وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ
Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَwa-min syarri ghaasiqin idzaa waqabadan dari kejahatan malam apabila telah gelap
Terjemahan per kata (5 kata)
- وَمِنْwa-mindan dari
- شَرِّsyarrikejahatan
- غَاسِقٍghaasiqinmalam gelap
- إِذَاidzaaapabila
- وَقَبَwaqabagelap gulita
Inti bacaan
Perlindungan spesifik dari kegelapan yang menyelinap: 'dan dari kejahatan malam apabila telah gelap', pengakuan bahwa kegelapan pekat sering menjadi waktu ketika bahaya lebih mudah bersembunyi dan menyerang, kewaspadaan terhadap momen kerentanan tersebut.
Penjelasan pilihan kata
Permohonan kedua ini mempersempit dari 113:2: "malam apabila telah gelap" (غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ, ghaasiqin idzaa waqaba). Yang dimintakan perlindungan bukan malam sebagai waktu, melainkan keadaan gelap yang menyelimuti.
Kata pertamanya (غَاسِقٍ, ghaasiqin) berbentuk pelaku dan tak bertakrif. Akarnya berarti gelap yang pekat. Ia dipakai di 4 ayat: di sini, lalu 17:78 yang menyebut gelapnya malam sebagai batas waktu salat, 38:57, dan 78:25. Jadi kata ini memang menyebut kegelapan, tetapi bukan kegelapan sebagai penanda jam melainkan sebagai sesuatu yang turun dan menutupi.
Kata kerja keterangannya, (وَقَبَ, waqaba), berdiri sendirian di seluruh Al-Qur'an: akarnya berarti masuk menyelinap. Ia cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Seperti dua akar hapax di surah 108 dan dua lagi di surah 112, kata yang memikul gambaran pokok surah ini justru tidak dipinjamkan kepada ayat mana pun. Yang digambarkannya bukan keadaan diam melainkan proses: gelap yang masuk dan menetap, bukan gelap yang sekadar ada.
Perbandingan dengan 17:78 menerangkan sesuatu yang mudah terlewat. Di sana bentuk (غَسَقِ, ghasaqi) dipakai untuk menandai batas waktu salat, yaitu sampai gelapnya malam. Kata yang di ayat ini menjadi keadaan yang dimintakan perlindungan, di sana justru menjadi penanda kewajiban. Dua kedudukan yang berbeda untuk gelap yang sama, dan yang membedakan bukan gelapnya melainkan apa yang dikerjakan seseorang ketika ia turun. Dua ayat sisanya, 38:57 dan 78:25, memakai bentuk (وَغَسَّاقٌ, wa-ghassaaqun) untuk minuman penghuni api, jadi akar ini memang punya lebih dari satu pemakaian dan tidak seluruhnya tentang malam.
Bentuk kata pertamanya tak bertakrif, dan ketiadaan kata sandang itu bekerja. Yang dimintakan perlindungan bukan satu malam tertentu dan bukan kegelapan yang sudah dikenal, melainkan kegelapan mana pun yang turun. Bandingkan dengan (النَّفَّاثَاتِ, n-naffaatsaati) di 113:4 yang justru bertakrif. Surah ini tidak menyeragamkan: sebagian ancamannya disebut dengan kata sandang dan sebagian tidak, dan pembedaan itu mengikuti apakah yang dimaksud sesuatu yang bisa ditunjuk atau tidak.
Keterangan waktunya (إِذَا, idzaa) menyatakan sesuatu yang pasti terjadi, bukan pengandaian. Karena itu ayat ini tidak menyatakan bahwa malam berbahaya, melainkan menunjuk saat tertentu di dalam malam itu, yaitu ketika gelapnya sudah turun penuh. Pembatasan itu penting bagi terjemahannya: padanan "apabila telah gelap" menahan syaratnya, sedangkan menerjemahkannya sebagai "dari kejahatan malam" saja akan menghapus keterangan yang justru menjadi isi ayatnya. Yang dimintakan perlindungan bukan waktunya, melainkan apa yang bekerja dengan memanfaatkan tertutupnya penglihatan.
Tafsiran
Ayat ini menunjuk saat tertentu di dalam malam, bukan malam sebagai penanda waktu. Yang digambarkan proses gelap yang menyelimuti, bukan keadaan yang diam, dan yang dimaksud bukan jam melainkan saat ketika penglihatan tertutup.
