الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ
Yang membisikkan ke dalam dada manusia,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِalladzii yuwaswisu fii shuduuri n-naasiyang membisikkan ke dalam dada manusia
Terjemahan per kata (5 kata)
- الَّذِيalladziiyang
- يُوَسْوِسُyuwaswisumembisikkan
- فِيfiidalam
- صُدُورِshuduuridada
- النَّاسِn-naasimanusia
Inti bacaan
Lokasi operasi kejahatan tersebut: 'yang membisikkan ke dalam dada manusia', pengakuan bahwa medan pertempuran sesungguhnya adalah hati dan pikiran, godaan yang menyerang pusat kehendak dan pengambilan keputusan manusia.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini merinci cara kerja pembisik yang disebut di 114:4: "membisikkan ke dalam dada manusia" (يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ, yuwaswisu fii shuduuri n-naasi). Kata kerjanya seakar dengan "al-waswaas" di ayat sebelumnya.
Kata kerja (يُوَسْوِسُ, yuwaswisu) berbentuk sedang berlangsung, bukan lampau. Bedanya menentukan: yang dinyatakan bukan sesuatu yang pernah terjadi lalu selesai, melainkan pekerjaan yang masih berjalan pada saat kalimat ini dibaca. Bandingkan dengan 7:20 dan 20:120 yang memakai akar sama dalam bentuk lampau untuk menceritakan peristiwa yang sudah terjadi kepada Adam. Di sini bentuknya berubah, dan perubahan itu memindahkan ceritanya dari masa lalu ke masa yang sedang berlangsung.
Kata (صُدُورِ, shuduuri) berbentuk jamak, dari akar yang berarti keluar dari sumbernya. Akar itu hadir di 43 ayat, di antaranya 3:154 dan 39:7. Padanan "dada" dipertahankan dan bukan "hati", sebab Al-Qur'an memakai kata lain untuk hati, dan menukarnya akan menghapus pembedaan yang dijaga di seluruh korpus ini. Bentuk jamaknya juga dipertahankan: yang disebut dada orang banyak, bukan dada satu orang, sehingga pekerjaan yang digambarkan berlangsung serentak pada banyak orang sekaligus.
Kata penghubung (الَّذِي, alladzii) di kepala ayat ini berbentuk tunggal, menyambungkan seluruh keterangan ini kepada satu kata di 114:4. Jadi 114:4 dan ayat ini satu kalimat yang dipotong nomor ayat: yang pertama menamai, yang kedua menerangkan pekerjaannya. Susunan itu juga berarti keterangan di sini tidak berdiri sendiri sebagai pernyataan umum tentang bisikan, melainkan melekat pada yang sudah disebut sebelumnya.
Kata depan (فِي, fii) berarti "di dalam", bukan "kepada". Pilihan itu menentukan gambarannya: bisikan tidak digambarkan disampaikan dari luar kepada seseorang, melainkan diletakkan di dalam ruang itu. Yang masuk ke dalam sesuatu tidak lagi bisa dibedakan dari isinya sendiri tanpa pemeriksaan, dan justru di situ letak kesulitannya. Suara yang datang dari luar bisa dikenali sebagai suara orang lain; suara yang sudah berada di dalam dada akan terdengar seperti pikiran sendiri.
Kata (النَّاسِ, n-naasi) muncul lagi di ujung ayat ini, untuk keempat kalinya dalam surah. Kali ini kedudukannya berbeda dari tiga kemunculan sebelumnya: di 114:1, 114:2, dan 114:3 ia disandarkan kepada Allah sebagai keterangan tentang siapa yang dipelihara, diperintah, dan disembahi. Di sini ia disandarkan kepada dada, yaitu tempat yang dimasuki. Kata yang sama berpindah dari sisi Yang melindungi ke sisi yang dilindungi, dan di 114:6 ia berpindah sekali lagi ke sisi yang dimintakan perlindungan darinya.
Tafsiran
Ayat ini menempatkan medan yang dimaksud surah ini bukan di dunia luar, melainkan di dalam dada, tempat pikiran dan niat terbentuk sebelum menjadi tindakan. Perlindungan yang dimohonkan sejak awal surah ini karena itu bukan perlindungan fisik semata, melainkan perlindungan atas apa yang bisa masuk ke dalam diri seseorang tanpa disadari.
