa-yashlaa) disederhanakan menjadi "memasuki" saja, konsisten dengan koreksi yang sama di 84:12 dan 88:4.
Kata kerjanya (سَيَصْلَىٰ, sa-yashlaa) didahului huruf (سَ, sa) yang menandai masa depan, dan itu satu-satunya penanda waktu depan di seluruh surah ini. Empat ayat lainnya memakai bentuk lampau atau kalimat tanpa kata kerja. Jadi susunan surah ini bergerak dari yang sudah terjadi ke yang akan terjadi, dan pergantian itu jatuh persis di tengah, pada ayat ketiga dari lima.
Akar kata kerja (سَيَصْلَىٰ, sa-yashlaa), yaitu akar yang berarti terpanggang api, hadir di 25 ayat, di antaranya 4:10, 84:12, dan 88:4. Yang perlu diperhatikan pilihan katanya: yang dipakai bukan kata untuk dilemparkan atau dimasukkan, melainkan kata yang menyatakan memasuki dan merasakan panasnya. Bentuknya pun aktif, bukan pasif. Jadi yang digambarkan bukan seseorang yang diseret, melainkan seseorang yang sampai ke sana melalui jalannya sendiri.
Kata (نَارًا, naaran) berbentuk tak bertakrif, dari akar yang berarti cahaya. Akar itu hadir di 174 ayat. Ketiadaan kata sandang membuatnya tidak menunjuk api tertentu yang sudah dikenal, melainkan api yang diterangkan justru oleh sifat yang menyusul sesudahnya. Susunan itu membalik urutan biasa: bukan apinya yang sudah dikenal lalu diberi sifat, melainkan sifatnya yang menerangkan api macam apa yang dimaksudkan di sini.
Sifat apinya disebut (ذَاتَ لَهَبٍ, dzaata lahabin), yang berarti "yang mempunyai nyala". Bentuk (لَهَبٍ, lahabin) di sini sama persis dengan yang ada di dalam sebutan orangnya di 111:1, huruf per huruf, dan kedua kemunculannya adalah satu-satunya di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti lidah api. Ia dipakai di 3 ayat: dua di surah ini, dan satu lagi di 77:31 yang menyebut sesuatu yang tidak melindungi dari nyala api. Perlu dicatat bahwa ayat ini tidak menghubungkan nama dengan apinya secara terbuka. Kedua kata itu cuma diletakkan berdekatan, dan pembacanya yang menangkap sendiri kesesuaiannya.
Perbandingan dengan 77:31 melengkapi gambaran akar (لَهَبٍ, lahabin) itu. Di sana kata dari akar yang sama dipakai untuk menyebut sesuatu yang tidak melindungi dan tidak mencukupi dari nyala api. Jadi akar ini cuma dipakai di tiga tempat, dan di ketiganya ia berkaitan dengan api yang menyala, baik sebagai bagian dari sebutan orang, sebagai sifat api, maupun sebagai apa yang tidak bisa dilindungi darinya. Kata yang jarang itu tidak pernah dipinjam untuk gambaran lain, dan justru kelangkaannya yang membuat dua kemunculannya di dalam satu surah pendek ini menonjol begitu jelas bagi siapa pun yang membacanya berurutan.
Tafsiran
Ayat ini menyebut apa yang akan terjadi, dan ia satu-satunya ayat di surah ini yang memakai penanda masa depan. Empat ayat lainnya memakai bentuk lampau atau kalimat tanpa kata kerja, sehingga pergantian waktu itu jatuh persis di tengah surah.
Susunan tersebut membagi surah menjadi dua bagian yang seimbang. Dua ayat pertama menyebut apa yang sudah selesai, yaitu kebinasaan dan kegagalan bekal. Ayat ini dan dua sesudahnya menyebut apa yang menanti. Titik pergantiannya bukan di tempat lain melainkan di ayat tengah, dan pembagian itu membuat surah pendek ini punya bentuk yang rapi tanpa satu pun kata penghubung yang menyatakannya.
