بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan manusia,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- قُلْqulkatakanlah
- أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِa'uudzu bi-rabbi n-naasiaku berlindung kepada Tuhan manusia
Terjemahan per kata (4 kata)
- قُلْqulkatakanlah
- أَعُوذُa'uudzuaku berlindung
- بِرَبِّbi-rabbikepada Tuhan
- النَّاسِn-naasimanusia
Inti bacaan
Pembukaan An-Nas dengan permohonan perlindungan kepada Tuhan manusia: 'aku berlindung kepada Tuhan manusia', awal rangkaian tiga sifat yang menegaskan hubungan khusus antara Allah dan manusia sebagai landasan permohonan perlindungan.
Penjelasan pilihan kata
"Kepada Tuhan manusia" (بِرَبِّ النَّاسِ, bi-rabbi n-naasi) adalah sebutan pertama dari tiga sebutan berturutan yang menerangkan Allah dalam kutipan yang dibuka di ayat ini (قُلْ, qul) dan berlanjut sampai akhir surah (114:6): sebutan ini di sini, "Raja manusia" di 114:2, dan "Sembahan manusia" di 114:3.
Perbandingan dengan surah sebelumnya menerangkan pilihan itu. Di 113:1 tertulis (بِرَبِّ الْفَلَقِ, bi-rabbi l-falaqi), Tuhan fajar, memakai kata kerja dan susunan yang sama persis. Yang berbeda hanya apa yang disandarkan. Di sana sandarannya peristiwa di luar diri manusia, di sini sandarannya manusia itu sendiri, dan sandaran itu diulang lagi dua kali di dua ayat berikutnya. Perbedaan itu sejalan dengan isi masing-masing: surah sebelumnya memohon perlindungan dari yang datang dari luar, surah ini dari yang bekerja di dalam dada.
Kata (النَّاسِ, n-naasi) yang menutup ayat ini muncul 5 kali di dalam surah yang panjangnya cuma 6 ayat, yaitu di 114:1, 114:2, 114:3, 114:5, dan 114:6. Tidak ada kata lain yang diulang sesering itu, dan pengulangannya tidak menambah keterangan apa pun. Yang dikerjakannya lain: ia menjaga supaya pembaca tidak pernah lepas dari kesadaran bahwa yang sedang dibicarakan adalah dirinya, baik ketika menyebut Yang dimintai maupun ketika menyebut yang mengancam.
Tiga surah terakhir Al-Qur'an sama-sama dibuka dengan (قُلْ, qul), yaitu 112:1, 113:1, dan ayat ini, dan di ketiganya perintah itu membuka kutipan yang tidak ditutup sampai kata terakhir surahnya. Jadi tiga surah penutup kitab ini seluruhnya berupa kalimat yang diperintahkan untuk diucapkan, bukan keterangan yang disampaikan. Bedanya pada isi yang diucapkan: yang pertama pernyataan tentang siapa Allah, dua berikutnya permohonan perlindungan. Susunan itu berarti pengetahuan disebut lebih dulu, lalu permintaan, dan bukan sebaliknya.
Sebutan (رَبِّ, rabbi) sendiri menyatakan hubungan pemeliharaan, bukan sekadar nama. Ia dipakai lebih dulu di antara ketiganya, dan urutan itu bergerak dari yang paling luas ke yang paling pribadi: memelihara, lalu memerintah di 114:2, lalu disembah di 114:3. Padanan "Tuhan" dipertahankan karena ia sudah menampung sisi pemeliharaan itu dalam bahasa Indonesia, sedangkan "Pemelihara" akan terdengar seperti sebutan jabatan dan memutus hubungannya dengan pemakaian kata yang sama di seluruh korpus ini. Ketiga sebutan itu juga diucapkan berurutan tanpa satu pun kata sambung di antaranya, sehingga terbaca sebagai satu pengenalan yang mendalam bertahap, bukan tiga hal terpisah.
Tafsiran
Ayat ini membuka rangkaian tiga sebutan yang seluruhnya memakai kata "manusia" sebagai penutup, meski masing-masing menerangkan peran Allah yang berbeda. Peran pertama, sebagai Tuhan yang memelihara, ditempatkan lebih dulu sebelum dua peran berikutnya.
