وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَwa-min syarri haasidin idzaa hasadadan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. وَمِنْwa-mindan dari
  2. شَرِّsyarrikejahatan
  3. حَاسِدٍhaasidinpendengki
  4. إِذَاidzaaapabila
  5. حَسَدَhasadaia dengki

Inti bacaan

Penutup surah menyebut iri hati sebagai sumber persoalan yang sungguhan. Konkretnya: ia bisa hidup di dalam diri orang yang paling ramah sekalipun, tanpa tanda lahiriah apa pun, sehingga tidak tersedia cara memastikannya. Praktis: kalimat ini tidak menyebut nama, golongan, atau ciri, sehingga ia tak bisa dipakai menuduh siapa pun. Yang diminta cuma satu, dan permintaan itu singkat. Tenaga yang biasanya habis untuk mereka-reka siapa yang tidak menyukai kita dialihkan menjadi satu kalimat pendek, lalu urusannya selesai di situ.

Penjelasan pilihan kata

Kutipan yang dibuka sejak 113:1 ditutup di akhir ayat ini. Permohonan keempat dan terakhir ini menyebut "orang yang dengki" (حَاسِدٍ, haasidin) dengan keterangan waktu "apabila dia dengki" (إِذَا حَسَدَ, idzaa hasada).

Bentuk (حَاسِدٍ, haasidin) adalah bentuk pelaku dan tak bertakrif, jadi yang disebut orangnya, bukan sifatnya, dan tidak ditentukan orang yang mana. Akarnya berarti dengki. Ia dipakai di 4 ayat: di sini, lalu 2:109 tentang kedengkian yang membuat sebagian orang menginginkan orang beriman kembali kufur, 4:54 tentang kedengkian terhadap karunia yang Allah berikan kepada orang lain, dan 48:15 tentang orang yang tertinggal lalu ingin ikut mengambil bagian. Di ketiga tempat itu kedengkian selalu berhubungan dengan sesuatu yang sudah diberikan kepada pihak lain.

Keterangan waktunya adalah bagian yang paling menentukan. Ayat ini tidak memintakan perlindungan dari orang yang dengki secara umum, melainkan dari kejahatannya pada saat kedengkian itu bekerja. Kata kerja (حَسَدَ, hasada) berbentuk lampau setelah kata keterangan waktu, susunan yang sama dengan (وَقَبَ, waqaba) di 113:3. Kedua permohonan itu sama-sama diberi syarat waktu, sedangkan dua yang pertama tidak. Jadi surah ini membedakan dengan cermat mana yang berbahaya sepanjang waktu dan mana yang berbahaya pada saat tertentu saja.

Kesejajaran antara ayat ini dan 113:3 hampir sempurna kalau keduanya disandingkan. Di sana (غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ, ghaasiqin idzaa waqaba), di sini (حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ, haasidin idzaa hasada). Keduanya dibuka bentuk pelaku yang tak bertakrif, keduanya diikuti keterangan waktu yang sama, dan keduanya ditutup kata kerja berbentuk lampau. Bedanya satu hal saja: di 113:3 kata kerjanya berakar lain dari kata pelakunya, sedangkan di sini keduanya berasal dari akar yang sama, sehingga terbaca berulang. Pengulangan itulah yang menjadi isinya, sebab ia memisahkan orangnya dari perbuatannya.

Ketiadaan kata sandang pada (حَاسِدٍ, haasidin) juga perlu diperhatikan. Yang disebut bukan pendengki tertentu yang sudah dikenal, melainkan siapa pun yang berada dalam keadaan itu. Kalau ia bertakrif, permohonannya akan menunjuk orang yang bisa ditebak namanya, dan surah ini akan berubah menjadi alat menuduh. Ketiadaan kata sandang menutup pintu itu, sama seperti 113:4 yang menyebut perbuatan tanpa menyebut pelakunya.

Padanan "orang yang dengki apabila dia dengki" terasa berulang dalam bahasa Indonesia, dan pengulangan itu memang ada di Arabnya. Ia dipertahankan karena membawa isi: yang pertama menyebut orangnya, yang kedua menyebut saat perbuatannya. Menyederhanakannya menjadi "orang yang dengki" saja akan menghapus pembatasan waktu itu, dan dengan begitu memindahkan permohonan dari perbuatan kepada orangnya.

Tafsiran

Ayat penutup ini menyimpulkan pola keempat permohonan dalam surah: dari kejahatan yang paling umum, yaitu segala ciptaan, sampai kepada yang paling tersembunyi, yaitu sesuatu yang cukup tersimpan di dalam dada tanpa perlu menjadi perbuatan.