Yang paling patut diperhatikan adalah kesesuaian bunyi yang tidak diterangkan. Kata yang menyifati api di sini sama persis dengan kata yang ada di dalam sebutan orangnya di 111:1, dan keduanya adalah satu-satunya kemunculan bentuk itu di seluruh Al-Qur'an. Bandingkan dengan 77:31 yang memakai akar yang sama untuk menyebut sesuatu yang tidak melindungi dari nyala. Ayat ini tidak menunjuk kesesuaian tersebut, tidak memberinya keterangan, dan tidak menariknya menjadi kesimpulan. Ia cuma meletakkan kedua kata itu berjarak dua ayat, dan membiarkan yang membaca menemukannya sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut api, dan julukan orangnya sendiri berbau api. Yang dijuluki bapak nyala. Berujung di nyala. Kata yang menyifati apinya sama persis huruf per huruf dengan kata yang ada di dalam sebutan orangnya di ayat pembuka, dan kedua kemunculan bentuk itu adalah satu-satunya di seluruh Al-Qur'an. Kesesuaian itu bukan kemiripan bunyi dalam bacaan, melainkan tertulis dengan huruf yang sama. Akar itu cuma dipakai di tiga tempat seluruh Al-Qur'an, dan di ketiganya berkaitan dengan api yang menyala.
- Kata memasuki dipakai, bukan kata dilemparkan. Ia berjalan sendiri. Menuju yang senama. Bentuk kata kerjanya aktif, bukan pasif, sehingga yang digambarkan bukan seseorang yang diseret melainkan seseorang yang sampai ke sana melalui jalannya sendiri. Perbedaan satu bentuk kata memindahkan seluruh gambaran dari hukuman yang ditimpakan menjadi tujuan yang dicapai. Yang diseret bisa mengaku terpaksa; yang berjalan sendiri tidak punya pengakuan itu.
- Kesesuaian itu tidak diterangkan Allah. Dibiarkan begitu. Yang membaca menangkapnya sendiri. Tidak ada satu kalimat pun yang menunjuk hubungan antara nama dan apinya, tidak ada keterangan, dan tidak ada kesimpulan yang ditarik. Kedua kata itu cuma diletakkan berjarak dua ayat. Yang menemukan sendiri sebuah kesesuaian mengingatnya lebih lama daripada yang diberi tahu. Kesesuaian yang ditunjuk berhenti menjadi temuan pembacanya dan berubah jadi keterangan dari luar.
- Ayat ini satu-satunya di surah ini yang memakai penanda masa depan. Empat ayat lainnya memakai bentuk lampau atau kalimat tanpa kata kerja. Pergantian waktu itu jatuh persis di ayat tengah dari lima, sehingga dua ayat pertama menyebut yang sudah selesai dan tiga sisanya menyebut yang menanti. Surah sependek ini punya bentuk yang rapi tanpa satu pun kata penghubung yang menyatakannya, dan pembagian itu cuma terlihat kalau bentuk kata kerjanya diperhatikan satu per satu.
- Kata kerja yang dipakai Allah bukan kata untuk dilemparkan atau dimasukkan, melainkan kata yang menyatakan memasuki sekaligus merasakan panasnya. Akar itu dipakai di puluhan ayat lain dengan gambaran yang sama. Yang dimasuki bukan tempat yang dilihat dari luar, melainkan keadaan yang dirasakan dari dalam, dan perbedaan itu tersimpan di dalam satu kata kerja. Akar yang sama dipakai Allah di puluhan ayat lain dengan gambaran yang sama persis.
- Seseorang yang menghabiskan tenaganya menentang sesuatu berakhir mendatangi sesuatu yang menyandang namanya sendiri. Tidak ada kalimat yang menyatakan hubungan itu, dan tidak perlu ada. Ke mana sebenarnya seseorang sedang berjalan ketika ia merasa sedang menjauh dari sesuatu? Bentuk kata kerjanya aktif, bukan pasif, sehingga yang digambarkan Allah bukan orang yang diseret melainkan orang yang sampai sendiri. Arah langkah dan arah niat ternyata tidak selalu sama.