Ayat 114:1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan manusia,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- قُلْqulkatakanlah
- أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِa'uudzu bi-rabbi n-naasiaku berlindung kepada Tuhan manusia
Terjemahan per kata (4 kata)
- قُلْqulkatakanlah
- أَعُوذُa'uudzuaku berlindung
- بِرَبِّbi-rabbikepada Tuhan
- النَّاسِn-naasimanusia
Inti bacaan
Pembukaan An-Nas dengan permohonan perlindungan kepada Tuhan manusia: 'aku berlindung kepada Tuhan manusia', awal rangkaian tiga sifat yang menegaskan hubungan khusus antara Allah dan manusia sebagai landasan permohonan perlindungan.
Penjelasan pilihan kata
"Kepada Tuhan manusia" (بِرَبِّ النَّاسِ, bi-rabbi n-naasi) adalah sebutan pertama dari tiga sebutan berturutan yang menerangkan Allah dalam kutipan yang dibuka di ayat ini (قُلْ, qul) dan berlanjut sampai akhir surah (114:6): sebutan ini di sini, "Raja manusia" di 114:2, dan "Sembahan manusia" di 114:3.
Perbandingan dengan surah sebelumnya menerangkan pilihan itu. Di 113:1 tertulis (بِرَبِّ الْفَلَقِ, bi-rabbi l-falaqi), Tuhan fajar, memakai kata kerja dan susunan yang sama persis. Yang berbeda hanya apa yang disandarkan. Di sana sandarannya peristiwa di luar diri manusia, di sini sandarannya manusia itu sendiri, dan sandaran itu diulang lagi dua kali di dua ayat berikutnya. Perbedaan itu sejalan dengan isi masing-masing: surah sebelumnya memohon perlindungan dari yang datang dari luar, surah ini dari yang bekerja di dalam dada.
Kata (النَّاسِ, n-naasi) yang menutup ayat ini muncul 5 kali di dalam surah yang panjangnya cuma 6 ayat, yaitu di 114:1, 114:2, 114:3, 114:5, dan 114:6. Tidak ada kata lain yang diulang sesering itu, dan pengulangannya tidak menambah keterangan apa pun. Yang dikerjakannya lain: ia menjaga supaya pembaca tidak pernah lepas dari kesadaran bahwa yang sedang dibicarakan adalah dirinya, baik ketika menyebut Yang dimintai maupun ketika menyebut yang mengancam.
Tiga surah terakhir Al-Qur'an sama-sama dibuka dengan (قُلْ, qul), yaitu 112:1, 113:1, dan ayat ini, dan di ketiganya perintah itu membuka kutipan yang tidak ditutup sampai kata terakhir surahnya. Jadi tiga surah penutup kitab ini seluruhnya berupa kalimat yang diperintahkan untuk diucapkan, bukan keterangan yang disampaikan. Bedanya pada isi yang diucapkan: yang pertama pernyataan tentang siapa Allah, dua berikutnya permohonan perlindungan. Susunan itu berarti pengetahuan disebut lebih dulu, lalu permintaan, dan bukan sebaliknya.
Sebutan (رَبِّ, rabbi) sendiri menyatakan hubungan pemeliharaan, bukan sekadar nama. Ia dipakai lebih dulu di antara ketiganya, dan urutan itu bergerak dari yang paling luas ke yang paling pribadi: memelihara, lalu memerintah di 114:2, lalu disembah di 114:3. Padanan "Tuhan" dipertahankan karena ia sudah menampung sisi pemeliharaan itu dalam bahasa Indonesia, sedangkan "Pemelihara" akan terdengar seperti sebutan jabatan dan memutus hubungannya dengan pemakaian kata yang sama di seluruh korpus ini. Ketiga sebutan itu juga diucapkan berurutan tanpa satu pun kata sambung di antaranya, sehingga terbaca sebagai satu pengenalan yang mendalam bertahap, bukan tiga hal terpisah.
Tafsiran
Ayat ini membuka rangkaian tiga sebutan yang seluruhnya memakai kata "manusia" sebagai penutup, meski masing-masing menerangkan peran Allah yang berbeda. Peran pertama, sebagai Tuhan yang memelihara, ditempatkan lebih dulu sebelum dua peran berikutnya.