Bentuk kata kerjanya yang sedang berlangsung membuat ayat ini tidak bisa dibaca sebagai cerita. Di 7:20 dan 20:120 akar yang sama dipakai dalam bentuk lampau untuk peristiwa yang sudah terjadi, dan pembaca boleh menempatkannya sebagai kisah. Di sini bentuknya berubah menjadi yang masih berjalan, sehingga yang dibicarakan bukan sesuatu yang pernah menimpa orang lain di masa lalu melainkan yang sedang bekerja sekarang.
Pilihan tempat itu juga menerangkan kenapa tiga sebutan di awal surah semuanya disandarkan kepada manusia. Kalau medannya di dalam dada manusia, maka yang paling berguna dikenali adalah bahwa Yang dimintai perlindungan berkuasa justru atas manusia itu. Bandingkan dengan 50:16 yang menyatakan Allah lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya sendiri: ruang yang tidak bisa dijaga oleh pemiliknya ternyata bukan ruang yang tertutup bagi Yang dimintai perlindungan di sini.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut tempat kerjanya di dalam dada manusia. Bukan di sekitarnya. Perlindungan yang diminta sepanjang surah ini ternyata untuk sebuah ruang yang tak bisa dijaga dengan pintu atau pagar. Kata depan yang dipakai berarti di dalam, bukan kepada, jadi bisikan itu tidak digambarkan disampaikan dari luar melainkan diletakkan di dalam ruang tersebut, dan yang sudah berada di dalam akan terdengar seperti pikiran sendiri. Ruang itu tidak punya pintu yang bisa ditutup oleh pemiliknya.
- Kata kerja yang dipakai Allah seakar dengan sebutan pembisik pada ayat sebelumnya. Nama dan pekerjaannya satu kata. Yang dinamai memang tidak dikenali dari wujudnya, melainkan dari apa yang dikerjakannya. Sesuatu yang namanya sama dengan pekerjaannya tidak punya keberadaan yang terpisah dari perbuatannya, sehingga ia hanya bisa dikenali ketika sedang bekerja. Di luar saat itu, tidak ada yang bisa ditunjuk sebagai keberadaannya.
- Dada disebut sebagai tempat masuknya, dan di sanalah niat terbentuk sebelum jadi perbuatan. Yang diserang bagian paling awal. Menjaga perbuatan tanpa menjaga tempat keputusan lahir berarti menjaga di ujung yang sudah terlambat. Bentuk jamak pada katanya juga dipertahankan: yang disebut dada orang banyak, jadi pekerjaan itu berlangsung serentak pada banyak orang sekaligus, bukan pada satu orang bergantian. Yang digambarkan bukan kunjungan yang menunggu giliran, melainkan pekerjaan yang berjalan di mana-mana sekaligus.
- Bentuk kata kerjanya menyatakan pekerjaan yang masih berjalan, bukan yang sudah selesai. Di dua ayat lain akar yang sama dipakai dalam bentuk lampau untuk peristiwa yang menimpa Adam, dan pembaca boleh menempatkannya sebagai kisah. Di sini bentuknya berubah, sehingga yang dibicarakan bukan sesuatu yang pernah terjadi kepada orang lain melainkan yang sedang bekerja pada saat kalimatnya dibaca. Kisah bisa didengarkan dari kejauhan, sedangkan yang sedang berlangsung tidak menyediakan jarak semacam itu.
- Ruang yang tidak bisa dijaga oleh pemiliknya sendiri ternyata bukan ruang yang tertutup bagi Allah. Di tempat lain dinyatakan bahwa Dia lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya. Jadi tempat yang paling sulit dijaga justru tempat yang paling terbuka bagi Yang dimintai perlindungan, dan itu sebabnya tiga sebutan di awal surah semuanya disandarkan kepada manusia. Yang paling sulit dijaga oleh pemiliknya justru yang paling terbuka bagi Yang dimintai perlindungan.
- Suara yang datang dari luar masih bisa dikenali sebagai suara orang lain. Suara yang sudah berada di dalam dada tidak menyediakan tanda semacam itu. Yang masuk ke dalam sesuatu tidak lagi bisa dibedakan dari isinya tanpa pemeriksaan, dan pemeriksaan itu sendiri jarang terpikirkan justru karena semuanya terdengar wajar. Berapa banyak keputusan yang pernah diambil seseorang tanpa memeriksa dari mana dorongannya datang?