Perhatikan apa yang terjadi pada urutan itu. Permohonan pertama mencakup seluruh alam, yang kedua menyebut keadaan yang datang setiap hari, yang ketiga menyebut perbuatan kecil yang disengaja, dan yang keempat menyebut sesuatu yang bahkan tidak memerlukan perbuatan sama sekali. Ancamannya mengecil terus dari sisi ukuran, tetapi mendekat terus dari sisi jarak. Yang terakhir adalah yang paling dekat, sebab kedengkian bisa datang dari orang yang berada di sekeliling seseorang setiap hari.

Bahwa surah ini berakhir di situ juga menerangkan sesuatu tentang bentuk permohonannya. Yang tidak berbentuk perbuatan tidak bisa dihindari dengan berhati-hati, tidak bisa dilihat, dan tidak bisa dibuktikan. Terhadap yang semacam itu, satu-satunya yang tersisa memang berlindung. Bandingkan dengan 113:1 yang menyebut Tuhan fajar: yang tersembunyi di dalam dada pun termasuk yang bisa dibelah oleh Yang membelah kegelapan, dan surah ini menutup dengan meninggalkan pembacanya pada Yang diperkenalkan di kalimat pertamanya.

Renungan dan Hikmah

  • Surah ini menyusun empat sumber kejahatan secara berjenjang, dari yang umum (segala ciptaan, 113:2) menuju yang spesifik (kedengkian, 113:5). Ancamannya mengecil terus dari sisi ukuran, tetapi mendekat terus dari sisi jarak. Yang terakhir adalah yang paling dekat, sebab kedengkian bisa datang dari orang yang berada di sekeliling seseorang setiap hari, dan tidak memerlukan perbuatan apa pun untuk ada. Allah menyusunnya menurut jarak, bukan menurut besarnya, dan yang paling dekat diletakkan paling akhir.
  • Permohonan terakhir menyebut sesuatu yang bahkan tidak perlu menjadi perbuatan untuk membahayakan. Yang tidak berbentuk perbuatan tidak bisa dihindari dengan berhati-hati, tidak bisa dilihat, dan tidak bisa dibuktikan kepada siapa pun. Terhadap yang semacam itu, satu-satunya yang tersisa memang berlindung kepada Allah, sebab tidak ada tindakan pencegahan yang bisa dikerjakan terhadap sesuatu yang tak pernah muncul ke permukaan. Yang tak berbentuk tak bisa dihindari, dan yang tak bisa dihindari hanya bisa dinaungi.
  • Ayat ini tidak memintakan perlindungan dari orang yang dengki secara umum, melainkan dari kejahatannya pada saat kedengkian itu bekerja. Keterangan waktunya membatasi dengan cermat. Yang disebut Allah perbuatannya, bukan orangnya, sehingga surah ini tidak berubah menjadi alasan mencurigai orang tertentu sepanjang waktu. Orang yang sama tidak sedang mendengki setiap saat, dan surah ini menjaga pembedaan itu dengan satu keterangan waktu yang mudah sekali terhapus dalam terjemahan yang menyederhanakan.
  • Dua dari empat permohonan diberi keterangan waktu, yaitu gelap apabila turun dan pendengki apabila mendengki, sedangkan dua yang pertama tidak. Surah ini membedakan dengan cermat mana yang berbahaya sepanjang waktu dan mana yang berbahaya pada saat tertentu saja. Pembedaan itu menjaga permohonannya tetap jujur, sebab tidak semua yang ditakuti berbahaya terus-menerus. Ketakutan yang tidak dibatasi waktu akan memakan seluruh hari orang yang menanggungnya.
  • Al-Qur'an memakai akar kata ini di empat ayat, dan di tiga tempat lainnya kedengkian selalu berhubungan dengan sesuatu yang sudah diberikan kepada pihak lain, entah keimanan, karunia, atau bagian yang tertinggal. Yang mendengki sebenarnya sedang berselisih dengan pembagian yang bukan urusannya, dan yang membagi adalah Allah, bukan orang yang menerima bagian itu. Apa yang sedang ditolak seseorang ketika ia tidak rela melihat orang lain menerima sesuatu?
  • Surah ini berakhir pada sesuatu yang tersembunyi di dalam dada, dan yang diperkenalkan di kalimat pertamanya adalah Tuhan fajar, Yang membelah apa yang tertutup. Yang paling tersembunyi pun termasuk yang bisa dibelah oleh-Nya. Penutup itu meninggalkan pembacanya bukan pada daftar ketakutan, melainkan pada sebutan yang sudah disiapkan sejak kalimat pertama untuk menjawab seluruh daftar itu.