لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْlam yalid wa-lam yuuladDia tidak beranak dan tidak diperanakkan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. لَمْlamtidak
  2. يَلِدْyalidberanak
  3. وَلَمْwa-lamdan tidak
  4. يُولَدْyuuladdiperanakkan

Inti bacaan

Penolakan konsep keturunan ilahi: 'Dia tidak beranak dan tidak (pula) diperanakkan', bantahan tegas terhadap segala bentuk teologi yang mengaitkan Allah dengan hubungan biologis atau silsilah, penegasan transendensi yang melampaui kategori makhluk.

Penjelasan pilihan kata

Dua penyangkalan dalam ayat ini, "tidak beranak" (لَمْ يَلِدْ, lam yalid) dan "tidak diperanakkan" (وَلَمْ يُولَدْ, wa-lam yuulad), memakai akar kata yang sama untuk "melahirkan" dalam bentuk aktif lalu pasif: Dia tidak melakukan proses itu, dan proses itu juga tidak terjadi pada-Nya.

Akar yang dipakai berarti melahirkan, dan ia sama sekali bukan kata langka: ia hadir di 80 ayat. Yang langka justru rangkaiannya. Susunan (لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ, lam yalid wa-lam yuulad) muncul sekali saja di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Jadi bahan katanya sangat dikenal sementara pemasangannya tidak diulang di mana pun, dan pemasangan itulah yang menjadi isi ayatnya.

Kata penyangkal yang dipakai (لَمْ, lam) juga bukan sembarang penyangkal. Ia menyangkal ke masa lampau, dan kata kerja sesudahnya berubah bentuk mengikutinya. Bahasa Indonesia tidak punya alat serupa, sehingga padanannya hanya "tidak". Yang hilang di situ adalah cakupan waktunya: yang disangkal bukan keadaan sekarang, melainkan seluruh masa yang sudah lewat. Karena itu ayat ini tidak bisa dibaca sebagai pernyataan bahwa Dia kebetulan belum beranak, sebab penyangkalannya menutup seluruh waktu yang pernah ada.

Cara ayat ini membantah juga berbeda dari cara Al-Qur'an membantah di tempat lain, dan perbedaannya terbaca. Bentuk (وَلَدًا, waladan), yaitu kata bendanya, muncul 15 kali di 11 surah, dan di kebanyakan tempat ia berpasangan dengan kata kerja mengambil atau mengangkat: 2:116 mengutip ucapan bahwa Allah mengambil anak, 19:88 mengutip ucapan bahwa Ar-Rahman mengangkat anak, dan 23:91 menyangkalnya dengan susunan yang sama. Bantahan semacam itu menolak sebuah tindakan memilih. Ayat ini tidak memakai kata bendanya sama sekali dan tidak memakai kata kerja mengambil. Ia memakai kata kerja melahirkan itu sendiri, sehingga yang disangkal bukan tindakan mengangkat seseorang menjadi anak, melainkan seluruh proses yang memungkinkan hubungan itu ada. Yang satu menutup pintu, yang ini menutup dindingnya sekalian.

Urutan kedua bentuk itu juga menentukan. Yang aktif (لَمْ يَلِدْ, lam yalid) disebut lebih dulu, yang pasif (وَلَمْ يُولَدْ, wa-lam yuulad) menyusul. Susunan itu bergerak dari yang lebih mudah disangkal orang kepada yang lebih jarang dipikirkan: tuduhan bahwa Tuhan punya keturunan lebih sering terdengar daripada dugaan bahwa Tuhan berasal dari sesuatu. Dengan urutan tersebut, ayat ini menutup dugaan yang ramai lebih dulu, lalu menutup yang bahkan belum sempat ditanyakan. Bentuk pasif pada bagian kedua penting: ia tidak menyebut siapa pelakunya, sehingga yang disangkal bukan satu asal-usul tertentu melainkan seluruh kemungkinan berasal dari mana pun.

Tafsiran

Dua penyangkalan ini menutup dua arah sekaligus: Allah tidak punya keturunan, dan Allah tidak berasal dari sesuatu sebelumnya. Bersama-sama, keduanya menegaskan bahwa Allah berdiri di luar rantai sebab-akibat kelahiran yang berlaku pada makhluk.

