مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
Dari kejahatan apa yang Dia ciptakan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَmin syarri maa khalaqadari kejahatan apa yang Dia ciptakan
Terjemahan per kata (4 kata)
- مِنْmindari
- شَرِّsyarrikejahatan
- مَاmaaapa yang
- خَلَقَkhalaqamenciptakan
Inti bacaan
Permohonan pembuka ini sengaja tidak menyebut sasaran apa pun. Konkretnya: daftar kewaspadaan yang disusun sendiri selalu berhenti pada pengalaman dan kabar yang pernah sampai, sedangkan sebagian besar hal yang akhirnya melukai seseorang tidak pernah masuk ke daftar itu. Praktis: kalimat tanpa sasaran membebaskan pengucapnya dari pekerjaan menebak arah datangnya masalah, dan pekerjaan menebak itulah yang diam-diam memakan banyak tenaga. Ada pula pengakuan yang terkandung di dalamnya: sumber persoalan bisa berupa apa saja, termasuk hal yang selama ini dianggap aman dan akrab.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini melanjutkan kutipan dari 113:1, permohonan pertama dari empat permohonan perlindungan dalam surah ini. "Kejahatan" (شَرِّ, syarri) di sini disandarkan kepada "apa yang Dia ciptakan" (مَا خَلَقَ, maa khalaqa), bukan kepada Allah.
Susunan itu perlu dibaca teliti karena mudah tergelincir. Yang tertulis adalah kejahatan yang berasal dari apa yang Dia ciptakan, bukan kejahatan yang Dia ciptakan. Kata penghubung (مَا, maa) menunjuk kepada ciptaan-Nya, dan kejahatan disandarkan kepada ciptaan itu, bukan kepada perbuatan mencipta. Padanan "kejahatan apa yang Dia ciptakan" mempertahankan letak itu; "kejahatan yang Dia ciptakan" akan memindahkannya dan mengubah maknanya sama sekali.
Akar kata untuk (شَرِّ, syarri), yaitu akar yang berarti keburukan, hadir di 30 ayat, di antaranya 8:22, 98:6, dan 99:8. Jadi ini kata yang dikenal luas dan tidak dipakai khusus di surah ini. Yang khas justru cakupannya di ayat ini: tidak disebut kejahatan dari siapa, dari jenis apa, atau kapan. Ketiadaan batas itu membuat permohonan pertama ini mencakup seluruh yang tercipta, termasuk yang belum dikenal orang yang mengucapkannya.
Pilihan kata penghubungnya juga menerangkan cakupan itu. Arab membedakan penghubung untuk yang berakal dan yang tidak, dan yang dipakai di sini (مَا, maa), yang lazimnya menunjuk selain manusia. Namun pemakaiannya di ayat ini tidak menyempit, sebab yang disandarkan kepadanya adalah perbuatan mencipta, dan segala yang diciptakan tercakup di dalamnya tanpa dipilah lebih dulu. Kalau yang dipakai penghubung untuk yang berakal, permohonannya akan mengecil menjadi khusus tentang makhluk yang berkehendak, padahal tiga permohonan sesudahnya justru menyebut hal-hal yang sebagian tidak berkehendak sama sekali, seperti gelap yang turun di 113:3.
Kata depan (مِنْ, min) di kepala ayat ini menandai sumber, yaitu dari mana bahaya itu datang, dan ia diulang di ketiga permohonan berikutnya. Pengulangan itu membuat keempatnya sejajar dan berdiri sendiri-sendiri, bukan bertingkat. Tidak ada satu pun di antaranya yang menjadi bagian dari yang lain secara tata bahasa, sekalipun cakupan yang pertama sudah memuat ketiganya. Jadi yang tiga disebut bukan karena belum tercakup, melainkan supaya tidak terlewat.
Kata kerja (خَلَقَ, khalaqa) berbentuk lampau, jadi yang dicakup adalah segala yang sudah selesai diciptakan. Tidak ada satu pun makhluk yang berada di luar kalimat ini. Perlu diperhatikan bahwa yang dimintai perlindungan dan Yang menciptakan adalah pihak yang sama, dan itu bukan susunan yang janggal melainkan justru pokoknya: kejahatan yang mungkin datang dari ciptaan tidak berada di luar kuasa Yang menciptakannya. Berlindung kepada pihak lain berarti berlindung kepada sesuatu yang juga termasuk di dalam "apa yang Dia ciptakan".
Tafsiran
Ayat ini mengajukan permohonan yang paling luas cakupannya dibanding tiga permohonan berikutnya: bukan kejahatan dari satu sumber tertentu, melainkan dari segala yang tercipta.