Letaknya sesudah permohonan yang paling luas membuat ayat ini terbaca sebagai penunjukan, bukan penambahan. Segala kejahatan sudah tercakup di 113:2, dan yang dikerjakan ayat ini adalah menyebut satu keadaan yang paling mudah dilupakan orang justru karena ia berulang setiap hari. Bahaya yang datang bersama gelap tidak terasa sebagai bahaya, sebab gelap datang dengan sendirinya dan tidak dianggap peristiwa.
Pilihan sebutan di 113:1 juga baru terasa lengkap di sini. Yang dimintai perlindungan diperkenalkan sebagai Tuhan fajar, yaitu Yang membelah kegelapan, dan permohonan kedua ini justru tentang kegelapan yang turun. Keduanya berhadapan langsung dalam surah yang sama, dan jarak keduanya hanya dua ayat. Bandingkan dengan 17:78 yang memakai kata yang sama untuk menandai batas waktu salat: di sana gelap menjadi penanda kewajiban, di sini ia menjadi keadaan yang dimintakan perlindungan. Kata yang sama, dua kedudukan yang berbeda, dan yang membedakan adalah apa yang dikerjakan seseorang ketika gelap itu turun. Gelap yang sama bisa menjadi waktu berdiri salat atau waktu bahaya bekerja.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyuruh berlindung dari kejahatan malam apabila telah gelap. Yang disebut waktunya, bukan pelakunya. Sebagian bahaya memang tidak punya wajah yang bisa ditunjuk, dan yang bisa disebut hanya keadaan yang memungkinkannya bekerja. Menyebut keadaan alih-alih pelaku juga berarti perlindungan ini tidak bergantung pada berhasil tidaknya seseorang mengenali siapa yang hendak mencelakainya. Yang tidak perlu dikenali juga tidak perlu dicurigai satu per satu.
- Keterangannya ditambahkan: apabila telah gelap. Bukan malam secara umum. Yang dimintakan perlindungan bukan waktunya, melainkan apa yang bekerja dengan memanfaatkan tertutupnya penglihatan. Kata kerjanya menggambarkan proses, yaitu gelap yang masuk dan menetap, bukan gelap yang sekadar ada. Perbedaan itu memindahkan perhatian dari jam ke keadaan, dan keadaan itu bisa datang juga di luar malam. Ada gelap yang turun pada siang hari di dalam urusan seseorang, dan ia bekerja dengan cara yang sama.
- Perlindungan dari yang tersembunyi dimintakan kepada Allah, yang bagi-Nya gelap dan terang sama saja. Pilihan tempat berlindung itu sejalan dengan bentuk ancamannya. Manusia kehilangan penglihatan ketika gelap turun, dan justru pada saat itu ia diminta berpaling kepada Yang penglihatan-Nya tidak berkurang sedikit pun. Yang tidak terlihat oleh yang berlindung tetap terlihat oleh tempat ia berlindung. Perlindungan semacam itu tidak menuntut orangnya melihat lebih dulu apa yang mengancamnya.
- Kata kerja yang menggambarkan turunnya gelap di ayat ini berdiri sendirian di seluruh Al-Qur'an, sebab akarnya cuma dipakai di sini. Ini pola yang berulang di surah-surah pendek: kata yang memikul gambaran pokoknya justru tidak dipinjamkan kepada ayat mana pun. Yang disebut sekali tidak bisa dipahami dengan membandingkannya ke tempat lain, dan pembacanya tinggal berhadapan dengan gambarannya sendiri. Sudah tiga surah pendek yang menyimpan dua akar semacam itu, dan ketiganya memakainya untuk memikul gambaran pokoknya.
- Yang dimintai perlindungan diperkenalkan di 113:1 sebagai Tuhan fajar, yaitu Yang membelah kegelapan, dan permohonan kedua ini justru tentang kegelapan yang turun. Keduanya berhadapan langsung di dalam surah yang sama, berjarak dua ayat. Susunan itu membuat permohonannya tidak menggantung: yang ditakuti dan Yang sanggup membelahnya sudah dipertemukan sebelum ancamannya selesai disebutkan. Yang menutup dan Yang membuka disebut dalam satu surah yang sama, berurutan.
- Gelap datang setiap hari dengan sendirinya, dan justru itu yang membuatnya mudah dilupakan sebagai keadaan yang perlu diwaspadai. Sesuatu yang berulang berhenti terasa sebagai peristiwa. Ayat ini menyebutnya secara terang bukan untuk menakuti, melainkan supaya yang berulang tidak lolos dari perhatian. Berapa banyak hal yang tidak lagi diperhatikan seseorang semata-mata karena ia terjadi setiap hari?