Yang paling patut diperhatikan adalah apa yang belum disebut. Sampai akhir 114:3, surah ini belum menyebutkan satu pun ancaman. Tiga ayat penuh dipakai hanya untuk memperkenalkan kepada siapa orang berlindung, dan baru di 114:4 disebut dari apa. Susunan itu sama dengan 113:1 yang juga memperkenalkan lebih dulu, tetapi di sini penundaannya tiga kali lebih panjang. Semakin dekat ancamannya, semakin panjang pengenalan tempat berlindungnya.
Letaknya sebagai pembuka surah terakhir Al-Qur'an juga menerangkan sesuatu. Kitab ini ditutup bukan dengan ringkasan, bukan dengan janji, dan bukan dengan peringatan, melainkan dengan sebuah kalimat yang diajarkan untuk diucapkan seorang diri. Orang yang selesai membaca seluruhnya diberi satu kalimat pendek untuk dibawa pulang, dan kalimat itu bukan pernyataan tentang apa yang ia ketahui melainkan permintaan atas apa yang tidak sanggup ia jaga sendiri. Bandingkan dengan 113:1 yang juga dibuka dengan perintah dan sebutan yang sama: dua surah terakhir kitab ini berdampingan sebagai sepasang permohonan, dan keduanya diletakkan sesudah 112:1 yang lebih dulu menetapkan siapa Yang dimintai.
Renungan dan Hikmah
- Sebutan pertama yang dipakai Allah Tuhan manusia, bukan Tuhan langit atau Tuhan segala sesuatu. Yang ditonjolkan hubungan dengan yang meminta. Perlindungan yang diminta dari pihak yang sudah punya hubungan terasa berbeda dari perlindungan yang diminta dari yang jauh. Surah sebelumnya memakai susunan yang sama persis tetapi menyandarkannya kepada fajar, jadi perbedaan satu kata itu memindahkan seluruh perhatian dari peristiwa di luar diri ke diri orangnya sendiri.
- Tiga sebutan berikutnya semuanya berakhir dengan kata manusia. Pengulangan itu tidak menambah keterangan. Yang ditegaskan berulang justru kepada siapa surah pendek ini berbicara, dan siapa yang sedang dalam bahaya. Kata itu muncul lima kali di dalam surah yang cuma enam ayat, dan tidak ada kata lain yang diulang sesering itu, sehingga pembacanya tak pernah lepas dari kesadaran bahwa yang sedang dibicarakan adalah dirinya.
- Surah ini dibuka dengan perintah katakanlah, jadi doanya diajarkan, bukan disusun sendiri. Allah menyediakan kalimatnya. Orang yang sedang gentar jarang sanggup menyusun kata; yang diberikan justru kalimat yang sudah jadi. Kitab ini pun ditutup dengan cara yang sama, yaitu bukan dengan ringkasan atau janji, melainkan dengan satu kalimat pendek untuk diucapkan seorang diri oleh siapa pun yang baru saja selesai membacanya. Tiga surah terakhirnya pun sama-sama dibuka dengan perintah yang sama itu.
- Sampai akhir ayat ketiga, surah ini belum menyebut satu pun ancaman. Tiga ayat penuh dipakai hanya untuk memperkenalkan kepada siapa orang berlindung. Susunan itu sama dengan surah sebelumnya, tetapi di sini penundaannya tiga kali lebih panjang. Semakin dekat ancamannya kepada diri seseorang, semakin panjang pengenalan tempat berlindungnya. Apa yang paling dibutuhkan seseorang sebelum ia sanggup menghadapi apa yang menakutinya?
- Dari tiga sebutan itu, yang menyatakan pemeliharaan diletakkan paling depan, sebelum yang menyatakan kekuasaan dan yang menyatakan hak disembah. Urutannya bergerak dari yang paling luas ke yang paling pribadi. Orang yang datang meminta perlindungan diperkenalkan lebih dulu kepada sisi yang paling mudah dikenalinya, yaitu bahwa ia selama ini sudah dipelihara, dan baru sesudah itu kepada dua sisi yang lain. Yang paling mudah dikenali diletakkan paling depan, dan yang paling tak tertukar disimpan untuk penutup.
- Dua surah terakhir Al-Qur'an dibuka dengan kalimat yang hampir sama huruf per huruf, dan yang membedakan cuma satu kata di ujungnya. Yang satu menyandarkan sebutan-Nya kepada peristiwa terbelahnya gelap, yang ini kepada manusia. Perbedaan sekecil itu menentukan seluruh isi kedua surah: yang pertama tentang bahaya yang datang dari luar, yang kedua tentang yang bekerja di dalam dada. Dua kalimat yang hampir kembar ternyata membuka dua wilayah yang sama sekali berbeda.