Yang paling patut diperhatikan adalah apa yang belum disebut. Sampai akhir 114:3, surah ini belum menyebutkan satu pun ancaman. Tiga ayat penuh dipakai hanya untuk memperkenalkan kepada siapa orang berlindung, dan baru di 114:4 disebut dari apa. Susunan itu sama dengan 113:1 yang juga memperkenalkan lebih dulu, tetapi di sini penundaannya tiga kali lebih panjang. Semakin dekat ancamannya, semakin panjang pengenalan tempat berlindungnya.
Letaknya sebagai pembuka surah terakhir Al-Qur'an juga menerangkan sesuatu. Kitab ini ditutup bukan dengan ringkasan, bukan dengan janji, dan bukan dengan peringatan, melainkan dengan sebuah kalimat yang diajarkan untuk diucapkan seorang diri. Orang yang selesai membaca seluruhnya diberi satu kalimat pendek untuk dibawa pulang, dan kalimat itu bukan pernyataan tentang apa yang ia ketahui melainkan permintaan atas apa yang tidak sanggup ia jaga sendiri. Bandingkan dengan 113:1 yang juga dibuka dengan perintah dan sebutan yang sama: dua surah terakhir kitab ini berdampingan sebagai sepasang permohonan, dan keduanya diletakkan sesudah 112:1 yang lebih dulu menetapkan siapa Yang dimintai.
Renungan dan Hikmah
- Sebutan pertama yang dipakai Allah Tuhan manusia, bukan Tuhan langit atau Tuhan segala sesuatu. Yang ditonjolkan hubungan dengan yang meminta. Perlindungan yang diminta dari pihak yang sudah punya hubungan terasa berbeda dari perlindungan yang diminta dari yang jauh. Surah sebelumnya memakai susunan yang sama persis tetapi menyandarkannya kepada fajar, jadi perbedaan satu kata itu memindahkan seluruh perhatian dari peristiwa di luar diri ke diri orangnya sendiri.
- Tiga sebutan berikutnya semuanya berakhir dengan kata manusia. Pengulangan itu tidak menambah keterangan. Yang ditegaskan berulang justru kepada siapa surah pendek ini berbicara, dan siapa yang sedang dalam bahaya. Kata itu muncul lima kali di dalam surah yang cuma enam ayat, dan tidak ada kata lain yang diulang sesering itu, sehingga pembacanya tak pernah lepas dari kesadaran bahwa yang sedang dibicarakan adalah dirinya.
- Surah ini dibuka dengan perintah katakanlah, jadi doanya diajarkan, bukan disusun sendiri. Allah menyediakan kalimatnya. Orang yang sedang gentar jarang sanggup menyusun kata; yang diberikan justru kalimat yang sudah jadi. Kitab ini pun ditutup dengan cara yang sama, yaitu bukan dengan ringkasan atau janji, melainkan dengan satu kalimat pendek untuk diucapkan seorang diri oleh siapa pun yang baru saja selesai membacanya. Tiga surah terakhirnya pun sama-sama dibuka dengan perintah yang sama itu.
- Sampai akhir ayat ketiga, surah ini belum menyebut satu pun ancaman. Tiga ayat penuh dipakai hanya untuk memperkenalkan kepada siapa orang berlindung. Susunan itu sama dengan surah sebelumnya, tetapi di sini penundaannya tiga kali lebih panjang. Semakin dekat ancamannya kepada diri seseorang, semakin panjang pengenalan tempat berlindungnya. Apa yang paling dibutuhkan seseorang sebelum ia sanggup menghadapi apa yang menakutinya?
- Dari tiga sebutan itu, yang menyatakan pemeliharaan diletakkan paling depan, sebelum yang menyatakan kekuasaan dan yang menyatakan hak disembah. Urutannya bergerak dari yang paling luas ke yang paling pribadi. Orang yang datang meminta perlindungan diperkenalkan lebih dulu kepada sisi yang paling mudah dikenalinya, yaitu bahwa ia selama ini sudah dipelihara, dan baru sesudah itu kepada dua sisi yang lain. Yang paling mudah dikenali diletakkan paling depan, dan yang paling tak tertukar disimpan untuk penutup.
- Dua surah terakhir Al-Qur'an dibuka dengan kalimat yang hampir sama huruf per huruf, dan yang membedakan cuma satu kata di ujungnya. Yang satu menyandarkan sebutan-Nya kepada peristiwa terbelahnya gelap, yang ini kepada manusia. Perbedaan sekecil itu menentukan seluruh isi kedua surah: yang pertama tentang bahaya yang datang dari luar, yang kedua tentang yang bekerja di dalam dada. Dua kalimat yang hampir kembar ternyata membuka dua wilayah yang sama sekali berbeda.