وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌwa-lam yakun lahu kufuwan ahadundan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya
Terjemahan per kata (5 kata)
- وَلَمْwa-lamdan tidak
- يَكُنْyakunia menjadi
- لَهُlahubaginya
- كُفُوًاkufuwansetara
- أَحَدٌahadunseorang pun
Inti bacaan
Penutup mutlak Al-Ikhlas: 'dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya', puncak deklarasi tauhid yang menutup segala kemungkinan perbandingan atau tandingan, empat ayat singkat surah ini merangkum inti teologi secara padat: keesaan, kemandirian sebagai sandaran segala sesuatu, ketiadaan keturunan, dan ketiadaan kesetaraan, fondasi yang menjadi ukuran bagi setiap klaim tentang hakikat Tuhan.
Penjelasan pilihan kata
Kutipan yang dibuka sejak 112:1 ditutup di akhir ayat ini. "Setara" (كُفُوًا, kufuwan) melengkapi tiga penyangkalan sebelumnya, yaitu beranak, diperanakkan, kini juga tak ada yang setara, sebagai penutup rangkaian.
Kata itu, seperti (الصَّمَدُ, sh-shamadu) di 112:2, berdiri sendirian di seluruh Al-Qur'an. Bentuknya muncul sekali, dan akarnya berarti setara. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi surah sepanjang empat ayat ini menyimpan dua kata yang tak pernah dipakai lagi di mana pun, dan keduanya justru kata yang memikul isi pokoknya. Yang menerangkan kedudukan-Nya dan yang menutup kemungkinan tandingan sama-sama tidak dipinjamkan kepada ayat lain.
Al-Qur'an menyangkal adanya yang setara di beberapa tempat lain, dan tak satu pun memakai kata yang dipakai di sini. Di 42:11 tertulis (لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ, laysa ka-mitslihi syay'un), tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, memakai kata yang berarti perumpamaan. Di 19:65 dipakai (سَمِيًّا, samiyyan), yang menyangkal adanya yang senama. Di 16:74 larangannya bahkan diarahkan kepada perbuatan manusia, yaitu membuat perumpamaan bagi Allah. Jadi ada beberapa cara menutup kemungkinan tandingan, dan masing-masing menutup dari sisi yang berbeda: yang serupa, yang senama, yang diperumpamakan. Kata di ayat ini menutup dari sisi kesepadanan kedudukan, dan hanya ayat inilah yang memakainya.
Susunan kalimatnya terbalik dari urutan biasa, dan pembalikan itu menerangkan sesuatu. Kata "setara" diletakkan sebelum pelakunya, sehingga yang lebih dulu terdengar bukan siapa yang tidak ada melainkan kedudukan apa yang tidak terisi. Bahasa Indonesia sulit menirunya tanpa terdengar kaku, sehingga padanannya mengikuti urutan biasa. Yang hilang di situ adalah tekanannya: yang disangkal bukan keberadaan seseorang, melainkan adanya kedudukan setara itu sendiri.
Kata terakhirnya (أَحَدٌ, ahadun) mengulang kata yang sama persis dengan yang menutup 112:1, dan pengulangan itu mengurung seluruh surah. Namun kedudukannya berbalik: di 112:1 ia menyifati Allah, sedangkan di sini ia menunjuk pihak yang tidak ada. Dari 13 kemunculan bentuk ini di seluruh Al-Qur'an, hanya dua yang menyifati Allah, dan keduanya ada di surah ini, di kalimat pembuka dan kalimat penutupnya. Sebelas sisanya menyebut "seorang pun" di antara manusia. Jadi satu kata yang sama membuka dan menutup surah dengan dua pekerjaan yang berlawanan: menetapkan Yang ada, lalu meniadakan yang lain. Kata kerja penyangkalnya pun bukan kata kerja biasa, melainkan (وَلَمْ يَكُنْ, wa-lam yakun), bentuk tersangkal dari kata kerja yang menyatakan keberadaan. Yang disangkal karena itu bukan sebuah perbuatan melainkan adanya sesuatu, dan penyangkalannya menutup ke masa lampau seperti dua penyangkalan di 112:3.
Tafsiran
Ayat penutup ini menambahkan penyangkalan ketiga setelah beranak dan diperanakkan, yaitu kesetaraan itu sendiri. Jika dua ayat sebelumnya menolak Allah punya asal-usul atau keturunan, ayat ini menolak kemungkinan lain, bahwa ada sesuatu yang sederajat dengan-Nya, terlepas dari hubungan keturunan. Bersama tiga ayat sebelumnya, seluruh surah membentuk struktur padat: satu pernyataan diikuti tiga penyangkalan yang menutup segala kemungkinan tandingan.