Urutan dari luas ke sempit itu disengaja dan bisa dibalik. Kalau yang khusus disebut lebih dulu, pembaca akan menyusun daftar ancaman menurut yang paling ditakutinya, dan yang tidak masuk daftar akan terasa berada di luar perlindungan. Dengan urutan yang dipakai, seluruhnya sudah tercakup sejak permohonan pertama, lalu tiga berikutnya menyebut yang khusus bukan untuk menambah melainkan untuk menyebut secara terang apa yang mudah terlewat.
Ayat ini juga menempatkan seluruh surah pada kedudukan yang tepat. Yang dimintai perlindungan adalah Yang menciptakan apa yang ditakuti, dan itu berarti tidak ada dua kekuatan yang sedang bertanding di sini. Bandingkan dengan 112:4 yang menutup kemungkinan adanya yang setara dengan-Nya: kalau tidak ada yang setara, maka tidak ada sumber kejahatan yang berdiri sejajar dengan Yang dimintai perlindungan. Permohonan di surah ini bukan permintaan bantuan dalam sebuah pertarungan, melainkan permintaan naungan dari pihak yang menguasai kedua sisi. Perbedaan itu terasa pada nada seluruh surah: tidak ada satu pun kalimat yang menantang, mengancam, atau meminta kekuatan, dan yang diminta dari awal sampai akhir hanya satu, yaitu tempat berteduh.
Renungan dan Hikmah
- Perlindungan diminta kepada Allah dari kejahatan 'apa yang Dia ciptakan'. Yang dimintai perlindungan dan Yang menciptakan sumber bahayanya adalah pihak yang sama. Susunan itu bukan kejanggalan melainkan pokoknya: kejahatan yang mungkin datang dari ciptaan tidak pernah berada di luar kuasa Yang menciptakannya. Berlindung kepada pihak selain Dia berarti berlindung kepada sesuatu yang juga termasuk di dalam apa yang Dia ciptakan. Tempat berteduh yang ikut basah bukan tempat berteduh.
- Dari empat permohonan di surah ini, Allah meletakkan yang paling luas lebih dulu, baru tiga yang lebih khusus. Bukan sebaliknya. Kalau yang khusus disebut lebih dahulu, orang akan menyusun daftar ancaman menurut apa yang paling ditakutinya, dan apa pun yang tidak masuk daftar itu akan terasa berada di luar perlindungan. Dengan urutan yang ada, semuanya sudah tercakup sejak kalimat pertama, dan tiga permohonan sesudahnya disebut bukan karena belum termasuk melainkan supaya tidak terlewat dari perhatian.
- Kalimatnya berbunyi 'kejahatan apa yang Dia ciptakan', bukan kejahatan yang Dia ciptakan. Yang dinisbatkan kepada Allah adalah penciptaannya, bukan kejahatannya. Perbedaan letak satu kata itu memisahkan dua bacaan yang sangat jauh berbeda, dan terjemahan yang menggesernya sedikit saja akan memindahkan tanggung jawab dari ciptaan kepada Yang menciptakan. Satu kata penghubung memikul seluruh perbedaan itu, dan kelalaian menerjemahkannya tidak akan terlihat oleh pembaca yang tidak memeriksa Arabnya.
- Tidak disebut kejahatan dari siapa, dari jenis apa, atau kapan. Ketiadaan batas itu membuat permohonan ini mencakup juga yang belum dikenal oleh orang yang mengucapkannya. Daftar bahaya yang disusun sendiri selalu terbatas pada yang pernah dialami atau didengar, sedangkan kalimat ini tidak menyediakan tempat bagi pengecualian. Apa yang paling mungkin melukai seseorang, yang sudah ia waspadai atau yang belum terpikirkan olehnya?
- Kata kerjanya berbentuk lampau, jadi yang dicakup adalah segala yang sudah selesai diciptakan Allah. Tidak ada satu pun makhluk yang berada di luar kalimat ini, termasuk yang sedang duduk mengucapkannya. Orang yang berlindung dari kejahatan seluruh ciptaan sedang berlindung juga dari kemungkinan yang ada pada dirinya sendiri, sebab ia pun bagian dari apa yang sudah diciptakan. Permohonan yang mencakup segalanya tidak menyediakan tempat bagi orangnya untuk berdiri di luar.
- Kalau tidak ada yang setara dengan Allah, maka tidak ada sumber kejahatan yang berdiri sejajar dengan-Nya. Permohonan di surah ini karena itu bukan permintaan bantuan dalam sebuah pertarungan antara dua pihak yang seimbang, melainkan permintaan naungan kepada Yang menguasai kedua sisinya. Ketakutan berubah bentuk ketika yang ditakuti diketahui tidak punya kedudukan yang setara dengan tempat berlindungnya.