Ayat 114:2
مَلِكِ النَّاسِ
Raja manusia,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- مَلِكِ النَّاسِmaliki n-naasiRaja manusia
Terjemahan per kata (2 kata)
- مَلِكِmalikiRaja
- النَّاسِn-naasimanusia
Inti bacaan
Penegasan otoritas kedua: 'Raja manusia', pengakuan kedaulatan penuh yang melampaui sekadar penciptaan, otoritas yang berkuasa penuh atas seluruh urusan manusia.
Penjelasan pilihan kata
"Raja manusia" (مَلِكِ النَّاسِ, maliki n-naasi) adalah sebutan kedua, melanjutkan kutipan dari 114:1 tanpa mengulang kata "aku berlindung kepada" (lihat penjelasan 114:1); ayat ini murni lanjutan langsung dari kalimat yang sama, sehingga kedua ayat itu satu kalimat yang dipotong oleh nomor ayat, bukan dua kalimat berdiri sendiri.
Kata (مَلِكِ, maliki) berasal dari akar yang berarti menguasai. Akar itu hadir di 191 ayat, misalnya di 20:114, 59:23, dan 62:1, di mana ia dipakai sebagai sebutan bagi Allah dengan kata sandang. Di ayat ini ia justru tanpa kata sandang dan langsung disandarkan kepada manusia. Susunan penyandaran itu yang membuatnya berbeda: yang dinyatakan bukan bahwa Dia menyandang gelar raja, melainkan bahwa kekuasaan itu berlaku atas manusia yang sedang mengucapkannya.
Padanan "Raja" dipilih untuk (مَلِكِ, maliki) dan bukan "Penguasa" atau "Pemilik", karena kata Arabnya memang menunjuk pihak yang memerintah, bukan pihak yang memiliki barang. Akar yang sama memang melahirkan kata untuk kepemilikan, tetapi bentuk yang dipakai di sini adalah bentuk yang menunjuk pemegang perintah. Bedanya terasa di dalam surah ini: yang dimintai perlindungan bukan pemilik yang menjaga miliknya, melainkan pihak yang perintahnya berlaku atas semua pihak, termasuk atas yang membisikkan di 114:4. Pemilik menjaga apa yang dimilikinya dari luar; yang memerintah berlaku juga atas pihak yang mengganggu.
Perbandingan dengan 1:4 menerangkan pilihan bentuknya. Di sana tertulis (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ, maaliki yawmi d-diini), memakai bentuk lain dari akar yang sama, dan diterjemahkan "Pemilik Hari Pertanggungjawaban". Bentuk di sana menunjuk kepemilikan, bentuk di sini menunjuk pemerintahan. Keduanya seakar tetapi tidak sama, dan korpus ini menerjemahkannya berbeda justru untuk menjaga pembedaan itu. Di 20:114 dipakai bentuk yang sama dengan ayat ini, (الْمَلِكُ الْحَقُّ, l-maliku l-haqqu), tetapi dengan kata sandang dan tanpa penyandaran kepada siapa pun.
Letak sebutan ini di tengah rangkaian juga menerangkan sesuatu. Ia berdiri antara pemeliharaan di 114:1 dan penyembahan di 114:3. Yang di tengah menghubungkan keduanya: pemeliharaan tanpa kekuasaan tidak menjamin apa-apa, dan penyembahan kepada yang tidak berkuasa tidak menghasilkan perlindungan. Ketiganya diucapkan berurutan dalam satu tarikan kalimat, tanpa kata sambung di antaranya, sehingga terbaca sebagai satu sebutan yang berlapis, bukan tiga sebutan yang terpisah. Kalau di antaranya diberi kata sambung, ketiganya akan terbaca sebagai daftar yang dijumlahkan, dan penjumlahan tidak menyatakan pendalaman.
Tafsiran
Ayat ini menambahkan dimensi kekuasaan pada peran pertama sebagai pemelihara: Allah bukan hanya yang memelihara manusia, tetapi juga yang berkuasa penuh atas mereka. Susunan tiga sebutan dalam surah ini, dari pemeliharaan ke kekuasaan lalu ke penyembahan di ayat berikutnya, membentuk urutan yang bergerak dari yang lebih umum ke yang paling personal.