Yang ditutup di sini adalah celah terakhir yang masih tersisa. Dua penyangkalan sebelumnya bekerja pada rantai kelahiran, dan seseorang masih bisa membayangkan sesuatu yang sederajat tanpa hubungan keturunan sama sekali, misalnya kekuatan lain yang berdiri sendiri. Ayat ini menutup dugaan itu tanpa menyebutkan satu pun contohnya, dan justru karena tidak menyebutkan contoh, penutupannya berlaku bagi segala bentuk yang mungkin dibayangkan siapa pun.
Bahwa surah ini berakhir dengan kata yang sama dengan yang mengakhiri ayat pertamanya membuat seluruhnya terbaca sebagai satu lingkaran tertutup. Yang dinyatakan di pembuka dan yang disangkal di penutup memakai kata yang sama, dan di antara keduanya hanya ada satu sebutan tentang kedudukan serta dua penyangkalan tentang kelahiran. Tidak ada bahan lain yang dipakai. Empat ayat itu tidak meminjam apa pun dari luar dirinya untuk menerangkan pokoknya, dan bentuk tertutup itu sejalan dengan isinya, yaitu Yang tidak memerlukan apa pun di luar diri-Nya. Bandingkan dengan 42:11 dan 19:65, yang menyangkal hal serupa tetapi masing-masing memakai kata yang berbeda, dan 16:74 yang melarang manusia membuat perumpamaan bagi Allah.
Renungan dan Hikmah
- Kata yang dipakai untuk setara di ayat ini muncul sekali saja di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya pun cuma dipakai di sini. Surah pendek ini memang menutup dengan kata yang tak dipakai di tempat lain, dan itu kata kedua yang demikian sesudah sebutan di 112:2. Dua kata yang memikul isi pokok surah ini sama-sama tidak dipinjamkan kepada ayat mana pun. Al-Qur'an menyangkal adanya yang setara di beberapa tempat lain juga, tetapi tak satu pun memakai kata ini.
- Kata terakhir surah ini sama persis dengan kata terakhir ayat pertamanya, dan pengulangan itu mengurung seluruhnya. Kedudukannya berbalik: yang di pembuka menyifati Allah, yang di penutup menunjuk pihak yang tidak ada. Dari 13 kemunculan bentuk itu di seluruh Al-Qur'an, hanya dua yang menyifati Allah, dan dua-duanya di surah ini. Satu kata mengerjakan dua hal yang berlawanan dalam empat ayat. Yang menetapkan dan yang meniadakan ternyata memakai bunyi yang sama persis, dan hanya kedudukannya di dalam kalimat yang memisahkan keduanya.
- Dua penyangkalan sebelumnya bekerja pada rantai kelahiran, dan masih tersisa satu dugaan: sesuatu yang sederajat tanpa hubungan keturunan sama sekali. Allah menutupnya di sini tanpa menyebut satu pun contohnya. Justru karena tidak ada contoh yang disebut, penutupan itu berlaku bagi segala bentuk yang bisa dibayangkan siapa pun, termasuk yang belum terpikirkan sampai sekarang. Penyangkalan yang menyebut contoh selalu bisa dilewati dengan mengajukan contoh yang lain, dan penyangkalan yang tidak menyebut apa-apa tidak menyediakan celah itu.
- Susunan kalimatnya terbalik dari urutan biasa: kata setara diletakkan sebelum pelakunya. Yang lebih dulu terdengar bukan siapa yang tidak ada, melainkan kedudukan apa yang tidak terisi. Bahasa Indonesia sulit menirunya tanpa terdengar kaku, jadi tekanannya hilang dalam terjemahan. Padahal yang disangkal Allah bukan keberadaan seseorang, melainkan adanya kedudukan setara itu sendiri. Kedudukan yang tidak ada tidak bisa diisi oleh siapa pun, bahkan oleh yang belum pernah dibayangkan.
- Empat ayat ini tidak memakai satu pun perbandingan dari luar dirinya untuk menerangkan pokoknya. Tidak ada perumpamaan, tidak ada contoh, tidak ada rujukan kepada sesuatu yang sudah dikenal pembacanya. Yang ada hanya satu penetapan, satu sebutan kedudukan, dan tiga penyangkalan. Bentuk yang tertutup itu sejalan dengan isinya, yaitu Yang tidak memerlukan apa pun di luar diri-Nya. Sebuah keterangan yang tidak meminjam apa-apa dari luar memang satu-satunya bentuk yang pantas bagi pokok semacam itu.
- Surah ini berakhir di tempat ia bermula, dengan kata yang sama, sesudah melewati satu sebutan dan tiga penyangkalan. Bacaan yang berakhir di titik berangkatnya tidak meninggalkan ujung yang menggantung untuk disambung. Barangkali itu sebabnya surah sependek ini terasa selesai, padahal ia tidak menerangkan hampir apa pun tentang Allah selain apa yang bukan Dia. Apa yang sebenarnya sudah cukup diketahui seseorang tentang Yang disembahnya?