Yang ditutup di sini sebenarnya satu perkara yang sama dilihat dari dua ujung. Rantai kelahiran selalu punya arah ke depan dan ke belakang, dan siapa pun yang berada di dalamnya pasti menempati kedua kedudukan sekaligus, yaitu sebagai yang dilahirkan dan sebagai yang mungkin melahirkan. Menutup satu ujung saja tidak cukup, sebab yang tersisa masih menempatkan-Nya di dalam rantai itu. Ayat ini menutup keduanya dalam satu tarikan, dengan satu akar kata yang dibalik bentuknya.

Letaknya sesudah 112:2 membuat ayat ini terbaca sebagai akibat, bukan sebagai tambahan. Sesudah ditetapkan bahwa segala sesuatu bergantung kepada-Nya sementara Dia tidak bergantung kepada apa pun, keberadaan di dalam rantai kelahiran memang sudah tidak mungkin. Yang beranak menaruh sebagian dirinya pada yang lain; yang diperanakkan berutang seluruh dirinya kepada yang lain. Keduanya bentuk kebergantungan, dan keduanya sudah ditutup oleh ayat sebelumnya. Ayat ini menyebutkannya secara terang supaya tidak ada yang perlu disimpulkan sendiri oleh pembacanya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyangkal dua arah: tidak beranak, dan tidak diperanakkan. Yang ke depan dan yang ke belakang. Rantai kelahiran ditutup di kedua ujungnya, sehingga tak ada tempat menyisipkan-Nya ke dalam silsilah mana pun. Menutup satu ujung saja tidak akan cukup, sebab siapa pun yang berada di dalam rantai itu selalu menempati kedua kedudukan sekaligus, sebagai yang dilahirkan dan sebagai yang mungkin melahirkan. Allah menutup keduanya dalam satu tarikan napas, dengan satu akar kata yang cuma dibalik bentuknya, tanpa menyisakan ujung yang bisa disambung siapa pun.
  • Kedua penyangkalan memakai akar kata yang sama, sekali aktif sekali pasif. Satu kata dibolak-balik. Kependekan itu sendiri bagian dari isinya: perkara sebesar ini diselesaikan dengan satu kata dan dua bentuknya. Akarnya sendiri sama sekali tidak langka, hadir di 80 ayat, tetapi pemasangan kedua bentuknya berdampingan tidak diulang di mana pun lagi. Bahan yang sangat dikenal, dalam susunan yang cuma sekali, dan susunan itulah yang menjadi isi ayatnya.
  • Ayat ini berdiri di antara pernyataan tentang ketunggalan dan penutup tentang tidak adanya yang setara. Allah menaruh penyangkalan di tengah dua penegasan. Yang di tengah membersihkan, dan yang di dua ujung menetapkan. Susunan semacam itu membuat surah ini tidak berhenti pada bantahan, sebab bantahan diapit oleh dua kalimat yang menyatakan sesuatu, bukan menolak sesuatu. Yang dimulai dan diakhiri dengan penetapan tidak terbaca sebagai perdebatan, sekalipun bagian tengahnya membantah.
  • Kata penyangkal yang dipakai menutup ke masa lampau, bukan hanya keadaan sekarang, dan bahasa Indonesia tidak punya alat serupa untuk menirunya. Yang tersisa dalam terjemahan hanya kata tidak. Padahal yang disangkal Allah di sini seluruh masa yang pernah ada, sehingga ayat ini tidak bisa dibaca sebagai keterangan bahwa Dia kebetulan belum beranak sampai sekarang. Yang disangkal bukan kejadian yang belum terjadi, melainkan kejadian yang tak pernah punya tempat untuk terjadi.
  • Bentuk aktif disebut lebih dahulu, bentuk pasif menyusul. Urutannya bergerak dari dugaan yang sering terdengar kepada dugaan yang jarang terpikirkan. Anggapan bahwa Tuhan punya keturunan lebih ramai daripada dugaan bahwa Tuhan berasal dari sesuatu. Ayat ini menutup yang ramai lebih dulu, lalu menutup yang bahkan belum sempat ditanyakan siapa pun. Bantahan yang hanya menjawab pertanyaan yang sudah diajukan akan selalu tertinggal satu langkah dari pertanyaan berikutnya.
  • Bagian kedua memakai bentuk pasif, dan bentuk itu tidak menyebut siapa pelakunya. Akibatnya yang disangkal bukan satu asal-usul tertentu, melainkan seluruh kemungkinan berasal dari mana pun. Kalau pelakunya disebut, penyangkalannya akan terbatas pada pelaku itu saja dan menyisakan celah bagi yang lain. Apa lagi yang tersisa untuk ditanyakan sesudah seluruh kemungkinan asal ditutup sekaligus?