Kedudukan yang disebut di sini punya arti khusus bagi bentuk ancaman yang akan disebutkan. Bisikan di 114:4 bekerja dengan cara tidak berhadapan, tidak menantang, dan tidak menampakkan diri. Terhadap sesuatu yang tidak pernah muncul, yang berguna bukan kekuatan melainkan kewenangan yang berlaku di seluruh wilayah, termasuk di tempat yang tidak terlihat. Raja yang perintahnya berlaku di dalam dada tidak perlu mengejar apa yang bersembunyi di sana.
Perbandingan dengan pemakaian kata yang sama di tempat lain juga menerangkan. Di 20:114, 59:23, dan 62:1 sebutan itu berdiri sendiri sebagai nama, sedangkan di sini ia langsung disandarkan kepada manusia. Perbedaan itu membuat kedaulatan yang dinyatakan tidak berhenti sebagai keterangan tentang kebesaran, melainkan menjadi keterangan tentang hubungan. Yang sedang berlindung tidak sedang menyebut kebesaran yang jauh, ia sedang menyebut siapa yang berkuasa atas dirinya sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Allah disebut Raja manusia, sesudah Tuhan manusia dan sebelum Sembahan manusia. Ini yang di tengah. Tiga gelar berurutan dari yang memelihara, yang memerintah, sampai yang disembah. Yang di tengah menghubungkan keduanya, sebab pemeliharaan tanpa kekuasaan tidak menjamin apa-apa, dan penyembahan kepada yang tidak berkuasa tidak menghasilkan perlindungan apa pun bagi yang menyembahnya. Ketiganya baru berguna kalau berada pada satu pihak yang sama.
- Kata raja yang dipakai untuk Allah menunjuk kekuasaan yang berlaku, bukan sekadar kedudukan kehormatan. Yang diperintah manusia. Perlindungan yang dicari dalam surah ini datang dari Yang memang berhak memerintah. Terhadap sesuatu yang tidak pernah menampakkan diri, yang berguna bukan kekuatan melainkan kewenangan yang berlaku juga di tempat yang tak terlihat oleh yang berlindung. Kekuatan menuntut sasaran yang bisa ditemui, sedangkan kewenangan tidak.
- Kata manusia diulang pada ketiga gelar, tidak diringkas satu kali. Pengulangan itu disengaja. Yang berlindung diingatkan berkali-kali siapa dirinya di hadapan Yang dimintai perlindungan. Di tempat lain sebutan yang sama berdiri sendiri sebagai nama tanpa disandarkan kepada siapa pun, dan perbedaan itu memindahkan kalimatnya dari keterangan tentang kebesaran menjadi keterangan tentang hubungan. Yang berlindung tidak sedang menyebut sesuatu yang jauh, ia sedang menyebut siapa yang berkuasa atas dirinya sendiri.
- Bisikan yang disebut dua ayat kemudian bekerja dengan cara tidak berhadapan dan tidak menampakkan diri. Kekuasaan yang dinyatakan di ayat ini justru yang menjawabnya, sebab perintah seorang raja berlaku di seluruh wilayahnya, termasuk di sudut yang tidak dijaga siapa pun. Yang bersembunyi di dalam dada seseorang tetap berada di wilayah yang sama dengan yang dimintai perlindungan olehnya.
- Ketiga sebutan diucapkan berurutan dalam satu tarikan kalimat, tanpa satu pun kata sambung di antaranya. Akibatnya ia terbaca sebagai satu sebutan yang berlapis, bukan tiga hal terpisah yang dijumlahkan. Yang dimintai perlindungan tidak sedang diperkenalkan lewat daftar sifat, melainkan lewat satu pengenalan yang mendalam bertahap, dan pembacanya baru sampai ke dasarnya di ayat berikutnya. Daftar yang dijumlahkan tidak menyatakan pendalaman, sedangkan susunan tanpa sambungan menyatakannya.
- Kata yang dipakai menunjuk pihak yang memerintah, bukan pihak yang memiliki barang. Perbedaan itu terasa di dalam surah ini. Yang dimintai perlindungan bukan pemilik yang sedang menjaga hartanya dari pencuri, melainkan Yang perintah-Nya berlaku atas semua pihak sekaligus, termasuk atas pihak yang sedang membisikkan. Apa bedanya berlindung kepada yang memiliki dan kepada yang memerintah? Pemilik menjaga apa yang menjadi miliknya dari gangguan luar, sedangkan yang memerintah berlaku juga atas pihak yang mengganggu itu sendiri.
