وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ
Dan dari kejahatan peniup-peniup pada buhul-buhul,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِwa-min syarri n-naffaatsaati fii l-'uqadidan dari kejahatan peniup-peniup pada buhul-buhul
Terjemahan per kata (5 kata)
- وَمِنْwa-mindan dari
- شَرِّsyarrikejahatan
- النَّفَّاثَاتِn-naffaatsaatipara peniup
- فِيfiipada
- الْعُقَدِl-'uqadibuhul
Inti bacaan
Perlindungan dari praktik jahat yang tersembunyi: 'dan dari kejahatan peniup-peniup pada buhul-buhul', rujukan pada praktik merusak yang dilakukan secara terselubung dan manipulatif, permohonan perlindungan dari upaya jahat yang bekerja secara halus dan tidak terlihat langsung.
Penjelasan pilihan kata
Permohonan ketiga ini menyebut "peniup-peniup pada buhul-buhul" (النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ, n-naffaatsaati fii l-'uqadi), yaitu perbuatan yang dikerjakan diam-diam untuk mencelakai orang lain.
Kata pertamanya berbentuk jamak perempuan dan bertakrif, dan bentuknya menyatakan perbuatan yang dilakukan berulang-ulang. Akarnya berarti meniup sambil membisikkan. Ia berdiri sendirian di seluruh Al-Qur'an: ia cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi surah ini menyimpan dua akar semacam itu, sebab (وَقَبَ, waqaba) di 113:3 juga demikian. Dua kata yang memikul dua dari empat gambaran ancamannya sama-sama tidak muncul lagi di mana pun.
Kata keduanya (الْعُقَدِ, l-'uqadi) berbentuk jamak dan bertakrif, dari akar yang berarti mengikat simpul. Akar itu dipakai di 7 ayat. Ia bermakna ikatan atau simpul, dan dari akar yang sama lahir kata untuk perjanjian, yaitu ikatan yang mengikat dua pihak. Padanan "buhul" dipertahankan karena yang digambarkan memang simpul yang diikat, bukan perjanjian. Namun pemakaian akar itu di enam ayat lainnya justru seluruhnya tentang ikatan antarorang: ikatan nikah di 2:235 dan 2:237, para pewaris yang ditetapkan di 4:33, janji-janji yang harus dipenuhi di 5:1, sumpah yang mengikat di 5:89, dan kekakuan pada lidah yang dimintakan Musa agar dilepaskan di 20:27. Jadi dari tujuh ayat yang memakai akar ini, hanya di sini dan di 20:27 ia menunjuk simpul yang bisa dipegang, sedangkan lima sisanya menunjuk ikatan yang mengikat manusia satu sama lain.
Bentuk jamak perempuan pada (النَّفَّاثَاتِ, n-naffaatsaati) perlu dicatat tanpa ditambah-tambahi. Arab memakai bentuk itu juga untuk kelompok yang jenisnya campur atau tak ditentukan, dan ayat ini tidak menyebutkan siapa mereka. Menerjemahkannya menjadi sebutan yang mengunci jenis kelamin akan menambahkan keterangan yang tidak ada di teksnya. Padanan "peniup-peniup" menahan bentuk jamaknya dan bentuk perbuatannya yang berulang, tanpa memutuskan siapa yang mengerjakannya.
Yang perlu diperhatikan pada terjemahannya adalah apa yang tidak ada di dalamnya. Ayat ini tidak menyebut siapa pelakunya, tidak menyebut kaum atau golongan, dan tidak menerangkan cara kerjanya. Yang disebut hanya perbuatannya: meniup pada simpul. Menambahkan keterangan tentang siapa mereka akan menyisipkan sesuatu yang tidak tertulis. Gambaran yang tersisa justru menerangkan sesuatu: perbuatan itu kecil, hampir tak bersuara, dan tidak memerlukan kekuatan sama sekali. Yang dimintakan perlindungan bukan kekuatan besar yang menyerang terang-terangan, melainkan perbuatan sekecil tiupan yang dikerjakan pada sesuatu yang sudah diikat.
Tafsiran
Setelah kejahatan ciptaan secara umum dan kejahatan malam, ayat ini beralih ke kejahatan yang sengaja dilakukan lewat perbuatan tersembunyi. Ada perpindahan yang jelas di sini: dua permohonan sebelumnya menyebut keadaan, sedangkan yang ini menyebut perbuatan yang punya pelaku dan punya maksud.
