مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

Dari jin dan manusia.”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِmina l-jinnati wa-n-naasidari jin dan manusia

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. مِنَminadari
  2. الْجِنَّةِl-jinnatijin
  3. وَالنَّاسِwa-n-naasidan manusia

Inti bacaan

Penutup Al-Qur'an dengan cakupan menyeluruh sumber godaan: 'dari (golongan) jin dan manusia', ayat penutup mushaf yang menegaskan bahwa bisikan jahat bisa datang dari dua sumber sekaligus, baik makhluk gaib maupun sesama manusia, kesadaran menyeluruh yang menutup seluruh Al-Qur'an dengan permohonan perlindungan universal terhadap segala bentuk godaan menuju keburukan, penutup yang tepat bagi perjalanan panjang wahyu yang dimulai dengan perintah 'Bacalah' dan berakhir dengan permohonan perlindungan bagi hati yang membaca dan merenungkannya.

Penjelasan pilihan kata

Kutipan yang dibuka sejak 114:1 ditutup di akhir ayat ini, sekaligus menjadi ayat penutup seluruh Al-Qur'an. "Dari jin dan manusia" (مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ, mina l-jinnati wa-n-naasi) menyatakan bahwa sumber pembisik yang disebut sejak 114:4 mencakup dua golongan sekaligus, bukan hanya satu.

Kata (الْجِنَّةِ, l-jinnati) berasal dari akar yang berarti menutupi sampai tak terlihat. Akar itu hadir di 196 ayat, dan akar itu bermakna tertutup atau tersembunyi. Bentuk yang dipakai di sini bertakrif dan disandingkan langsung dengan (النَّاسِ, n-naasi) memakai satu kata sambung, sehingga keduanya sejajar dan tidak bertingkat. Padanan "jin" dipertahankan tanpa diterjemahkan karena kata itu sudah menjadi kata Indonesia yang menunjuk golongan yang sama, sedangkan menerjemahkannya menjadi "makhluk halus" akan menambahkan keterangan yang tidak ada di teksnya.

Penyebutan manusia sebagai salah satu sumber bisikan bukan tambahan mendadak. Akar yang berarti membisikkan itu yang dipakai di 114:4 dan 114:5 memang cuma muncul di 5 ayat, dan di 50:16 ia dipakai untuk bisikan yang keluar dari diri orang itu sendiri. Jadi sejak sebelum surah ini, kata tersebut tidak pernah dipakai khusus bagi golongan yang tak terlihat. Ayat ini menutup pola itu dengan menyebut keduanya berdampingan.

Sebagai kalimat penutup seluruh Al-Qur'an, ayat ini pantas disandingkan dengan pembukanya. Di 1:2 tertulis (رَبِّ الْعَالَمِينَ, rabbi l-'aalamiina), Tuhan seisi alam, memakai sebutan yang sama dengan yang membuka surah ini tetapi disandarkan kepada seluruh alam. Kitab ini karena itu dibuka dengan cakupan seluas-luasnya dan ditutup dengan yang sesempit-sempitnya, yaitu bisikan di dalam dada satu orang. Sebutan yang dipakai sama, sandarannya yang menyempit, dan penyempitan itu berakhir persis di diri pembacanya.

Kata depan (مِنَ, mina) di kepala ayat menandai asal, dan ia mengulang kata depan yang sama di 114:4. Pengulangan itu membuat kalimatnya utuh: yang pertama menandai dari apa perlindungan diminta, yang kedua menandai dari mana asalnya. Perlu diperhatikan bahwa kata (النَّاسِ, n-naasi) muncul di sini untuk kelima kalinya dalam surah yang cuma enam ayat, dan pada kemunculan terakhir inilah kedudukannya berubah: di empat kemunculan sebelumnya ia menyebut pihak yang dilindungi, di sini ia menyebut salah satu sumber yang dimintakan perlindungan darinya. Tidak ada kata lain di dalam surah ini yang menempati dua kedudukan berlawanan seperti itu, dan pembalikannya terjadi tepat di kata terakhir kitab. Yang berlindung dan sebagian yang dimintakan perlindungan darinya ternyata berasal dari golongan yang sama.

Tafsiran

Ayat ini menutup Al-Qur'an dengan cakupan yang luas: sumber bisikan jahat yang dimohonkan perlindungan darinya bukan hanya dari golongan yang tak terlihat, melainkan juga dari sesama manusia. Penyebutan dua golongan ini bersama-sama, bukan salah satu saja, menegaskan bahwa kewaspadaan yang diajarkan surah ini berlaku terhadap sumber pengaruh buruk dari mana pun asalnya, termasuk dari sesama manusia sendiri.