Ayat 114:3
إِلَٰهِ النَّاسِ
Sembahan manusia,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِلَٰهِ النَّاسِilaahi n-naasiSembahan manusia
Terjemahan per kata (2 kata)
- إِلَٰهِilaahiSembahan
- النَّاسِn-naasimanusia
Inti bacaan
Penegasan hak ibadah eksklusif: 'Sembahan manusia', pengakuan bahwa hanya Dia yang berhak menerima penyembahan, tiga sifat (Tuhan-Raja-Sembahan) yang membangun fondasi otoritas menyeluruh sebelum permohonan perlindungan spesifik disampaikan.
Penjelasan pilihan kata
"Sembahan manusia" (إِلَٰهِ النَّاسِ, ilaahi n-naasi) menutup rangkaian tiga sebutan yang dimulai di 114:1 (lihat penjelasan 114:1). Seperti dua sebutan sebelumnya, ia melanjutkan kalimat yang sama tanpa mengulang kata kerjanya dan tanpa kata sambung.
Kata (إِلَٰهِ, ilaahi) berasal dari akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu akar yang berarti disembah, hadir di 1879 ayat, di antaranya 2:163, 5:73, dan 112:1. Bentuk yang dipakai di sini tanpa kata sandang dan langsung disandarkan kepada manusia, seperti dua sebutan sebelumnya. Padanan "Sembahan" dipilih dan bukan "Tuhan" karena kata "Tuhan" sudah dipakai untuk sebutan pertama di 114:1, dan memakainya dua kali akan menghapus perbedaan yang justru menjadi isi rangkaian ini.
Ketiga sebutan itu punya perbedaan yang bisa diuji. Yang pertama dan kedua punya bandingannya di dunia manusia: ada yang memelihara selain Allah, dan ada yang memerintah selain Allah. Yang ketiga tidak. Tidak ada pihak lain yang berhak menerima penyembahan, dan itulah sebabnya ia diletakkan paling akhir sebagai puncak rangkaian. Urutan yang menaik itu berakhir pada satu-satunya sebutan yang tidak bisa dipinjamkan kepada siapa pun. Dua yang pertama masih punya bandingannya di dunia manusia, sedangkan yang ketiga tidak menyediakan bandingan apa pun.
Perbandingan dengan 2:163 menerangkan bedanya. Di sana tertulis (إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ, ilaahukum ilaahun waahidun), memakai kata yang sama dua kali, sekali bersandar pada kata ganti kalian dan sekali tanpa sandaran. Di ayat ini kata itu bersandar kepada manusia sebagai golongan, bukan kepada kelompok tertentu yang sedang diajak bicara. Perbedaan itu memperluas: yang dinyatakan bukan bahwa Dia sembahan kalian yang mendengar ayat ini, melainkan sembahan manusia seluruhnya, termasuk yang tidak menyembah-Nya. Kedudukan itu tidak bergantung pada pengakuan, sebagaimana kedudukan sebagai pemelihara di 114:1 juga tidak menunggu diakui lebih dulu.
Sesudah ayat ini rangkaian pengenalan berhenti, dan 114:4 baru menyebut ancamannya. Perlu diperhatikan bahwa yang disebut di sana bekerja lewat bisikan, dan bisikan pada akhirnya membujuk seseorang untuk memberikan kepatuhan kepada sesuatu. Jadi sebutan terakhir sebelum ancaman disebutkan adalah sebutan tentang siapa yang berhak menerima kepatuhan itu. Susunan tersebut membuat ayat ini bukan sekadar penutup daftar, melainkan jawaban yang sudah disiapkan sebelum pertanyaannya muncul. Urutan itu sama dengan 113:1 yang juga memperkenalkan Yang dimintai sebelum menyebut apa yang dihindari, hanya saja di sini pengenalannya tiga kali lebih panjang.
Tafsiran
Ayat ini menutup rangkaian dengan peran yang paling personal: bukan hanya pemelihara dan penguasa, tetapi juga satu-satunya yang layak disembah. Tiga peran ini bersama-sama menjadi dasar permohonan perlindungan yang baru dimulai pada ayat berikutnya, permohonan yang diajukan kepada Dia yang memelihara, berkuasa, dan berhak disembah sekaligus.