Perpindahan itu menerangkan susunan seluruh surah. Urutannya bergerak dari yang tidak berkehendak menuju yang berkehendak: segala ciptaan, lalu gelap yang turun, lalu perbuatan yang disengaja, lalu kedengkian di 113:5 yang bahkan tidak memerlukan perbuatan. Setiap langkah mendekat kepada sesuatu yang lebih pribadi dan lebih sulit dijaga, sebab semakin ke belakang semakin sedikit yang bisa dilihat orang yang diincar.
Yang juga patut diperhatikan adalah kecilnya perbuatan yang disebut. Tiupan pada simpul tidak memerlukan kekuatan, tidak menimbulkan bunyi, dan tidak meninggalkan bekas yang bisa ditunjukkan. Bandingkan dengan 113:2 yang mencakup seluruh ciptaan tanpa kecuali: surah ini tidak menyusun ancamannya menurut besarnya, melainkan menurut seberapa tersembunyi ia bekerja. Yang paling kecil justru diletakkan mendekati penutup, dan penutupnya nanti adalah sesuatu yang bahkan tidak berbentuk perbuatan sama sekali.
Renungan dan Hikmah
- Yang dimintakan perlindungan di sini kejahatan yang bekerja tersembunyi, dan Allah menyebutnya sesudah kejahatan ciptaan secara umum dan kejahatan malam. Urutannya bergerak dari yang tidak berkehendak menuju yang berkehendak. Setiap langkah mendekat kepada sesuatu yang lebih pribadi dan lebih sulit dijaga, sebab semakin ke belakang semakin sedikit yang bisa dilihat oleh orang yang diincar. Allah menyusunnya begitu, bukan menurut besarnya bahaya melainkan menurut seberapa sulit ia dikenali.
- Gambaran yang dipakai simpul yang diikat, lalu ditiup. Perbuatan yang kecil dan hampir tak bersuara. Yang merusak dalam surah ini tidak disusun menurut besarnya kekuatan, melainkan menurut seberapa tersembunyi ia bekerja. Tiupan tidak memerlukan tenaga, tidak menimbulkan bunyi, dan tidak meninggalkan bekas yang bisa ditunjukkan kepada siapa pun sebagai bukti. Yang tak berbekas tak bisa dilaporkan, dan yang tak bisa dilaporkan hanya bisa diadukan kepada Allah.
- Yang diminta dalam surah ini perlindungan, bukan kemampuan membalas. Tidak ada permintaan untuk mengalahkan. Orang yang mengucapkannya tidak sedang menyiapkan diri untuk melawan siapa pun, dan itu berarti ia juga tidak perlu tahu siapa yang harus dilawan. Perlindungan yang tidak menuntut pengenalan atas musuh membebaskan orangnya dari pekerjaan mencurigai sekelilingnya. Berapa banyak waktu yang habis untuk menebak siapa yang sebenarnya tidak menyukai kita?
- Ayat ini tidak menyebut siapa pelakunya, tidak menyebut golongan, dan tidak menerangkan cara kerjanya. Yang disebut Allah hanya perbuatannya. Ketiadaan nama itu menutup satu pintu yang mudah sekali dibuka, yaitu menuduh orang tertentu dan menjadikan surah ini alat kecurigaan. Yang tersisa hanya gambaran perbuatan, dan gambaran itu tidak bisa ditempelkan kepada siapa pun tanpa bukti. Surah yang tidak menyebut nama tidak bisa dipakai untuk menuduh nama.
- Yang ditiup adalah sesuatu yang sudah diikat, bukan sesuatu yang masih terurai. Akar kata yang dipakai untuk simpul juga melahirkan kata untuk perjanjian, yaitu ikatan yang mengikat dua pihak. Perbuatan yang digambarkan bekerja pada sesuatu yang sudah tersambung dan berusaha melonggarkannya. Di enam ayat lain akar itu justru menyebut ikatan antarorang: nikah, janji, sumpah, dan pewaris. Apa yang paling mudah diganggu dari luar, yang belum terikat atau yang sudah?
- Perbuatan sekecil tiupan diletakkan pada permohonan ketiga dari empat, mendekati penutup surah. Kalau ancaman disusun menurut besarnya, letaknya pasti di awal. Susunan yang dipakai menunjukkan ukuran yang lain sedang dipakai, yaitu seberapa sulit sesuatu terlihat. Dan penutupnya nanti bahkan bukan perbuatan sama sekali, melainkan sesuatu yang cukup tersimpan di dalam dada. Ukuran yang dipakai Allah di sini bukan seberapa besar, melainkan seberapa dekat dan seberapa tak terlihat.