Yang paling tajam dari penutup ini adalah pembalikan kedudukan satu kata. Sepanjang lima ayat sebelumnya, kata "manusia" selalu menyebut pihak yang dipelihara, diperintah, disembahi, dan dilindungi. Di kalimat terakhir kitab ini, kata yang sama menyebut salah satu sumber bahayanya. Yang berlindung dan yang dimintakan perlindungan darinya ternyata berasal dari golongan yang sama, dan pembalikan itu terjadi tepat di kata terakhir.

Sebagai penutup seluruh Al-Qur'an, ayat ini juga menerangkan sesuatu tentang bentuk kitab ini. Ia tidak berakhir dengan ringkasan ajaran, tidak dengan janji, dan tidak dengan ancaman. Ia berakhir dengan permohonan yang diucapkan seorang diri, tentang bahaya yang paling kecil bunyinya, yang bekerja di tempat paling tersembunyi, dan yang sebagiannya datang dari orang-orang di sekelilingnya sendiri. Bandingkan dengan 113:5 yang juga ditutup oleh sesuatu yang tersimpan di dalam dada orang lain: dua surah terakhir sama-sama berakhir pada yang paling dekat, bukan pada yang paling besar.

Renungan dan Hikmah

  • Surah penutup ini menyempurnakan pasangan dengan Surah Al-Falaq, jika Al-Falaq memohon perlindungan dari kejahatan eksternal (kegelapan, sihir, kedengkian), An-Nas memohon perlindungan dari kejahatan yang menyusup ke dalam hati sendiri, ditutup dengan pengakuan bahwa sumbernya bisa dari jin maupun sesama manusia. Keduanya sama-sama berakhir pada yang paling dekat dengan seseorang, bukan pada yang paling besar. Kitab ini pun dibuka dengan sebutan yang disandarkan kepada seluruh alam, lalu ditutup dengan bisikan di dalam dada satu orang.
  • Sepanjang lima ayat sebelumnya, kata manusia selalu menyebut pihak yang dipelihara, diperintah, disembahi, dan dilindungi Allah. Di kalimat terakhir kitab ini, kata yang sama menyebut salah satu sumber bahayanya. Yang berlindung dan yang dimintakan perlindungan darinya ternyata berasal dari golongan yang sama, dan pembalikan itu terjadi tepat di kata paling akhir. Tidak ada kata lain di dalam surah ini yang menempati dua kedudukan berlawanan seperti itu.
  • Penyebutan manusia sebagai sumber bisikan bukan tambahan yang muncul tiba-tiba di penutup. Akar kata yang dipakai untuk membisikkan cuma muncul di lima ayat, dan di salah satunya ia justru menyebut bisikan yang keluar dari diri orang itu sendiri, yang Allah nyatakan diketahui-Nya. Ayat ini hanya menutup pola yang sudah berjalan sejak sebelum surah ini dibaca. Yang dinyatakan bukan tuduhan baru terhadap manusia, melainkan penyebutan terang atas sesuatu yang kata-katanya sudah menyiratkannya.
  • Dua golongan itu disandingkan dengan satu kata sambung, tanpa keterangan mana yang lebih berbahaya dan mana yang lebih sering. Keduanya sejajar. Susunan itu menutup kecenderungan menaruh seluruh kesalahan pada golongan yang tak terlihat, sebab yang terlihat disebut berdampingan dengan yang sama beratnya, dan yang terlihat itu justru yang setiap hari ditemui. Allah menyandingkan keduanya tanpa membedakan bobotnya, dan penyandingan itu menutup kecenderungan menaruh seluruh kesalahan pada yang tak tampak sehingga yang tampak lolos dari perhatian.
  • Al-Qur'an tidak berakhir dengan ringkasan ajaran, tidak dengan janji, dan tidak dengan ancaman. Ia berakhir dengan permohonan yang diucapkan seorang diri, tentang bahaya yang paling kecil bunyinya. Orang yang selesai membaca seluruhnya tidak dibekali kesimpulan melainkan sebuah kalimat pendek untuk diucapkan. Apa yang tersisa untuk dikerjakan seseorang setelah ia selesai membaca segalanya? Yang diberikan bukan kesimpulan melainkan kalimat, dan kalimat itu berupa permintaan, bukan pernyataan.
  • Akar kata untuk golongan yang tak terlihat itu sendiri bermakna tertutup atau tersembunyi. Jadi namanya menyebut sifatnya. Yang disandingkan dengannya justru golongan yang paling terlihat, yang wajahnya dikenali dan namanya diketahui. Bahaya yang sama bisa datang dari yang tak pernah tampak maupun dari yang duduk di sebelah, dan surah ini menolak memisahkan keduanya. Nama golongan yang satu menyebut sifat tersembunyinya, sedangkan yang satunya lagi justru golongan yang wajahnya paling dikenali. Allah menyebut keduanya dalam satu tarikan napas di kalimat terakhir kitab-Nya.