Yang membedakan sebutan ketiga dari dua sebelumnya adalah bahwa ia tidak punya bandingan sama sekali. Manusia mengenal pihak lain yang memelihara dan pihak lain yang memerintah, dan karena itu dua sebutan pertama masih bisa dibayangkan lewat pengalaman sehari-hari. Yang ketiga tidak menyediakan bayangan semacam itu. Bandingkan dengan 112:1 yang menyatakan ketunggalan dengan cara berbeda: di sana lewat satu kata sifat, di sini lewat penyandaran kepada manusia yang mengucapkannya.
Letaknya persis sebelum ancaman disebutkan juga bukan kebetulan. Bisikan yang disebut di 114:4 bekerja dengan membujuk seseorang memberikan kepatuhan kepada sesuatu selain Yang berhak menerimanya. Jadi kalimat terakhir sebelum ancaman itu diucapkan adalah kalimat yang menetapkan siapa pemilik kepatuhan tersebut. Pertahanan sudah dipasang sebelum serangannya dinamai, dan itu pola yang sama dengan 113:1 meski dengan bahan yang sama sekali berbeda.
Renungan dan Hikmah
- Allah disebut Sembahan manusia, sesudah Tuhan dan Raja. Ini yang terakhir. Urutannya menaik dari yang memelihara, yang memerintah, sampai yang berhak disembah. Rangkaian itu berhenti persis sebelum ancaman disebutkan, sehingga kalimat terakhir yang terdengar sebelum bahaya dinamai adalah kalimat tentang siapa pemilik kepatuhan yang sedang diperebutkan. Urutan itu bukan kebetulan, sebab bisikan bekerja dengan membujuk seseorang menyerahkan kepatuhannya kepada sesuatu yang lain.
- Dari tiga gelar itu, hanya yang ketiga tak bisa dipinjam siapa pun. Ada yang memelihara dan ada yang memerintah selain Dia. Perlindungan dalam surah ini akhirnya bersandar pada yang paling tak tertukar. Dua sebutan pertama masih bisa dibayangkan lewat pengalaman sehari-hari, sedangkan yang ketiga tidak menyediakan bayangan semacam itu sama sekali bagi yang mengucapkannya. Justru karena tak ada bandingannya, sebutan itu diletakkan paling akhir sebagai dasar yang paling bawah.
- Kata manusia diulang pada gelar ini juga. Tiga kali dalam tiga ayat. Yang berlindung diingatkan berulang siapa dirinya, tepat ketika ia menyebut siapa Yang dimintainya. Pengulangan yang sama muncul lagi dua kali di dua ayat terakhir, sehingga dari enam ayat surah ini, lima di antaranya berakhir atau memuat kata yang sama itu. Tidak ada kata lain di dalam surah ini yang diulang sesering kata yang menyebut pembacanya sendiri.
- Sesuatu yang membujuk dari dalam dada tidak pernah meminta dirinya diakui atau dinamai. Ia cukup mendapat kepatuhan, dan kepatuhan itu bisa berjalan bertahun-tahun tanpa sekali pun disadari sebagai kepatuhan. Justru karena tak menuntut pengakuan, ia juga tak pernah menimbulkan perlawanan. Kepada apa sebenarnya seseorang sedang tunduk ketika ia mengikuti dorongan yang tidak pernah ia putuskan sendiri asalnya dari mana?
- Padanan yang dipakai di sini berbeda dari yang dipakai di sebutan pertama, dan perbedaan itu perlu. Kata Tuhan sudah terpakai untuk sisi pemeliharaan, sehingga memakainya sekali lagi akan menghapus pembedaan yang justru menjadi isi rangkaian ini. Tiga sebutan yang diterjemahkan sama akan terbaca sebagai pengulangan kosong, padahal yang tertulis tiga sisi yang berbeda. Bahasa Indonesia menyediakan kata yang cukup untuk memisahkannya, dan pemisahan itu dipakai justru supaya rangkaiannya tetap terbaca sebagai pendalaman.
- Kata yang dipakai di ayat ini berasal dari akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an, hadir di ribuan ayat. Namun bentuk yang dipakai di sini disandarkan langsung kepada manusia, sebagaimana dua sebutan sebelumnya. Yang paling sering disebut di seluruh kitab, di ayat penutupnya, dikaitkan langsung dengan orang yang sedang membaca kalimat itu. Yang paling sering disebut dan yang paling akhir disebut bertemu di satu ayat pendek yang cuma dua kata.